Chapter 3

590 90 0
                                    

--Happy reading--

🌷🌷🌷

Draco tidak keluar dari kamarnya sampai keesokan paginya. Ketika ia akhirnya turun dan telah berpakaian rapi, ayahnya sudah pergi bekerja. Saat memasuki ruang makan, ia menemukan ibunya dan Pansy duduk bersama seperti biasa, meminum teh. Dan Draco hanya bisa mengerang.

Pansy mendongak dan tersenyum lebar. "Drakie-poo! Aku sangat mengkhawatirkanmu tadi malam!"

Draco tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia duduk di sebelah ibunya dan menunggu peri rumah membawakan sarapan untuknya. "Apa kau bermalam di sini, atau apa?" tanyanya pada Pansy, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menaikkan nada suaranya.

"Draco!" tegur Narcissa tajam.

"Tidak, konyol," jawab Pansy, gagal menangkap kekesalan Draco. "Aku baru saja datang beberapa saat yang lalu, lalu ibumu menyarankan agar aku tetap di sini dan menunggumu bangun. Dia ingin menyuruh peri rumah ke lantai atas untuk membangunkanmu, tapi aku menyuruhnya untuk membiarkanmu tidur sedikit lebih lama. Jujur, sayang, kau tidak boleh tidur terlalu larut!"

Melihat saat itu baru pukul delapan lewat seperempat, Draco ingin berdebat bahwa sebenarnya ia belum tidur sama sekali, tapi urung karena ia menyadari bahwa berdebat hanyalah hal yang sia-sia. Peri rumah akhirnya membawakannya sepiring besar makanan, dan Draco langsung menyibukkan dirinya dengan telur dadarnya.

"Well..." Pansy berbicara tiba-tiba.

Kesal karena sarapannya terganggu, Draco memberi Pansy tatapan malas. "Apa lagi sekarang?"

"Apa kau tidak melihat sesuatu yang baru tentangku?" kata Pansy sambil mengibaskan rambutnya.

"Kau menjadi lebih menyebalkan?"

Pansy terkikik keras. "Kau benar-benar menggodaku, Draco!" balasnya, tidak memperhatikan keseriusan komentar Draco. "Maksudku rok baruku. Bagaimana menurutmu?"

Draco mendongak, memaksa dirinya untuk melepaskan pandangan dari salad buahnya. Ia mengerutkan hidungnya saat mengamati Pansy. "Tidak," jawabnya datar, lalu segera kembali ke sarapannya.

Pansy kembali mengeluarkan tawanya yang dibuat-buat. "Kau sangat konyol, sayang! Aku tahu kau bermaksud mengatakan bahwa aku terlihat cantik."

"Yang sebenarnya ingin kukatakan adalah kau terlihat mengerikan dengan warna ungu, Pansy sayang," jawab Draco sinis. "Kau terlihat seperti orang kerdil gemuk, seperti buah prune yang besar."

Memang, Pansy memang terlihat mengerikan dalam pakaiannya sekarang. Rok berwarna ungu prune itu sendiri sebenarnya agak cantik. Sedangkan atasannya yang juga berwarna ungu memiliki bagian dada berpotongan lebih rendah daripada yang disetujui Narcissa, memperlihatkan garis dadanya, dan Draco telah menyadari bahwa Pansy selalu mengenakan pakaian yang sangat ketat dan pendek setiap kali ia berada di sekitar gadis itu. Lengan atasan gadis itu berpotongan pendek, dan bagian lehernya dilapisi dengan manik-manik putih besar. Lalu roknya tampak ketat di bagian perut dan panjangnya hanya beberapa inci di atas lutut Pansy, membuat kakinya yang jenjang dan mulus terlihat.

Narcissa diam-diam telah menatap Pansy sepanjang waktu dalam raut ketidaksetujuan atas pakaian gadis itu. "Pansy sayang," akhirnya ia berbicara, mengabaikan komentar Draco. "Aku tidak yakin apakah rok itu cocok untuk gadis muda sepertimu. Kita bisa menemukan banyak pakaian dalam ukuranmu yang lebih... er, klasik."

Pansy terkikik. "Mrs Malfoy, semua gadis memakai pakaian muggle jenis ini akhir-akhir ini. Ini sedang tren," katanya.

Narcissa tidak menjawab. Dan Draco, yang merasa sudah cukup dengan sarapannya, akhirnya bangkit dari tempat duduknya. "Baiklah, waktunya aku berangkat bekerja. Sampai jumpa saat makan malam, Mother." Ia melirik Pansy diam-diam, bertanya-tanya apakah ia bisa mendapatkan petunjuk bahwa gadis itu tidak akan ada di rumahnya saat makan malam nanti.

Simplicity | Druna | END✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang