--Happy reading--
🌷🌷🌷
Draco merasa tidak pernah ingin masuk ke tokonya lagi. Ia tahu bahwa ia harusnya bertanggung jawab atas kekacauan besar di sana, dan bahwa ia sudah sangat brengsek karena mengatakan hal-hal buruk pada Luna, tapi ia tidak tahu bagaimana memperbaikinya lagi. Jadi ia hanya berkeliaran di sekitar Diagon Alley, tenggelam dalam kekhawatirannya sendiri.
Draco sudah merasa sedikit tenang sekarang dan mulai menyesal telah meneriaki Luna. Gadis itu tidak melakukan kesalahan apapun; dan Draco cukup mengenal keluarga Parkinson untuk mengetahui bahwa apapun masalahnya, mereka-lah yang memulainya. Tapi ia terlalu pengecut untuk mengakui kesalahannya. Ia ingat dengan sedikit kepedihan bagaimana Luna meneteskan air mata. Luna terlihat sangat rentan dan polos hingga Draco tiba-tiba merasa malu pada dirinya sendiri. Ia berusaha untuk tidak memikirkan tangisan Luna. Ia memiliki masalah yang lebih mendesak saat ini.
Hari mulai gelap. Menyadari bahwa ia harus kembali, ia melangkah ke arah Onyx. Kekacauan di sana tidak mungkin dibersihkan. Mungkin mereka hanya akan meninggalkan kotak-kotak itu di sekitar toko sampai stok pakaian yang ada di dalam toko terjual. Itu bukan pilihan, dan Draco tahu bahwa ayahnya akan marah, tapi apa lagi yang bisa dilakukannya? Isi perut Draco seolah turun saat ia mengingat kemarahan Lucius pada malam ia memberitahu ayahnya tentang pemesanan stok baru. Ayahnya akan sangat marah malam ini dan bahkan mungkin mengambil alih toko itu dari Draco.
Sambil merajuk, Draco mencapai tangga depan toko. Ia bertanya-tanya apakah Luna sudah pulang. Ia tidak akan menyalahkan Luna jika gadis itu memilih pulang tepat setelah ia meneriaki gadis itu. Ia membuka pintu, mengira akan melihat kekacauan besar yang telah ditinggalkannya.
Tapi tidak ada apa-apa di sana.
Seluruh toko itu bersih, dan lantainya tampak lebih berkilau dan bersih dari sebelumnya. Toko itu memang tampak lebih penuh dengan pakaian, tapi tidak ada kotak yang bisa ditemukan di mana pun.
Rahang Draco menganga. "Twieki?" panggilnya. Apa yang sudah terjadi? Apakah peri rumah mengembalikan kotak-kotak itu?
Yang mengejutkan, Luna adalah orang yang muncul. Wajah gadis itu merah dan ada bekas jejak air mata di sana, dan Draco dihantam rasa bersalah lagi. Terlihat jelas bahwa gadis itu menangis sepanjang hari.
"Luna? Sedang apa kau di sini? Ini sudah lewat jam kerjamu; kukira kau sudah pulang sekarang."
Luna tidak menjawab. Gadis itu bahkan tidak memandang Draco, hanya menatap lantai dengan tidak nyaman. Draco berpikir bahwa ia sebaiknya meminta maaf, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
Pada saat itu, lonceng berdenting lagi dan Lucius melangkah masuk. Draco menelan ludah. Ia tahu bahwa ia berada dalam masalah sekarang. Untung ia berhasil kembali tepat waktu. "F-Father," Ia tergagap.
Lucius mengangguk. "Aku diberitahu bahwa kiriman stok datang hari ini. Aku ke sini untuk memeriksa seberapa banyak kekacauan yang kau buat di toko." Ia melihat sekeliling ruangan dengan heran. "Dimana itu?"
Draco membuka mulutnya untuk menjawab, tapi ia sendiri tidak tahu jawabannya. Untungnya, Luna melakukannya.
"Semuanya ada di gudang, Sir. Kami menggunakan sihir untuk memperluas gudang dari dalam sehingga kami bisa memasukkan semua kotak. Kami juga telah mengatur ulang semua pakaian yang ada di sini."
Baik Draco dan Lucius tercengang. Lucius terus menatap sekeliling dengan tidak percaya. "Bahkan lantainya juga lebih bersih hari ini," ucapnya, jelas terkesan. "Tapi biarkan aku melihat gudang untuk memeriksa berapa banyak kekacauan yang ada di sana."

KAMU SEDANG MEMBACA
Simplicity | Druna | END✔
Fanfiction[LENGKAP] Hampir dua tahun setelah perang berakhir. Draco Malfoy telah menyelesaikan tahun ketujuhnya di Hogwarts dan sekarang bekerja di toko barunya. Hidupnya sudah tertata... sampai Luna Lovegood muncul, membawa kejutan tak terduga yang mungkin m...