--Happy reading--
🌷🌷🌷
"Tadi malam itu luar biasa," bisik Draco di telinga Luna.
Luna terkikik, terdengar seperti anak kecil yang polos. "Tapi apa orang tuamu tidak marah padamu karena pulang begitu larut?"
"Tidak, aku memberitahu mereka bahwa aku pergi ke pub bersama teman-temanku," jawab Draco. Ia menunduk untuk mencium Luna, tapi gadis itu memundurkan kepalanya.
"Tidak di tempat kerja, Draco. Seseorang mungkin saja akan melihat kita!"
"Aku tidak peduli," jawab Draco, menyeringai.
Luna melepaskan pelukan Draco. "Ada seseorang yang datang."
Benar saja, pintu terbuka dan Pansy melangkah masuk. Ia mengenakan jubah hijau tua dan sepatu hak hitam, tampak anggun dan tenang seperti biasanya. Namun raut cemberutnya hari ini lebih dalam dari biasanya, dan ia menatap Luna dengan tatapan yang lebih sinis saat ia berjalan menuju Draco.
"Err, hai Pansy," sapa Draco canggung.
"Draco! Aku sudah lama tidak melihatmu!" ucap Pansy menuntut dengan suaranya yang bernada tinggi.
Draco mengedikkan bahu. "Aku benar-benar sibuk."
Pansy cemberut, memeluk Draco dan meremas pemuda itu dengan keras. Draco berusaha untuk membebaskan dirinya saat ia melihat wajah Luna yang tampak muram.
"Jadi, apa kau sudah membelikanku gaun untuk kupakai ke pesta ayahmu?"
"Uh... belum."
Pansy cemberut lagi. "Tapi pestanya seminggu lagi!"
"Um, ya, aku tahu..."
Luna berbalik dan mulai membersihkan rak dengan tongkatnya.
"Dengar, Pansy, aku benar-benar sibuk sekarang. Kita bisa bicara lagi nanti, oke?" Draco mencoba mengikuti Luna, tapi Pansy menahan lengannya.
"Jangan tinggalkan aku dulu!" ucap Pansy, menarik Draco mendekat dan menahan pemuda itu. "Aku sangat merindukanmu."
"Aku... juga merindukanmu," ucap Draco berbohong.
"Benarkah itu?"
"Tentu."
"Apa kau bisa menemaniku berbelanja siang ini?"
"Aku harus bekerja sampai sore."
Pansy tidak terlihat senang. Ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sesuatu. "Apa ini?" tanyanya pada Draco, menunjukkan sebuah benda aneh pada pemuda itu.
Draco tampak bingung. "Mana aku tahu?"
"Apa kau belum pernah melihat ini sebelumnya?" tanya Pansy, suaranya menjadi agak dingin.
Draco mengamati benda itu dengan cermat. "Seemacam lonceng kecil. Sepertinya familiar..." Seketika ia teringat di mana ia pernah melihat benda itu. Luna telah memakainya sebagai anting. Rasanya sekarang ia bisa mendengar benda kecil itu berdenting di telinganya bersamaan dengan erangan lembut Luna, dengan tubuhnya menekan tubuh gadis itu dan keduanya bergerak dalam tempo sinkron yang berharga. Seulas senyum kecil terlukis di wajahnya, sampai ia menyadari bahwa Pansy memperhatikannya dengan sangat hati-hati. "Er, kurasa itu milik Luna. Sepertinya aku pernah melihat dia memakainya sekali atau dua kali. Um, ya, aku akan mengembalikan itu padanya."
Pansy dengan dingin mengepalkan tinjunya. "Aku bisa memberikannya sendiri padanya."
Draco mengangkat bahu tak peduli. "Baiklah, sampai jumpa, kurasa." Ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke seorang wanita muda yang melangkah masuk ke tokonya, tampaknya akan membeli jubah berwarna magenta.
Pansy perlahan berjalan menuju Luna, amarah mendidih di dalam dirinya.
"Oh, halo Pansy," sapa Luna ramah. "Kau terlihat cantik hari ini."
"Diam, kau jalang kecil!" bisik Pansy menggeram.
Luna tampak bingung.
"Jangan kira aku tidak tahu apa yang sedang terjadi," lanjut Pansy. "Kurasa perasaan kecilmu itu agak menyedihkan. Kau tidak benar-benar berpikir bahwa Draco tertarik padamu, kan?"
"Bagaimana jika dia benar-benar tertarik padaku?"
Pansy mendengus. "Jangan terlalu berharap. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di kamar Draco, tapi aku bisa meyakinkanmu, tidak akan ada yang terjadi di antara kalian berdua. Draco dan aku saling jatuh cinta. Orang tuanya memujaku. Mereka hanya menganggapmu sebagai orang yang perlu dikasihani. Suka atau tidak suka, aku dan Draco akan menikah. Tidak ada tempat di Malfoy Manor untuk jenis gadis sepertimu, jadi lebih baik lupakan Draco. Pertimbangkan ucapanku ini sebagai saran untukmu dan mundurlah sebelum terlambat."
Luna tampak sama sekali tidak terlihat kesal atau terkejut dengan hal ini dan malah tersenyum polos. "Kurasa kau tidak mengenal Draco sebaik yang kau pikirkan," jawabnya dengan suara tenang.
Pansy mengatupkan giginya. "Aku tidak punya kesabaran untuk keanehanmu sekarang, Looney. Kau beruntung aku belum memberitahu siapa pun! Aku bisa saja memberitahu orang tua Draco, kau tahu, dan kau harus bersyukur karena aku tidak memberitahu mereka. Aku biasanya tidak sebaik ini, tapi aku bisa melupakan ini jika kau berjanji untuk meninggalkan Draco. Jika tidak, kau sebaiknya berhati-hati, karena aku bisa mengubah semua ini menjadi sesuatu yang sangat berbahaya untukmu." Pansy mencibir pada tatapan Luna yang tidak berubah dan tetap menatapnya tenang.
"Jangan salah paham, Pansy, tapi menurutku kau orang yang sangat tidak percaya diri."
"Apa maksudmu?" geram Pansy dengan marah.
"Maksudku, jika kau benar-benar yakin bahwa Draco mencintaimu, lalu kenapa kau merasa terancam olehku?"
Ini lebih dari yang bisa ditangani Pansy. "Dengar, gadis gila. Ini terakhir kalinya aku mengatakannya. Draco milikku. Dia selalu milikku, dan akan selalu milikku. Tidak ada di dunia ini yang bisa kau lakukan untuk mengambilnya dariku. Dasar gadis pelayan bodoh, kenapa hal semacam ini butuh waktu lama untuk meresap di kepalamu? Oh! Aku tahu, itu karena kau bekerja dengan peri rumah, demi Merlin!" Pansy terkekeh. "Dan bahkan jika Draco tidak mencintaiku, yang tentu saja itu tidak mungkin, aku bisa membuat orang tuanya memaksa Draco untuk menikahiku. Tidak mungkin mereka akan memilihmu daripada aku. Keluarga Malfoy tidak akan pernah membiarkan Draco membuang nama bangsawan mereka dengan menikahi seseorang dari levelmu. Apa kau mengerti, setidaknya tentang hal itu?"
Melihat tatapan tenang Luna yang tiba-tiba menghilang dan berubah serius, Pansy menyeringai puas.
"Ini peringatan terakhirku, dan kau akan sangat bodoh jika tidak menganggap ucapanku serius. Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Sebaiknya kau lupakan perasaan bodohmu sekarang." Pansy kemudian menoleh pada Draco yang berada di bagian ujung toko. "Sampai jumpa, Draco!" serunya. "Aku akan segera menemuimu lagi, oke?"
"Ya, tentu," jawab Draco tanpa minat sambil melangkah ke meja kasir.
"Oh, dan bawalah perhiasan Muggle kecilmu yang murah ini," tambah Pansy angkuh pada Luna. "Aku tidak ingin jariku kotor oleh sampah milik orang-orang dilevelmu." Ia menjatuhkan anting lonceng kecil ke lantai, melempar senyum mengejek, dan berjalan meninggalkan toko.
Luna buru-buru mendekati Draco di meja kasir. "Dia tahu tentang kita."
Draco mencibir. "Siapa, Pansy? Tidak mungkin, dia bukan tipe gadis yang pintar."
"Dia tidak perlu pintar untuk memyadari apa yang terjadi," bantah Luna.
Draco memutar matanya. "Dan jika dia tahu, semua orang pada akhirnya akan tahu tentang kita, bukan?"
"Entahlah. Apa mereka akan tahu?"
"Tentu saja. Luna, aku serius denganmu. Bagiku tidak penting lagi siapa yang tahu tentang kita, atau apa yang akan mereka pikirkan. Aku akan selalu ada di sini, berdiri untukmu." Draco menarik Luna ke dalam pelukannya dan dengan lembut mencium puncak kepala gadis itu. "Jangan khawatir. Tidak ada yang akan mengambilku darimu."
🌷🌷🌷
--To be continued--

KAMU SEDANG MEMBACA
Simplicity | Druna | END✔
Фанфик[LENGKAP] Hampir dua tahun setelah perang berakhir. Draco Malfoy telah menyelesaikan tahun ketujuhnya di Hogwarts dan sekarang bekerja di toko barunya. Hidupnya sudah tertata... sampai Luna Lovegood muncul, membawa kejutan tak terduga yang mungkin m...