--Happy reading--
🌷🌷🌷
Segera setelah Luna mencapai Onyx keesokan paginya, ia melompat ke arah Draco dan melingkarkan lengannya di leher pemuda itu. Draco tampak terkejut. "Pagi, senang bertemu denganmu juga, Luna." sapa Draco.
"Gaun itu," mata Luna berbinar. "Itu indah. Aku menyukainya. Terima kasih, Draco!"
Draco merapatkan tubuh Luna ke tubuhnya, memeluk gadis itu seerat mungkin. Ia merasakan tubuh Luna lembut saat disentuh, dan terasa hangat dan nyaman. "Aku senang itu membuatmu bahagia," jawabnya, tampak sedikit malu.
"Tapi aku tidak bisa menerimanya, kau tahu. Terima kasih sudah memikirkanku, kau tidak tahu seberapa berartinya—"
"Tunggu," sela Draco, menarik diri dari Luna. "Apa maksudmu kau tidak bisa menerimanya?"
Luna ragu-ragu. "Bukan ide yang baik bagiku untuk menyimpan gaun itu, kan? Bagaimana dengan Pansy?"
"Abaikan Pansy!"
"Tapi tetap saja... aku khawatir segalanya tidak akan sesederhana itu."
"Luna, aku memberikan gaun itu padamu karena tidak ada orang lain yang pantas memakainya selain kau," jawab Draco tegas. "Tentang Pansy, aku yang akan mengurusnya, oke?"
Meskipun Luna tahu ini tindakan salah untuk menerima gaun Pansy, ia tidak bisa menahan perasaan lega karena Draco ingin ia yang memiliki gaun itu. "Kau yakin?" tanyanya, terutama untuk meringankan rasa bersalahnya.
"Gaun itu seolah-olah dibuat untukmu, dan kau harus berjanji padaku bahwa tidak ada orang lain yang akan memakainya."
Senyuman lebar menghiasi wajah Luna. "Aku berjanji. Terima kasih, Draco. Ini benar-benar membuatku senang."
Draco menyeringai malu. "Bagus. Sebaiknya kau memakainya di pesta ayahku pada tanggal dua belas Juni."
"Apa? Maksudmu... aku tidak bisa datang ke pestamu, Draco," protes Luna.
"Kau bisa, dan kau harus melakukannya," Draco bersikeras.
"Tapi itu berlebihan, Draco. Orang tuamu tidak akan menginginkanku di sana, dan belum lagi keluarga Parkinson."
"Kau akan menjadi tamuku. Aku ingin kau di sana. Lagipula, ayahku tidak keberatan jika aku mengundang karyawan."
Kata terakhir seakan membuat perut Luna tenggelam, menyadari bahwa hanya itulah dirinya bagi keluarga Malfoy.
Draco menyadari raut wajah Luna dan buru-buru meyakinkan gadis itu, "Tapi kau lebih dari itu, tentu saja."
Wajah Luna tampak cerah kembali. "Kalau begitu, aku akan datang."
Luna mengulurkan tangan dan memberi Draco pelukan hangat lagi. Dengan senang hati Draco balas melingkarkan lengannya di sekeliling Luna, menghirup aroma rambut gadis itu. Luna merasakan sapuan lembut pipi Draco di pipinya. Ia merasa seolah-olah ia bisa tinggal di pelukan Draco selamanya, menikmati kebahagiaan yang sempurna ini. Ia merasakan bibir Draco menyentuh kulitnya, mengirimkan riak kegembiraan ke seluruh tubuhnya. Ia juga merasakan pipi Draco di sudut bibirnya, dan kemudian tiba-tiba bibir pemuda itu sudah menempel di bibirnya.
Luna tidak tahu berapa lama ciuman itu berlangsung, tapi baginya ciuman itu tampak terasa sangat lama. Ia merasakan lidah Draco ada di dalam mulutnya, tapi tiba-tiba perasaan takut membuat ia menarik diri.
Draco terlihat kecewa. "Maaf," gumamnya. "Aku hanya..."
"Tidak. Aku, uh, kurasa bukan ide yang baik untuk melakukannya di sini." Luna melepaskan diri dari pelukan Draco dan mundur.

KAMU SEDANG MEMBACA
Simplicity | Druna | END✔
Fanfiction[LENGKAP] Hampir dua tahun setelah perang berakhir. Draco Malfoy telah menyelesaikan tahun ketujuhnya di Hogwarts dan sekarang bekerja di toko barunya. Hidupnya sudah tertata... sampai Luna Lovegood muncul, membawa kejutan tak terduga yang mungkin m...