Chapter 13

510 69 1
                                    

--Happy reading--

🌷🌷🌷

Pansy melangkah masuk ke toko Onyx, membuat lonceng di pintu berdenting. Hari ini ia merasa meluap-luap dengan kegembiraan. Setelah hari-hari yang panjang dan menyedihkan tanpa Draco, ia akhirnya bisa melihat dan memeluk pemuda itu lagi. Ia berharap Draco gembira seperti dirinya setelah mendengar kabar bahwa ibunya telah memaafkan pemuda itu. Ia sedikit marah karena Draco tidak muncul di acara minum teh dan bahkan tidak menghubunginya sama sekali, tapi sekarang setelah pagi datang, ia rela melupakan segalanya yang telah terjadi. Pansy tidak ingin argumen bodoh lain mengambil Draco darinya lagi.

Tapi di mana Draco? Pansy memandang keempat sudut toko tapi tidak dapat menemukan pemuda itu di mana pun. Toko itu benar-benar kosong, padahal Draco kemungkinan telah membukanya beberapa menit yang lalu, tapi pemuda itu hari ini tidak terlihat seperti biasanya. Luna juga tidak ada, bahkan peri rumah juga tidak.

Pansy berjalan mendekati meja kasir dengan angkuh, kesal karena terabaikan. Ia hampir tersandung kerdus besar berlabel 'Rejects' dan merengut pada kerdus itu. Ia meluruskan rok hitam berenda yang dipakainya, yang dibelikan Draco untuknya di tahun ketujuh mereka di Hogwarts. Rok itu selalu menjadi favoritnya, dan Pansy sangat berhati-hati dalam berpenampilan cantik untuk Draco hari ini. Ia membiarkan rambutnya tergerai dan mengenakan sepatu hak berpayet dan gelang hitam besar. Ia dengan buru-buru meluruskan rambutnya di cermin sakunya untuk memastikan bahwa ia terlihat sempurna, dan kemudian memanggil nama Draco.

Tidak ada yang menjawab.

"Drakie-poo?" Pansy cemberut. "Ini aku, kau dimana?" Pada saat itu, Pansy mendengar seseorang ber-apparate di belakangnya. "Draco! Kau tidak tahu betapa bahagianya aku..." Ia berhenti berbicara ketika ia menyadari bahwa itu hanya peri rumah. "Uh, kau!" Ia merengut. "Di mana Draco-ku?"

"Maaf, Madam," peri rumah itu tergagap, membungkuk. "Master Draco ada di gudang. Twieki akan segera memanggil Master Draco." Ia membungkuk lagi.

Pansy mengernyitkan hidungnya. Kemudian, menyadari bahwa peri rumah itu membawa kotak di tangannya, ia menghentikan peri itu. Mungkinkah kotak itu berisi hadiah untuknya? Apakah Draco bermaksud mengejutkannya dengan memberi hadiah untuk menebus pertengkaran mereka? Mungkin itu sebabnya Draco tidak muncul di acara minum teh kemarin! "Apa yang kau bawa itu?" Ia bertanya dengan penuh semangat.

"Ini paket seragam dari Mr Malfoy, Madam," cicit peri rumah itu. "Ini untuk Miss Lovegood."

Wajah Pansy berubah cemberut. "Aku yang akan menerimanya," hardiknya, mengambil kotak itu dari tangan peri rumah. "Kau pergi dan panggil Draco. Aku akan memberikan ini pada Luna saat dia tiba."

"Terima kasih, Madam," kata peri rumah itu, membungkuk lalu pergi.

Pansy mengernyitkan hidungnya saat ia membolak-balik kotak itu. Dimana Luna? Beraninya datang terlambat! Memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Pansy membuka kotak itu dan tersentak.

Seragam itu indah. Warnanya biru periwinkle dan terbuat dari sifon. Garis lehernya berpotongan bulat, dihiasi dengan renda. Bagian bawahnya nampak jatuh dengan lembut dan ada renda di pinggul yang dibentuk menjadi pita.

Pansy menatap pakaian itu dengan perasaan campur aduk antara kagum dan jengkel. Mendengar langkah kaki Draco mendekat, ia buru-buru merapikan kembali kotak itu dan mencoba yang terbaik untuk terlihat senormal mungkin. "Draco!" Ia memekik ketika pemuda itu muncul, ia berlari ke arah Draco dan memeluk bahu lebar pemuda itu.

Draco membeku, tampak terkejut. "Pansy? Apa... apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa kau tidak tahu? Aku dan ibuku datang ke rumahmu untuk minum teh kemarin sore dan kami semua sudah berbaikan lagi! Di mana kau kemarin? Kami semua menunggumu, tapi kau tidak muncul. Oh, Draco! Aku senang bertemu denganmu lagi! Kau pasti sangat merindukanku!"

Simplicity | Druna | END✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang