--Happy reading--
🌷🌷🌷
Wajah Luna dan Draco tampak memerah saat mereka keluar dari kereta. Draco tidak berani berbicara dan hanya mengikuti Luna keluar dari stasiun yang kotor. Ia tidak bisa menahan diri untuk melirik Luna berkali-kali dan tiba-tiba menemukan gadis itu memergoki tatapannya, yang mana membuat mereka berdua tersipu dan saling memalingkan muka, dan kembali mengulangi hal itu beberapa saat setelahnya.
Draco tidak tahu apa yang terjadi pada mereka berdua, tapi ia tidak yakin apakah ia benar-benar ingin hal ini berhenti.
Ketika mereka berada di bawah sinar matahari sekali lagi, Draco menghela napas lega, merasa lebih sejuk dan lebih ringan. "Cukup panas hari ini untuk cuaca di bulan Mei," ucapnya membuka suara.
Luna mengangguk, melirik jubah yang dikenakan Draco. "Kau seharusnya mengganti pakaianmu dengan sesuatu yang lebih santai," komentarnya.
Draco menoleh melihat pakaian Luna lagi. "Er, aku suka dress-mu. Maksudku itu... itu cocok untukmu. Kau terlihat sangat... um, menarik."
Luna tersipu dan menggumamkan terima kasih pelan. Mereka tidak berbicara lagi, sampai Draco menyadari bahwa mereka telah berjalan selama hampir dua puluh menit dan belum juga melihat area piknik. Ia mulai lapar sekarang, meskipun ia tahu bahwa apapun yang telah Luna siapkan untuk makan siang mereka mungkin tidak bisa dimakan.
"Jadi, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Draco.
"Sepertinya kita sudah tidak terlalu jauh sekarang," kata Luna.
Draco melihat sekelilingnya, merasa tidak nyaman pada kenyataan bahwa ia belum pernah ke London bagian ini sebelumnya. "Dan di mana tepatnya kita sekarang?" Draco bertanya dengan cemas, mencengkeram tongkatnya di dalam saku jubahnya.
"Kita di East End," jawab Luna.
"Apa? Kau pernah pergi berjalan-jalan di bagian kota ini sendirian?"
Luna mengangkat bahu. "Ini lebih bagus dari yang kau pikirkan."
"Tapi... apa yang ingin kau lakukan di East End London? Para muggle disini biadab, Luna, proletariat paling kotor yang pernah kulihat. Dan jangan mulai memberitahuku tentang tipe penyihir yang tinggal di sini."
Luna tidak menanggapi, mereka terus berjalan ke Brick Lane. Jika Draco tidak begitu lapar dan memiliki tenaga, ia akan memaksa Luna untuk ber-apparate ke bagian kota yang lebih layak. Ia menggerutu pada dirinya sendiri.
Setelah berjam-jam, Luna akhirnya membawa Draco ke tempat yang tampak seperti bukit berlumpur yang dipenuhi cabang-cabang pohon besar dan rumput liar.
"Di sini? Kau ingin piknik di sini dari sekian tempat di kota ini? Di sini, sungguh? Ini tujuan kita berjalan satu jam melintasi kota?" Draco benar-benar tercengang.
"Tunggu sampai kau melihat apa yang ada di atas bukit," kata Luna riang, tidak memperhatikan kekecewaan Draco.
"Apa? Oh tidak, tidak mungkin aku mendaki jalan kotor itu. Ini terlalu panas, dan lagipula, aku sudah sangat lapar. Kita bisa makan di sini saja. Ini jelas bukan yang kuharapkan, tapi ini lebih baik daripada—"
Tapi Luna sudah mulai mendaki. Merasa jengkel, Draco bergegas menyusul gadis itu, menyeret keranjang piknik di belakangnya. Ia mengumpat dengan kesal sambil menyingkirkan cabang dan tanaman liar yang menghalangi jalannya.
Draco tidak tahu bagaimana ia selamat mendaki bukit berbahaya ini, tapi secara ajaib ia berhasil. Setelah menahan beban berat keranjang piknik Luna, panas terik dan sinar matahari, jubahnya yang tebal yang sekarang kotor, dan perutnya yang keroncongan, napas Draco terengah-engah saat ia akhirnya mencapai puncak bukit.

KAMU SEDANG MEMBACA
Simplicity | Druna | END✔
Fanfiction[LENGKAP] Hampir dua tahun setelah perang berakhir. Draco Malfoy telah menyelesaikan tahun ketujuhnya di Hogwarts dan sekarang bekerja di toko barunya. Hidupnya sudah tertata... sampai Luna Lovegood muncul, membawa kejutan tak terduga yang mungkin m...