Chapter 23

394 45 0
                                    

--Happy reading--

🌷🌷🌷

Dimana dia?

Pikiran Draco telah dipenuhi rasa cemas sepanjang hari ini. Sejak ia bangun, ia hanya memikirkan satu hal. Di pagi hari, ia hanya bisa menunggu matahari terbenam. Ia telah mondar-mandir berulang kali, pikirannya berpacu dengan rasa gugup dan rasa bersemangatnya. Dan sekarang malam akhirnya telah tiba, namun gadisnya masih belum muncul juga.

Sekarang Draco mondar-mandir di sekitar taman yang dihias dengan ornamen mewah, ia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Peri rumah yang membawa piring perak berisi hors d'oeuvres berhenti di depannya, tapi Draco menggelengkan kepalanya. Ia terlalu gugup untuk makan sesuatu. Tiba-tiba terlintas dipikirannya apakah ini ide yang baik untuk mengundang Luna dan mengumumkan hubungan mereka dengan cara ini? Atau apakah yang dikatakan Luna benar bahwa ini akan menjadi bencana? Gadis itu lebih pintar dan lebih tanggap daripada dirinya; apakah ia telah mengambil keputusan bodoh dengan mengatur ini semua? Ia tahu bahwa semua orang akan kecewa, tapi ia mengabaikan detail kecil itu, dan sekarang ia memikirkannya dengan jelas, tidak mungkin ini akan berakhir menjadi bencana, kan?

Luna selalu membuat kenyataan terlihat kabur. Gadis itu membuatnya merasa bahwa segala sesuatu akan berjalan mudah, dan tidak ada yang salah. Sekarang, ia bisa melihat bahwa ia telah mengambil sesuatu yang beresiko dan bodoh, dan sangat mungkin hal ini akan merusak ulang tahun ayahnya. Kini ia tidak lagi merasa berani tanpa Luna di sisinya.

Terkubur dalam pikirannya, Draco merasakan lengan yang familiar melingkari bahunya. Aroma parfum yang kuat langsung membuatnya sadar bahwa itu adalah Pansy, dan ia refleks beringsut menjauh dari sentuhan gadis itu.

"Drakie-poo!" Pansy merengek keras dengan suaranya yang menyebalkan. "Aku sangat merindukanmu beberapa hari terakhir ini!"

Memberontak, Draco menarik diri dari cengkeraman Pansy. "Hm," gumamnya tanpa minat sedikit pun.

Pansy mengerutkan kening. "Apa kau tidak ingin memujiku bahwa aku terlihat cantik?" Ia cemberut, tidak menyadari betapa kekanak-kanakan dan bodohnya ia terdengar.

"Tidak," jawab Draco datar.

Pansy terkikik keras, dengan main-main memukul Draco. "Kau sangat bodoh!" serunya dalam upaya yang jelas untuk menarik perhatian pemuda itu. "Tapi serius, apa pendapatmu tentang gaunku?"

"Gaun itu indah," jawab Draco jujur, melirik gaun berwarna plum yang menutupi tubuh tak berbentuk Pansy. "Tapi seperti yang selalu kukatakan, kau terlihat mengerikan dengan warna ungu."

"Draco, kau benar-benar suka menggodaku!" Pansy memekik lagi dengan sikapnya yang menjengkelkan. "Kau tahu bahwa ungu adalah warna favoritku. Dan ini salahmu karena aku tidak punya pakaian lain lagi untuk dipakai ke pesta, kau berjanji akan membelikanku sesuatu tapi kau tidak melakukannya!"

Pansy mengedipkan bulu matanya ke arah Draco seolah mengisyaratkan sesuatu, tapi itu hanya membuat gadis itu terlihat lebih bodoh. Draco melirik gaun Pansy lagi, mengernyitkan hidungnya. Luna akan terlihat memukau memakai gaun itu, tapi sebaliknya, gaun itu hanya membuat Pansy tampak lebih kurus dan tidak menarik daripada yang biasa gadis itu lakukan. Pansy juga memakai riasan berlebihan seperti biasanya, sesuatu yang selalu membuat Draco kesal.

Merasa sudah cukup berhadapan dengan Pansy, Draco berbalik dan akan berjalan masuk ke dalam rumah, di mana ia akan menunggu Luna tiba. Namun, Pansy meraih lengannya dan membalikkan tubuhnya. "Kemana kau pergi?" tanya gadis itu.

"Bukan urusanmu."

Pansy mulai cemberut lagi. "Di mana hadiahku, Draco?"

Draco bingung. "Hadiah apa?"

Simplicity | Druna | END✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang