--Happy reading--
🌷🌷🌷
"Luna, ini hal paling bodoh yang pernah kudengar! Kau pasti tidak serius! Pesta ulang tahun Lucius Malfoy?"
Luna mengangguk sambil mulai mengeringkan rambutnya yang basah. Ginny, tiba-tiba muncul di pintunya saat ia sedang bersiap-siap untuk ke pesta.
"Kenapa kau ingin datang ke pesta itu? Aku tidak bermaksud kasar, tapi apa kau benar-benar berpikir mereka menginginkanmu di sana?" ucap Ginny, tampak jengkel.
"Draco menginginkanku. Aku tidak peduli dengan yang lain."
Ginny tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Itu. Cukup sudah! Aku tahu sejak awal kau bekerja di sana adalah ide yang buruk. Tapi ini sudah keterlaluan. Kau tidak bisa begitu saja percaya bahwa Draco Malfoy menyukaimu!"
"Tentu saja dia menyukaiku," jawab Luna tenang.
"Kau hanya tidak mengenalnya sebaik aku. Malfoy adalah orang yang kejam, tidak peka, dan menjengkelkan. Kurasa dia hanya mencoba mengerjaimu. Dia akan mempermalukanmu di depan semua orang, dan mereka semua akan menertawakanmu karena kau benar-benar datang."
"Ginny, pernahkah kau berpikir bahwa dia mungkin telah berubah? Dia jauh lebih dewasa daripada di masa lalu. Percayalah, aku mengenalnya."
Ginny memutar matanya. "Dan tolong katakan, bagaimana kau tahu bahwa dia bukan bajingan sombong yang kita kenal di Hogwarts? Lebih tepatnya seberapa baik kau mengenalnya?"
Luna memejamkan mata dan menghela napas, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Aku mengenalnya dengan sempurna."
"Kau tidak bisa mengenal seseorang dengan sempurna hanya dengan bekerja di satu tempat yang sama dengan mereka. Lalu katakan dengan jujur, bagaimana dengan Neville? Dia menawan dan baik dalam segala hal. Terlebih lagi, dia memperlakukanmu dengan luar biasa."
"Itu benar," Luna setuju. "Tapi dia bukan Draco. Kau tidak akan mengerti, Ginny."
"Baik. Kau benar dalam hal itu, aku tidak akan pernah mengerti bagaimana kau bisa memilih Malfoy daripada Neville yang telah menjadi sahabatmu selama bertahun-tahun sekarang."
Ginny dengan masam menatap Luna saat temannya itu mulai merias kelopak matanya. Ini jelas tidak terlihat seperti Luna yang ia kenal. Ia tahu ia harus segera berbicara menggunakan akal sehat dan menghentikan Luna dari membuat kesalahan bodoh seperti ini, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Neville mengkhawatirkanmu. Sangat khawatir. Itu sebabnya dia mengirim surat padaku dan menyuruhku datang ke sini. Kenapa kau berhenti menulis surat padanya, Luna?"
Luna mengangkat bahu. "Aku terlalu sibuk, aku menghabiskan sebagian besar waktuku jalan-jalan bersama Draco, kau tahu. Mood untuk menulis surat pada Neville belum benar-benar muncul sejak itu."
"Apa kau marah pada Neville karena sesuatu? Serius, apa yang terjadi? Luna yang asli tidak akan pernah bertingkah seperti ini! Maksudku... Malfoy?"
"Bicaralah apapun yang kau mau, tapi tolong jangan menghina Draco sampai kau benar-benar mengenalnya."
Ginny membenamkan wajahnya di tangannya dengan frustrasi dan menarik napas panjang dan dalam. "Aku sudah memberitahumu sebelumnya, hubungan kalian tidak mungkin berhasil. Aku tidak ingin memberitahumu lagi semua alasan tentang keburukan Malfoy untukmu. Tolong ingat saja, Neville sangat mencintaimu dan kau menyakitinya. Cobalah melakukan hal yang benar, Luna."
"Aku melakukan hal yang benar," jawab Luna tegas. Ia menyelinap ke kamar mandi untuk mengenakan gaunnya.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka," gumam Ginny lemah. "Apalagi karena Malfoy." Ada keheningan yang panjang dan canggung setelah kata-katanya. Tapi kemudian matanya melebar, "Bagaimana kau bisa tahu bahwa Malfoy juga menyukaimu?" Ginny berseru. "Maksudku, apa dia memberimu petunjuk bahwa dia merasakan hal yang sama?" Ia merasa bahwa pertanyaan ini akan jauh lebih baik untuk dikatakan daripada 'bagaimana mungkin kau berpikir bahwa dia tertarik padamu?'
"Aku tahu," jawab Luna singkat dari dalam kamar mandi.
"Kupikir dia bahagia dengan Pansy," ucap Ginny ragu.
"Pansy tidak cocok untuknya, sama seperti Neville tidak cocok untukku."
Ginny selalu tahu bahwa Luna idealis dan memiliki keyakinan yang tidak masuk akal, tapi ia tidak bisa membayangkan bahwa akan menjadi seekstrim ini. Baginya, tampak jelas bahwa Luna akan berakhir dengan Neville, dan Draco dengan Pansy atau pureblood Slytherin kotor lainnya. Namun, ia sangat mengenal Luna, tidak terlalu mengejutkan bahwa Luna akan mendambakan pasangan yang mustahil. Tidak mengherankan bahwa Luna menginginkan sensasi semacam ini dalam hidupnya, dan mungkin lebih menarik bagi Luna untuk berhubungan dengan seseorang secara random daripada menetap dengan seorang teman lama seperti Neville. Tapi Ginny menganggap ini terlalu jauh. Luna melewati batas antara kenyataan dan fantasi kekanak-kanakannya.
Luna melangkah keluar dari kamar mandi. "Bagaimana penampilanku?" Ia bertanya dengan gugup.
Ginny mendongak dan matanya melebar karena terkejut. "Benar-benar cantik," ucapnya jujur.
Luna tampak mempesona. Gaun ungunya yang panjang membuatnya tampak seperti seorang putri, seolah-olah ia biasa mengenakan gaun yang begitu indah setiap harinya. Bagian leher berpotongan rendah, memperlihatkan leher mulus Luna. Korset gaun itu diikat erat, menonjolkan lekuk tubuhnya. Di bagian bawah menjuntai dengan bebas ke lantai, berkilauan dengan permata. Ujungnya dilapisi dengan renda mawar sutra yang elegan. Luna juga menata rambutnya dengan bantuan sihir penata rambut, dan dengan hati-hati menempatkan semprotan lilac segar di sana.
Ginny dipenuhi dengan simpati yang mendalam saat ia membayangkan Luna muncul di Malfoy Manor, hatinya terasa hancur. "Tolong, pikirkan untuk terakhir kalinya sebelum kau melakukan ini," pintanya. "Aku seperti ini untuk kebaikanmu sendiri. Aku tidak ingin kau dipermalukan."
"Ini akan baik-baik saja," Luna meyakinkan Ginny dan tersenyum. "Draco menginginkanku di sana."
Ginny sama sekali tidak yakin. Ia menghela napas, menyadari bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah Luna dari 'patah hati'. "Dan bagaimana menurutmu, bagaimana reaksi orang tua Malfoy? Kau tahu, tentang dirimu dan Malfoy? Bagaimana reaksi Parkinson?"
Luna mengangkat bahu. "Mungkin tidak akan baik, tapi mudah-mudahan pada waktunya nanti mereka akan menerima kami bersama."
Perasaan Ginny seolah tenggelam di perutnya. Mengapa Luna begitu yakin bahwa gadis itu dan Draco akan berakhir bersama? Keyakinan itu hanya akan membuat Luna lebih sulit untuk mengatasi patah hati begitu ia menyadari bahwa hubungan ini tidak akan pernah bisa berhasil.
"Baik. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menghentikanmu. Pergilah ke pesta kalau begitu. Aku berharap kau beruntung, sungguh." Ginny menelan ludah, rasa khawatir tumbuh di dalam dirinya. "Tapi tolong, bisakah kau berjanji padaku satu hal saja?"
"Apa itu?"
"Jika... jika tidak berhasil... jika tidak berjalan seperti yang kau bayangkan... tolong berjanjilah bahwa kau akan menulis surat lagi pada Neville?"
"Tentu," jawab Luna.
"Dan, berjanjilah padaku... berjanjilah padaku bahwa kau akan mempertimbangkan kembali lamaran Neville?"
Luna terdiam sejenak saat ia mengingat semua kata-kata Ginny. "Hanya jika ini tidak berhasil," ucapnya. "Dan itu tidak akan terjadi."
Ginny tidak sepenuhnya lega. "Oke. Kuharap juga tidak, tapi janji?"
"Aku berjanji untuk mengirim surat pada Neville dan memikirkan kembali untuk menikah dengannya jika hubunganku tidak berhasil dengan Draco," ucap Luna berjanji.
Ginny menarik napas dalam-dalam. Ia sangat khawatir tentang pesta ini. "Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu kalau begitu, oke? Berhati-hatilah."
Ginny memeluk Luna, yang mulai merasa gugup sekarang karena ia benar-benar akan pergi ke Malfoy Manor sebagai kekasih Draco. Ginny memberi tatapan simpatik untuk terakhir kalinya saat kedua gadis itu meraih segenggam bubuk floo. Ia melangkah ke perapian lebih dulu, menyebarkan bubuk di sekelilingnya. Begitu ia sampai di The Burrow, ia akan mengirim surat pada Neville.
🌷🌷🌷
--To be continued--

KAMU SEDANG MEMBACA
Simplicity | Druna | END✔
Fanfiction[LENGKAP] Hampir dua tahun setelah perang berakhir. Draco Malfoy telah menyelesaikan tahun ketujuhnya di Hogwarts dan sekarang bekerja di toko barunya. Hidupnya sudah tertata... sampai Luna Lovegood muncul, membawa kejutan tak terduga yang mungkin m...