Kisah sederhana Permaisuri yang tidak di cintai Kaisarnya
_____
Aalice kembali menatap pada Samuel tepat di iris kelam lelaki itu "entah akan ada atau tidaknya masa itu tapi suatu saat ada wanita lain selain Debora yang menguasai hatimu. Aku tidak b...
akhir-akhir ini perutku menjadi lebih sering keram, tapi aku cukup senang karna Xander selalu ada di sampingku.
Namun aku cukup khawatir, karna beberapa orang sudah mulai curiga terhadap kedekatanku dengan salah seorang prajurit yang itu adalah Xander yang tengah menyamar.
Namun aku pikir mereka tidak mengatakan apa-apa pada Samuel karna sampai sekarang tidak ada tindakan apapun dari Samuel, itu membuatku cukup lega.
** "Samuel, aku akan pergi ke kediaman Paman Draco. Aku sudah sangat merindukan Paman dan Bibi"
Samuel tidak langsung mengiyakan perkataanku, dia menyesap cerutunya lalu menghembuskan asapnya perlahan
"Pergilah" ucapnya kemudian
Aku tersenyum tipis padanya lalu segera berbalik. Namun ucapan tiba-tiba Samuel yang cukup tidak ku mengerti menghentikan langkahku.
"Apa kau menikmatinya?"
Pertanyaan ambigu Samuel membuat keningku berkerut
Aku berbalik kembali menghadapnya
"Menikmati? Apa maksudmu?"
"Tak ada, Pergilah segera atau jika tidak kau akan terlambat"
Aku masih memasang raut bingung, namun aku tetap berbalik lalu melangkah keluar
** "Permaisuri yang turun takhta adalah aib, Aalice"
Mendengar suara dingin pamannya Aalice tertegun. Ya hari ini ia tengah mengunjungi kediaman pamannya, satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa
"Bukankah kau ingin mencari tau dalang dari pembantaian ayah dan ibumu? Kita sudah melangkah jauh dan kau se mudah itu untuk mundur?"
"Jangan paksa dia paman!" Xander membuka suara, lelaki itu sepertinya sangat kesal tampak dari tangannya yang mengepal
"Xander, kembali lah pada ayahmu. Lupakan cinta monyet mu pada Aalice karna dia sudah menjadi istri orang dan akan menjadi ibu"
"Persetan dengan takhta permaisuri, aku bisa menjadikannya ratu!!"
"Dengan kerajaan kecil Aleandro?" paman Aalice menarik senyum remeh
Melihat itu Xander bertambah kesal, tampak dari rahangnya yang mengetat
Sementara Aalice dia masih mencerna ucapan pamannya selanjutnya ia mengelus lembut perutnya yang kian membuncit
"Paman.. Jika aku mempunyai masalah maka cabut akarnya?"
"Aku bersyukur kau selalu mengingat kata-kataku" Draco tersenyum lebar
"Tidak Aalice!"
"Jangan ikut campur Xander!!" teriakan Draco mewakilkan kekesalannya pada Xander yang selalu mencoba mempengaruhi keponakannya
"Aalice berhak bahagia, Draco!!"
"Kau pikir dengan menjadi Ratu di kerajaan kecil negaramu dia akan bahagia?! Setelah menjadi permaisuri kekaisaran besar dia malah akan menjadi ratu kerajaan kecil?!"
Aalice masih bergelut dengan pemikirannya, semuanya tumpang tindih dalam otaknya bahkan debat antara Draco dan Xander tak ia pedulikan. Perlahan ia mencoba mengusap kembali perutnya, mengangkat pandangan lurus ke depan dengan sorot mata datar
"Ku pikir aku akan selamanya menjadi orang baik.."
_____
Sekembalinya aku dari kediaman paman menuju istana banyak pikiran berputar di kepalaku.
Aku tidak bisa berbuat suatu hal yabg jahat namun ada dorongan lain dari dalam diriku yang memaksaku untuk membalas perbuatan Samuel. Yang ada di kepalaku kini hanya satu, yaitu mencelakai Debora. Namun ruang kecil dalam hatiku selalu membuatku bimbang.
Lama aku melamun menatap kosong jendela kamarku tiba-tiba saja pintu kamarku di buka kasar. Samuel masuk dengan raut penuh amarah dan tak butuh waktu lama kedua tangannya yang kokoh sudah berada di leherku. Iya dia tengah mencekikku
"Apa kau tak mendengar berita yang tengah panas sekarang?" Samuel semakin menekan tangannya
Aku yang sudah sesak nafas berusaha keras melepas tangan kokoh Samuel dari leherku
"Le-lepass" lirihku lemah
"Kau kemarin mengunjungi kediaman pamanmu kan?! kau yang menyusun rencana mempersiapkan para bandit itu, aku benar bukan?!!"
Wajahku memerah dan aku sangat kesulitan bernafas saat itu Samuel segera melepas cekikannya
"uhukk..uhukk uhukk.. Uhukk" Aku terbatuk dan meraup udara rakus kemudian bersuara "Demi tuhan aku sama sekali tidak tau menau hal itu!!"
"Pembohong" Samuel hendak melayangkan tangannya menampar keras pipiku
"Tidak.. Aku mohon"
Namun Samuel terkejut ketika ia mendapati permaisurinya yaitu aku kini malah bersujud di kakinya dan menangis terisak-isak
"Jangan.. itu menyakitkan, jangan.. Aku bersumpah bukan aku, jangan membunuhku aku mohon... ---Akhh"
Belum selesai dengan ucapanku tiba-tiba sajaku, perut yang sudah membuncit itu tampaknya tengah keram, tapi Samuel hanya melihat dengan datar. Alih-alih meneriaki nama tabib dia juga bahkan tak menggendongku untuk segera membawa ku pada tabib. Ia hanya menatap datar aku yang tengah kesakitan di bawah kakinya. perempuan yang tengah mengandung anaknya.
Aku mendongok dengan wajah menahan sakit
"To-longg" nafasku tercekat lalu kemudian aku pingsan di lantai tersebut, di bawah kaki Samuel. Lelaki keras yang bahkan tak mengasihaniku yang tengah merintih kesakitan di bawah kakinya. Lelaki yang di hidupnya hanya ada nama Debora.
_____
"Tak ada yang serius Kaisar... Permaisuri hanya mengalami keram"
Samuel tak menjawab bahkan ia sama sekali tak memasang raut wajah khawatir. Menatap sekilas Aalice yang tengah terbaring lemah kemudian ia pergi
"Dominic!!" Panggil Samuel pada bawahannya ketika ia sudah sampai di ruang kerjanya
"Iya yang mulia?"
"Bagaimana perkembangan kehilangan Debora"
"masih belum di temukan yang mulia"
"Sialan! Kerahkan juga pengawal kita!!"
"Tidak bisa Kaisar.. Para tetua tidak mengizinkan kita ikut campur" Dominic menunduk takut
"Di sini aku Kaisarnya!! panggil penasihat Istana sekarang juga!"
Dominic segera berlalu untuk membawa penasihat menuju tuannya
Samuel berapi-api berani-beraninya ada yang menentangnya?! Di sini ia yang berhak mengatur segalanya!
Berita kehilangan Debora membuatnya kalang kabut, bahkan keram yang di alami Permaisurinya tak membuatnya cemas seperti ini.
Samuel tetaplah Samuel, si bajingan yang hanya memikirkan satu wanita.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.