Sudah 2 hari Rosé dikurung.
Pada pentas seni 2 hari lalu, malamnya Rosé pingsan setelah dicekoki obat oleh Jeffrey dan Jeffrey membawanya ke rumah menggunakan mobil.
Dan disinilah Rosé sekarang. Di ruangan besar penuh dengan cat dan lukisan-lukisan gagal, berhadapan dengan punggung kanvas yang menutupi sebagian tubuh Jeffrey dari arah pandang gadis itu.
Di hari kedua, mulut Rosé sudah tidak disumpal, tapi tidak ada yang ingin Rosé katakan, ia sudah muak, menatap wajah Jeffrey saja rasanya tidak sanggup, ia ingin muntah tiap detik saat harus berhadapan dengan wajah datar Jeffrey yang sedang melukis.
Dia diletakkan di atas kasur tipis, lalu pria itu meletakkan stand beserta kanvasnya di hadapan dia, lalu melukis, dan melukis lagi. 6 jam sehari. Sisanya Rosé sendirian di ruangan itu dengan biskuit dan susu sebagai camilan.
Fakta yang membuat Rosé terkejut: selama dua hari dia diikat dan dipaksa berada di hadapannya saat ia melukis, kadang tanpa busana, hanya sekali Jeffrey pernah melukis dirinya, itupun lukisannya belum selesai. Selain itu dia melukis hal lain, tidak ada hubungannya dengan Rosé.
Dan fakta unik lain, hanya saja kali ini tidak membuat Rosé terkejut, adalah: Jaehyun tidak bisa menutup mulutnya saat ia sedang melukis.
"You know, Rosé? My father once said that hasil kerja seseorang yang jatuh cinta pasti lebih indah." Jeffrey mengambil kuas ukuran yang lebih kecil, melukis dengan sangat pelan, peluh mengalir di wajahnya karena, sial, ruangan ini luar biasa panas. Tidak ada AC, tidak ada kipas, jendela tidak pernah dibuka.
Jeffrey baru di sini selama 2 jam dan dia sudah agak berkeringat, walau Jeffrey tipe orang yang tidak mudah berkeringat, berkebalikan dengan Rosé. Bisa dibayangkan seberapa frustasinya Rosé terikat di ruangan ini selama 2 hari.
Ia melanjutkan cerita(omong kosong bagi Rosé)nya, "bukan cuma pelukis, atau seniman, tapi hampir semua orang yang menghasilkan karya pasti karyanya jauh lebih indah kalau dia jatuh cinta." Mata tajam Jaehyun melirik ke gadis di hadapannya.
"Tapi karena Ayah bilangnya ke gua, kayaknya yang dia maksud itu pelukis, sih, ketahuan dari tata bahasanya."
Rosé bergeming, memilih menatap ke luar jendela. Kedua tangannya dirantai ke kepala ranjang.
Gaun tidur putih tipis membalut tubuhnya, rambut panjangnya dikepang dua oleh Jeffrey tadi pagi.
"Maybe he wanted me to find a girlfriend."
Suara rantai dari tangan Rosé membuat mata Jeffrey kembali melirik tajam. Hanya 3 detik, dan kembali ke kanvas. "I was running out of ideas, until I met you," ucapnya. "You're not just a human being, you're art, Rosé."
Mulut Rosé sudah penuh dengan sumpah serapah, hampir ia muntahkan saking penuhnya, tapi ia lebih memilih menutup mulut, tidak ingin buang-buang tenaga pada orang gila seperti Jeffrey.
"You're so beautiful that I'm inspired to paint beautiful things even more."
Mata Jeffrey melirik Rosé, untuk yang entah keberapa kali, wajar, kan, Rosé mengira ia sedang dilukis? Walau nyatanya tidak. Lukisan yang sedang Jeffrey lukis bertema tanaman.
Satu jam selanjutnya hening.
"Do I look good in my new hair, Rosie?" Tanya Jeffrey, ia mewarnai akar rambutnya dari yang berwarna coklat seperti warna seluruh rambutnya, menjadi warna hitam.
Rosé bahkan tidak meliriknya.
Jeffrey tertawa sendiri setelah bertanya itu. "'Rosie'. Jadi keinget Bang Taehyung." Matanya kembali melirik Rosé yang masih di posisi sama: bersila sambil melihat ke balik jendela. "You have a crush on him?"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐇𝐨𝐭 𝐚𝐬 𝐇𝐞𝐥𝐥❜🎨
Fanfiction𝐑𝐨𝐬𝐞 𝐱 𝐉𝐚𝐞𝐡𝐲𝐮𝐧 ❝Jeffrey Jung is a different type of creep. ❞
