February 16, 22
.
.
Seorang pemuda berparas tampan yang hanya mengenakan celana training berwarna hitam tanpa atasan yang menutupi bagian atas tubuhnya itu membungkuk, bibirnya terbuka untuk mengais pasokan udara yang dirasa semakin menipis.
Tetesan keringat ikut menetes ke tanah akibat posisi pemuda itu yang menunduk. Pemuda yang akan menginjak usia legal dua hari kedepan itu masih sibuk mengatur nafasnya yang ngos-ngosan sebelum teriakan sang ayah membuatnya kembali berdiri tegak.
"Terus berlatih So Junghwan!!!" teriak seorang pria dewasa yang memiliki aura alpha yang begitu dominan.
Disampingnya juga ada seorang wanita yang berstatus alpha, dengan aura yang dominan sekaligus aura dengan sisi lembut disana.
Junghwan segera melangkahkan kakinya untuk kembali berlari. Ia mengitari halaman luas di belakang rumahnya dan sesekali melompati halang-rintang yang sengaja dipasang oleh ayahnya sendiri.
Pemuda yang dua hari lagi akan menginjak usia 17 tahun itu terus memacu langkahnya. Meski keringat mengucur deras dari tubuhnya, ia tak terlalu merasa lelah, fisiknya begitu kuat karena telah dilatih sang ayah sejak kecil.
Junghwan memang melewati masa kecilnya dengan kegiatan yang bisa memperkuat tubuhnya membuat pemuda itu selalu unggul dalam olahraga.
Hanya berlari mengitari halaman rumahnya sebanyak lima puluh kali bukan hal yang terlalu sulit untuknya. Ia juga bisa melewati setiap halang-rintang dengan lincah, satu hal yang ia pelajari dari ibunya.
Junghwan menghentikan langkahnya tepat pada hitungan kelima puluh putaran. Ia berdiri tegak di depan kedua orangtuanya yang sejak tadi memperhatikan di pinggir halaman.
"Aku sudah menyelesaikan lima puluh putaran, dengan berhenti tiga kali tadi" ujarnya membuat sang ibu tersenyum dan sang ayah hanya mengangguk.
"Bagus. Apa kamu merasa semakin kuat Junghwan?"
"Ya ayah. Aku juga merasa tubuhku lebih bugar dari pada sebelumnya"
Ayah Junghwan mengangguk, ia menepuk bahu putranya sekali.
"Istirahatlah sepuluh menit. Setelah itu kamu harus melatih kemampuan beladirimu. Persiapankan diri untuk bertarung dengan ayah nanti"
"Baik ayah" jawab Junghwan sebelum ia memutuskan untuk duduk di tanah. Bersandar di salah satu pohon sembari menegak segelas jus jeruk yang dibawakan ibunya.
Pemuda itu mulai memejamkan kedua matanya yang beriris cokelat. Jantungnya masih berdegup kencang dengan tarikan nafas yang masih terburu-buru.
Meski latihan tadi sudah cukup menguras tenaga dan sepuluh menit lagi harus berlatih beladiri, Junghwan tidak mengeluh.
Pemuda itu begitu memahami betapa pentingnya latihan yang selama ini ia lakukan untuk masa depannya, agar ia selalu bisa mengendalikan dirinya setelah ia mendapatkan second identity nya nanti.
.
.
"Jangan hanya menangkis serangan yang ayah beri Junghwan! Ayo serang ayah. Kerahkan semua tenagamu karna ayah juga akan melakukan hal yang sama"
Mendengar ucapan tegas sang ayah membuat Junghwan segera memberikan serangan-serangan cepat yang menyasar beberapa bagian tubuh ayahnya. Netra cokelatnya menajam dan ekspresi wajahnya semakin serius.
Ibu Junghwan yang berdiri tak jauh dari suami dan anaknya yang sedang bertarung terus memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh putranya.
Wanita itu tersenyum saat Junghwan berhasil membuat suaminya tersaruk mundur ke belakang. Netranya bisa melihat sang anak yang kini terus melangkah maju mendesak ayahnya yang masih berusaha menghindari serangan-serangan yang diberikan Junghwan dengan ekspresi wajah yang tetap tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
MIZPAH
FanfictionMizpah - Ikatan emosional yang kuat antara dua orang yang terpisahkan oleh ruang dan waktu. Kim Junkyu, seorang omega yang merasakan ikatan yang begitu kuat pada seorang pemuda misterius yang pernah sekali ditemuinya. Membuatnya dapat merasakan ras...
