Tanda

76 12 3
                                        

Matahari bersinar terik, bahkan terlalu terik untuk menunjukkan bahwa saat ini masih pukul 09.00 pagi. Aku masih sibuk dengan laptopku ketika Saldan berjalan gamang dari arah gerbang utama menyusulku di warung burjo bang Dedi.

"Ngerjain apa lu?" Tanyanya setelah sampai di meja, meletakkan tasnya kasar sembari duduk di salah satu kursi.

"Ga ngerjain apa-apa, cuma ngumpulin info soal Merbabu."

"Lu serius banget sih, May."

"Gue ga mau karena kurang pengetahuan kita ntar mati masal di sana," Seruku sembari menyesap teh tarik yang sudah mengeluarkan gelembung air di luar gelasnya.

Saldan terkekeh, sembari beranjak berdiri tangannya terulur mengacak pelan puncak kepalaku.

"Anjing."

"Gue mau pesen ayam bali, lu mau?" Saldan menarik resleting tasnya, mengeluarkan sebuah dompet yang tipis nyaris tragis.

"Ditraktir?"

"Iya."

"Anjay, abis jual diri?" Aku terkekeh, menyangga daguku dengan satu kepalan tangan.

"Sialan, gak! Gue abis jual hero."

"Berapa?"

"Gopek," Saldan kembali duduk, menarik tiga lembar dari dompetnya untuk kemudian diangsurkan padaku.

"Apaan?"

"Bawain May, di gue pasti sehari abis."
"Lu kan pinter bawa duit," Saldan menutup kembali dompetnya setelah berhasil memindah tangankan uangnya.

Aku bernafas berat.

"Gak gini juga, besok kalo kita udah ga sekampus lo mau begini sa siapa?"

"Sama bini gue lah," Saldan terkekeh.

"Yakin bini lu bakalan seteliti gue?" Aku melipat uang Saldan, memasukkannya ke dalam dompet khusus yang memang aku siapkan untuk menabung uang yang Saldan titipkan. Sudah sekitar dua juta jika ditambah uang yang baru saja Saldan berikan.

"Iya... Persis!"

"Yakin banget lo?"

"Karena lo yang bakalan jadi bini gue," Saldan tergelak, bangkit dan berlari dari kursinya secepat mungkin demi menghindari pukulan maut dariku yang pasti mendarat jika mulutnya sudah bicara sembrono seperti tadi.

Aku memang sering mendengar candaan Saldan yang seperti itu, bukan hanya satu dua kali, tapi setiap kali kita hanya berdua, maka Saldan akan melontarkan candaan itu. Bagiku itu bukan hal yang membuat pipiku memerah, bukan satu kalimat yang berhasil membuat wajahku tersipu. Aku tidak boleh dan tidak pernah merasa bahwa Saldan serius, jadi selama sepuluh tahun, setiap kali Saldan mengoceh sepertu itu aku hanya akan mengatakan,

"Wong edan!"

Dan jawaban Saldan,

"Gue serius, bego!"

Sudahlah...

Hari itu Saldan benar-benar mentraktirku, membeli tiga porsi ayam bali yang memang Saldan tahu merupakan makanan favoritku di burjo bang Dedi.

Loh???

Iya, jadi bang Dedi dulu memang jualan bubur kacang hijau, tapi semenjak dia kenalin ayam bali sebagai menu baru, ternyata ayam balinya lebih laris. Jadi sekarang ga jualan burjo lagi, jualannya ayam bali. Dan semenjak itu, warung bang Dedi jadi tempat favoritku sama Saldan. Ga juga sih, Saldan sering kesini juga karena ngikutin aku, kalau soal favorit mah dia apa aja doyan, yang penting nasinya banyak. Nasi doang juga doyan.

 Nasi doang juga doyan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


https://i.pinimg.com/736x/d6/aa/31/d6aa317f155f6bd8f2692ee3afe054fc.jpg



"Nanti kalau naik gunung jangan sering ngomong kasar!" Saldan mulai bicara setelah suapan terakhirnya berhasil ditelan.

"Kenapa?"

"Ya namanya di tempat baru, biar setidaknya menghormati penghuni lain di sana."

"Ya udah gue banyakin aja kali ya ngomong kasarnya sekarang, biar pas naik gue udah kehabisan stock omongan kasar."

"Bego," Saldan menoyor kepalaku.
"Puasa dulu misuhnya!"

Aku hanya terkekeh. Sebenarnya ingin banyak bicara, namun takut tersedak karena masih ada nasi di mulutku saat itu.

"Lu udah punya tas gunung?" Saldan menyenderkan punggungnya, merasa ngilu di bagian punggung karena semalam begadang main dota.

"Udah lengkap sih, kurang pasangan doang."

"Bodoh, gue apaan?"

"Pacar ya maksud gue, bukan pawang macan."

"Lah gue ga nolak dijadiin pacar loh, May."

Plakk

Tangan ringanku berhasil membuat Saldan berjingkat memegangi pundaknya. Aku hanya jengah dengan ucapannya, bagaimanapun aku memang seorang perempuan dan dia laki-laki, walaupun aku yakin kalau hubungan persahabatan kita erat tapi tidak menutup kemungkinan satu diantara kita akan terbawa perasaan. Dan itu adalah hal yang tidak pernah aku mau, aku takut menjadi canggung dengannya, aku takut tidak lagi terlihat akrab dengan Saldan seperti ini.

"Gue udah omongin ini matang-matang sama Ozi, Hexa, Naufal terus Aliya juga... Kita berangkat dari rumah gue, ya!" Saldan berselancar di layar ponselnya.

"Terus dengan pembicaraan kalian di belakang gue itu, gue mau ga mau harus setuju, kan?" Omelku yang merasa tersingkirkan.

"Bukan gitu, kalau lu ada ide ya kita rubah lagi."

"Dah ga usah... Gue ngikut aja!"

"Anjir ngambek?" Saldan meletakkan ponselnya di meja, menekan tombol off sebelum kemudian memberikan semua atensinya padaku.

Tidak ada yang tidak mengira kita berpacaran saat itu.

Saldan memang selalu begitu, memberikan semua perhatian padaku yang sering mengomel tidak jelas, mengubah suasana menjadi kembali tenang setelah aku membuatnya panas. Aku tidak menyangkal kalau memang Saldan itu sempurna dalam hal mengerti tentang wanita, tapi...

Lu kenapa pas itu jomblonya lama banget sih anjing?

Lu kenapa pas itu jomblonya lama banget sih anjing?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

https://i.pinimg.com/736x/c3/03/0a/c3030a94c7f40d53ab0aa70886ae708d.jpg

Sebelum 5 CM「COMPLETED」Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang