Menikah dengan gadis yang memiliki penyakit yang hampir tidak bisa disembuhkan?
Karena keterpaksaan keluarganya, Elgran terpaksa harus menikahi Acella untuk kepentingan perusahaan sang Papa. Namun demikian, rasa nyaman begitu cepat tumbuh diantara m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Jangan dipaksa kalo dia udah gamau disentuh sama lo,” katanya sambil mencengkram pergelangan tangan Satya kuat-kuat.
“El...”
Ketiganya terdiam. Acella sempat mematung ketika kedatangan Elgran menyita perhatiannya. Bagaimana laki-laki itu bisa tau keberadaannya dengan Satya disini?
Satya dengan cepat menarik tangannya dan menatap kearah Elgran dengan tajam. Seolah laki-laki itu adalah musuhnya. “Acella, ayo kita masuk,” ucap Satya sedikit menunduk untuk melihat wajah kesakitan perempuan itu.
Belum sempat menjawabnya, Elgran lebih dulu menyela. “Acella, obatnya ada di gue. Ayo ke kelas.” Elgran hendak menggenggam lengan Acella. Namun pergerakannya terhenti kala suara seorang perempuan memanggilnya dari belakang.
“Kak El!”
Dada Acella berdegup kencang lagi. Sungguh, jika ia sedang dalam kondisi sehat dan kuat, sudah dipastikan bahwa wajah perempuan mungil di hadapannya ini sudah habis di tangannya. Sayangnya, kini seluruh tenaganya habis terkuras karna rasa sakit ini.
“Nay, ngapain lo kesini?” Elgran bertanya. Menyadari bahwa istrinya mundur dua langkah darinya kala figur Anaya datang, Elgran sedikit merasa bersalah.
“Tadi aku dengar Kak Acel sakit. Kakak serius sakit? Kalo iya, aku ada obat pereda nyeri kok, ayo kita ke UKS. Kebetulan aku penanggung jawabnya,” tutur Anaya tanpa rasa salah sedikitpun.
Acella yang sudah tak bisa menahan emosi sekaligus rasa sakit ini, memutuskan untuk pergi dari sana. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Ia mengambil langkah pergi dari Elgran disusul dengan Satya dibelakang gadis itu
Elgran dengan cepat mengejar Acella karna gadis itu belum pergi jauh dari posisi mereka. Elgran amat tau apa yang diperbuatnya sangat salah dan menyakiti hati perempuannya. Namun ia benar-benar tak tau harus bagaimana lagi. Kini laki-laki itu terlalu rumit untuk dijelaskan.
“Acella!” Dengan sigap Elgran menggenggam lengan Acella. Membuat gadis itu muak.
Acella terdiam selama beberapa detik. Kemudian dengan mata sayunya, ia menatap mata suaminya dengan tatapan datar dan seakan menunjukkan raut kecewa.
“Ayo ke UKS, please okay? Yang sakit bukan cuma lo..” pinta Elgran dengan frustasi.
Acella berdecih kemudian menghempaskan tangan Elgran. “Peduli apa lo?”
Tiga kata yang hanya mampu keluar dari mulut perempuan itu sudah membutuhkan banyak tenaga. Tak ingin berlama-lama, ia segera pergi meninggalkan Elgran di taman itu. Satya memanggil perempuan itu sebelum ia ikut menyusul Acella.