Kalaupun matahari bisa teriak membangunkan tiap insan lewat cahaya yang dia paparkan, dia pasti akan tetap mengurungkan niat untuk mengganggu Taeyong dan Jaehyun yang masih tertidur pulas, dengan Taeyong yang dipeluk Jaehyun dari belakang sementara Taeyong setia dengan dekapan pada gulingnya.
Taeyong mengerjapkan matanya. Nyawa kembali merasuki tubuhnya yang lelah luar biasa. Tidak ada istilah istirahat yang cukup, apalagi hari ini adalah hari minggu.
Dia lihat tangan Jaehyun masih melingkar erat dan tanpa sadar dia tersenyum lebar, kekehan lolos saat jemarinya memainkan jari-jari Jaehyun yang lemas di atas perutnya.
"Hm?" Nyatanya, dia buat Jaehyun ikut bangun.
"Pagi," sapa Taeyong singkat, "Pijitin pinggangku, dong."
"Nyawaku belum kumpul."
Tetap Taeyong geser tangan Jaehyun agar menekan bagian pinggangnya yang pegal, walaupun kemudian dia pasrah saat yang ada Jaehyun peluk tubuhnya lebih erat. Punggungnya yang berlapis kaos putih tipis merekat erat dengan hangat dada telanjang Jaehyun. Kakinya tak luput dibungkus kaki Jaehyun-dia benar-benar jadi guling hidup sekarang.
"Jam berapa sekarang?" tanya Taeyong, gagal bergerak untuk gapai ponselnya yang terbengkalai di sisi kasur.
"Jam-" jadi, Jaehyun yang ambil ponsel Taeyong, "Jam berapa tuh?"
"Jam lima," balas Taeyong, "Baru jam lima."
"Hm-m."
Taeyong ikut diam, bergeming di dalam pelukan hangat Jaehyun, menyapa pagi yang biasa sunyi kini terisi hembusan nafas merek berdua yang saling mengisi harmoni.
"By the way, what's for breakfast?"
"Me."
Jaehyun terkekeh kecil dengan matanya yang masih mengatup erat. Dia tenggelamkan wajahnya pada surai Taeyong, "Can I?"
Jahyun angkat wajahnya, bertumpu pada siku dan menopang kepalanya.
Dia gigit pipi Taeyong gemas.
"JAEHYUN!" Sampai Taeyong teriak dan sukses kumpul seluruh sadarnya.
"Bon Appetite."
Taeyong tadinya ingin gerakkan tangannya untuk melayang dan memukul Jaehyun, namun seketika energinya tersedot oleh rasa terkejut saat kulitnya dielus lembut, sehingga yang ada dia genggam lengan Jaehyun yang melingkar di pinggangnya.
Jari Jaehyun menjalar tanpa ragu, menyelip ke antara paha telanjang Taeyong, menyingkap kaos putih temannya itu, agar bisa lebih mudah menyapa sahabatnya yang masih tertutup celana dalam.
Dia sisikan kain dalaman Taeyong ke samping, meraba labia vagina Taeyong yang masih kering, mengusap lubang senggama yang semalam dia terjang habis-habisan.
Taeyong menggeliat. Apalagi kala Jaehyun cium lehernya, bahunya, dan tangan lelaki itu memeluk dadanya erat. Hembusan nafas Jaehyun yang mengenai telinganya berhasil menjadi faktor tambahan mengapa vaginanya jadi basah di pagi buta.
Kaki Taeyong sebelah ditarik dan dilingkarkan ke belakang tubuh Jaehyun, sementara tangan Jaehyun masuk ke celana dalam Taeyong, tanpa ragu jari tengahnya menginvasi lubang hangat yang masih mencengkram jarinya erat.
"How to make this lose?" bisik Jaehyun, "Ga longgar-longgar, padahal uda sering dipake."
Pagi, dan sarapan Taeyong langsung ucapan kotor Jaehyun yang langsung membuat dia loloskan desahan.
Jaehyun coba tambahkan jari telunjuk ke dalam lubang Taeyong, masih terasa mustahil bagaimana liang itu mampu menelan penisnya-dia percaya teriakan dan tangisan Taeyong adalah bukti nyata kalau dia berhasil memaksakan hal yang tidak mungkin bisa masuk ke dalam vagina Taeyong.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECRET
Fanfiction[ROMANCE] [GENDERFLUID] secret, after secret, and a secret upon it. [!!] warning: - mature content (tag. penetrative sex, squirts, rough sex, deepthroating) please be wise before clicking this story, be aware of the tags given. if any of the war...
