Sama seperti biasanya, Azelia bersiap ke sekolah meski tidak ada pelajaran lagi. Sebelum berangkat Azelia mengadahkan keduanya tangan berdoa agar hasil ujiannya sesuai dengan ekspektasinya, sesuai dengan usahanya selama ini.
Hari ini pengumuman hasil ujian, bersamaan dengan sidang orang tuanya nanti malam. Nera berubah pikiran, ia menolak rujuk dengan Adlan dan justru mengajukan permintaan cerai dengan alasan mendua di belakangnya.
Gadis itu kembali di patahkan oleh orang tuanya. Mau tidak mau ia diminta hadir dalam sidang. Sulit melakukannya dengan menahan rasa sesak di dadanya. Bertahun-tahun ia lewati bersama meski dengan pola asuh yang berbeda dari umumnya.
"El, gimana pengumuman lo?" Azelia menyempatkan menelpon Azelna saudara kembarnya. Mereka tumbuh dengan pola didik yang jauh berbeda.
Azelna tumbuh dalam lingkungan penuh cinta dari orang sekitarnya. Nera dan Adlan mengirim Azelna di pesantren, mereka menginginkan putrinya berakhlak mulia.
Sedangkan Azelia tumbuh dengan kekerasan Nera dan Adlan. Hanya tuntutan yang ia dapatkan, secuil rasa sayang belum pernah ia rasakan sejak kecil.
Nera dan Adlan hanya sibuk dengan Azelna dan pekerjaan masing-masing. Meski begitu Azelia tetap menyayangi adiknya, ia tidak pernah iri dengannya.
"Lulus dong." Pekik Azelna dengan bahagia.
Azelia ikut lega mendengarnya, bibirnya tersenyum simpul. "Jadi balik kapan? Biar gue jemput,"
"naik taksi aja gue, di bonceng Lo pake motor rasanya kaya mau mati. Merinding gue," Azelna bergidik di sana.
"Kabarin kalo udah keluar," lalu mematikan panggilan sepihak. Tanpa menunda lagi ia bergegas ke sekolah mengendarai mobil Nendra dengan kecepatan rata-rata.
***
Seluruh siswa kelas XII SMA galaxy berkumpul di lapangan bersama dengan para staf dewa guru, sekaligus bapak kepala sekolah yang berdiri di depan mikrofon.
"Selamat pagi, salam sejahtera untuk kalian para siswa kelas XII yang sebentar lagi akan menempuh langkah baru. Sesuai dengan yang sudah di sampaikan wali kelas kalian masing-masing. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian kelulusan yang telah kalian tempuh." Pak Bani sebagai kepala sekolah di sana menyampaikannya dengan gembira.
Mereka saling berbisik menebak hasil ujian masing-masing. Raut wajah bahagia terpancarkan dari para siswa. Dewa guru lainnya hanya ikut tersenyum melihat wajah gembira anak didiknya.
Azelia terlihat berdiri di barisan paling belakang, samar-samar ia mendengar bisikan teman-temannya. Gadis itu tidak memperdulikannya, dalam hatinya ia terus berharap hasil ujiannya tidak mengecewakan.
"Baiklah. Tanpa basa-basi lagi, langsung saja. Saya umumkan bahwa," pak Bani menjeda kalimatnya sesaat membuat jantung para siswa berdegup tidak karuan menantikan hasilnya.
Dengan wajah serius mereka memperhatikan seksama pak Bani di atas sana. Ada yang menutup wajahnya, melipat kedua tangannya berdoa.
"Bahwa kalian semua di nyatakan LULUS!" Bersamaan dengan itu sorakan gembira menggelegar di tengah lapangan. Teriakan haru sekaligus senang dari siswa kelas akhirnya mencuri perhatian siswa lainnya yang tengah melakukan pembelajaran.
Azelia tidak bisa menahan senyum dibibirnya. Ia menutup mulutnya menahan senyum gembiranya dengan menundukkan kepalanya.
"Untuk peringkat tertinggi dari hasil ujian di raih oleh ananda Azelia Valeria sebagai juara satu dengan nilai rata-rata 91,05" ujar pak Bani membaca daftar peringkatnya.
Gadis itu mengalihkan pandangannya menatap pak Bani yang tersenyum simpul menatap dirinya. Tidak ada sorakan atau tepukan tangan dari siswa, hanya dari para guru yang ikut hadir di sana.
"Kenapa bukan gue, sih?!" Jengkel Nida menatap sinis Azelia yang berdiri di sebelah pak Bani. Namun, setelahnya ia bertepuk tangan sebagai apresiasi.
Meski ia tidak menyukai Azelia, tetapi Nida tidak percaya kalau Azelia bermain tangan, terlebih pada murid baru. Selama ia mengganggu gadis itu tidak pernah sekali pun menerima pukulan atau apa pun.
Siswa lainnya memandang Nida dan antek-anteknya heran. Bukannya Nida nggak suka sama Azelia karena nilainya selalu tinggi?
Azelia sedikit kaget mendapatkan tepukan tangan dari Nida, ia bahkan tidak menyangka Nida tahu cara menghargai orang. Ravi yang menyaksikan itu ikut serta memberikan tepukan tangan membuat Mira menatapnya sinis.
Sampai akhirnya semua siswa ikut bertepuk tangan menyalurkan aspirasinya. Memang tidak di ragukan jika Azelia mendapatkan peringkat tertinggi, nilainya saja selalu di atas rata-rata meski ketinggalan pelajaran sekali pun.
"Selamat Azelia. Murid seperti kamulah yang harus di kembangkan. Sebagai apresiasi atas pencapaian kamu selama 3 tahun ini, sekolah memberikan dana sebesar lima juta rupiah." Seru pak Bani mengejutkan semua siswa.
"P-pak, saya rasa gak perlu. Lebih baik dana ini di gunakan untuk kebutuhan SMA galaxy kedepannya," saut Azelia dengan gugup. Ia tidak sepintar seperti yang di bayangkan.
Nida semakin kesal dengan itu. Ia menghentak kakinya dengan kasar dan pergi dari sana di susul dengan antek-anteknya yang kebingungan.
***
"El, Lo dimana? Gue di depan pos satpam, nih," Azelia menetralkan pandangannya mencari saudaranya itu. Ia berdiri di depan pos satpam pondok pesantren Al-Azhar.
"Loh? Lo beneran nyusul gue? Y-yaudah tunggu di situ bentar,"
"Buruan." Sarkasnya.
"Iya. Sabar ngapa sih, salah Lo sendiri gak bilang-bilang. Main nyusul aja, gue kan belum beberes," bantah Azelna mengemasi bajunya ke dalam koper.
"Tinggal aja, baju doang juga. Ntar gue beliin," celetuk Azelia bersandar di mobilnya.
"Enteng banget tuh mulut. Udah ah, gue beberes dulu. Bye," Azelna mematikan panggilan itu lanjut melipat bajunya.
Karena bosan menunggu adiknya itu, Azelia memutuskan untuk berkeliling di sekitar pondok itu. Ia memperhatikan bangunan yang sudah terbilang tua tetapi, masih terawat dengan baik.
Brukk ...
Saking asiknya memperhatikan sekelilingnya, ia sampai tidak memperhatikan jalannya menabrak seorang pria.
"Astagfirullahaladzim," serunya mengambil barangnya yang terjatuh.
"Eh. Sory, sory. Gue bantuin," tuturnya mengutip barang milik pria itu.
"Lo gakpapa, kan?" Tanyanya memastikan.
Pria itu menggelengkan kepalanya yang tertunduk, enggan menatap gadis di depannya. "Afwan saya permisi, Assalamu'alaikum."
"Ehh, tunggu-tunggu," pria itu refleks menepis kasar tangan Azelia yang menyentuhnya.
Azelia terlihat kebingungan dengan pria di depannya. "Kenal Azelna? Dia dimana, ya? Gue tungguin dari tadi gak muncul-muncul,"
Lagi, lagi pria itu menggelengkan pelan dengan kepala menunduk. Azelia terlihat geram dengannya.
"Kalo di ajak ngomong liat orangnya," karena geram Azelia menaiki kepala pria itu, terbilang tidak sopan tetapi begitulah dirinya.
Pandangan keduanya saling bertabrakan. Azelia terpaku melihat bola mata pria itu yang terlihat sangat menenangkan. Begitu pun dengan pria itu juga terpaku sejenak lalu memutuskan pandangannya.
"Sory," lirih Azelia tidak enak.
"Assalammualaikum," pria itu langsung pergi dari sana dengan sedikit gelisah.
Azelia memandangi punggung yang semakin menjauh darinya. "Wa'alaikumsalam," tanpa sadar ia mengucapkan salam itu.
***
Gimana puasa kalian? Bolong berapa kali? Udah bertamu belum, nih?
Bintangnya, Ayuk jangan di lupakan. Makasih sudah mampir.
KAMU SEDANG MEMBACA
63 Hari & Isinya
ChickLit"Kami satu darah dengan dua takdir." Gadis berpostur badan tinggi dengan rambut panjang hitam pekat, siswa SMA kelas akhir. Namanya, Azelia Putri Kencana. Ia mempunyai saudara kembar namanya, Azelna Putri Kencana. Namun ini dari sudut pandang Azeli...
