°° 14 °°

27 6 2
                                        

"gue? Jawab salam? Gak salah nih lidah?" Gumam Azelia mengerutkan dahinya heran dengan apa yang ia ucapkan sembari bersendekap dada.

"Aze! Assalammualaikum," ujar Azelna dengan suara yang cukup keras membuat Azelia tersentak kaget.

"Udah? Ayo balik," sautnya melirik sekilas beranjak kembali ke mobilnya.

"Dosa lo gak jawab salam gue," sarkas Azelna menyusul langkah Azelia di depannya.

Gadis dengan pakaian busananya serta hijab dan cadar yang terpasang pada wajahnya itu memasuki koper dan tasnya ke dalam bagasi mobil. Setelahnya masuk kedalam duduk di samping Azelia.

"Ada yang ketinggalan?" Ujar Azelia memastikan, adiknya ini sering kali lupa membawa barangnya. Meski 6 tahun tidak bersama, ia masih ingat jelas kelakuan adiknya.

Azelna menggelengkan kepalanya, "kayanya, sih, nggak." Jawabnya sedikit ragu merogoh isi tas kecilnya.

"Handphone gue, Ze." Serunya dengan wajah panik.

"Ini," Azelia mengangkat ponsel di tangannya.

"Kok bisa di lo?"

Azelia tidak menjawabnya, ia bersiap menjalankan mobil itu keluar dari pekarangan pesantren. Tepat saat keluar dari gerbang pandangannya kembali bertemu dengan pria yang ia tabrak tadi.

Ia hanya melihatnya sekilas dengan mengemudi mobilnya, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Sedangkan Azelna yang sejak tadi memperhatikan merasa ada yang aneh dengan tatapan Azelia.

"Fai," panggil Ilham dari kejauhan melihat temannya berdiri di depan gerbang. Ia melambaikan tangannya.

"Yah," saut Faizah, salah satu mantan santri yang di minta mengajar di pondok itu. Ia berjalan menghampiri Ilham yang menunggunya.

"Ada apa?" Tanya Faizah saat berada di depan Ilham.

"Di panggil pak kyai," ujar Ilham di angguki oleh Faizah. Ia merangkul Ilham segera mendatangi pak kyai.

***

"Mama mana? Sama papa, kok sepi rumahnya?" Heran Azelna mengamati isi rumahnya yang sunyi.

"Gue udah bilang waktu itu. Mama sama Papa ada sidang malem ini, gue di suruh hadir ke pengadilan." Azelna tercengang mendengarnya. Menatap Azelia tidak percaya.

"Sebenarnya ini udah telat," sambungnya meneguk minumannya.

"Kenapa lo gak bilang ke gue, Ze?" Ujar Azelna dengan nada tinggi.

"Gue udah bilang, lo aja yang denger." Pungkas Azelia tidak ingin terpancing emosi. Ia beranjak menuju kamarnya, berganti baju lalu pergi ke sidangnya.

"Kapan?!" Tegas Azelna mengikuti langkah Azelia dengan amarahnya.

"Makanya kalo gue ngomong dengerin, lo tuh sibuk nyuruh gue masuk pondok, jadi lo gak denger omongan gue. Gak tiap hari Lo pegang handphone, setiap gue telpon dengerin baik-baik gue ngomong apa!" Sarkas Azelia menahan amarahnya.

Ia menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. Dibelakang sana Azelna mengepal tangannya kuat menahan emosinya.

"Lo tunggu di rumah, gue gak lama." Tutur Azelia beranjak keluar menuju tujuannya selanjutnya.

"Gue ikut." Cetus Azelna menghentikan langkah Azelia lalu berbalik memandangnya dengan datar.

"Gak perlu." Saut Azelia dingin.

"Pokoknya gue ikut." Azelna berjalan melewati Azelia yang menatapnya dingin.

"Gak perlu, El. Cukup gue aja," Azelna tidak meresponnya ia terus melangkahkan kakinya membuka kembali pintu rumah.

"Azelna!" Teriak Azelia kehilangan kesabarannya. Ia mendekat adiknya dengan kesal. Memutar tubuh adiknya dengan kasar menghadap dirinya.

"Semua bisa tambah rumit kalo lo ikut. Kita pasti di kasih pilihan ikut Mama atau Papa, dan kita pasti gak serumah lagi." Ujar Azelia menekan perkataannya.

Azelna yang semula menundukkan kepalanya menatap dalam mata saudaranya itu dengan lekat. "ya terus kenapa kalo kita gak serumah lagi?!"

"Kalo ikut ke persidangan, gue jamin Mama sama Papa gak jadi cerai." Teriaknya dengan air mata yang bercucuran.

"Kita masih bisa ketemu kalau pun Mama sama Papa cerai, dan gue di kasih pilihan untuk ikut Papa. Kita bisa ketemuan di cafe atau resto, atau yang lainnya." Sambungnya dengan wajah memelas mengharapkan belas kasih kakaknya agar dirinya ikut dalam sidang.

"Sekali gue bilang gak, artinya nggak El!" Tegas Azelia mencoba tegar.

Azelna beralih menatapnya tajam penuh amarah. "Kenapa Ze? Kenapa semua keputusan rumah ada di Lo? Bahkan keputusan hidup gue sekarang juga ada di lo!" Sentaknya dengan sorot mata penuh dengan amarah. Cadar gadis itu bahkan sudah basah dengan air matanya.

"Lo egois, Ze. Cuma karena gak mau kita pisah rumah lo tega liat Mama sama Papa cerai. Lo egois, Ze! Egosi!" Tekannya dengan nada tinggi.

"Iya! Gue egois karena gak mau kita pisah lagi. Gue egois karena gue gak sanggup nahan kangen sama Lo, El. Gue egois karena gue kehilangan separuh hidup gue saat pisah sama lo. Gue egois!" Sentak Azelia tidak bisa lagi menahan amarahnya.

"Puas lo? Puas, kan?!" Tegas Azelia menekan setiap kata yang ia ucapkan.

Azelia mengatur napasnya dalam, sembari memijat pelipisnya yang sedikit nyeri. Ia lalu membantu Azelna yang terjatuh di lantai duduk di sofa.

"Kalo mau makan gak usah nunggu gue, makan aja. Gue gak akan lama," tuturnya pergi dari sana dengan terburu-buru. Ia sudah sangat terlambat.

Azelia mencap gasnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tidak peduli klakson dari pengendara lainnya. Ia tidak mau lagi menanggung akibatnya jika terlambat hadir.

***

Brakk ...

Pintu persidangan terbuka dengan kasar menampilkan Azelia berdiri di sana dengan napas yang memburu. Mengalihkan perhatiannya saksi yang hadir juga hakim di sana.

"Maaf saya terlambat," ujarnya duduk di antara Mama dan Papanya. Ia memandang keduanya bergantian.

"Bisa kita mulai persidangannya?" Tanya hakim memastikannya. Azelia kompak mengangguk bersamaan dengan kedua orang tuanya.

Persidangan berlangsung seperti bagaimana umumnya. Di sana Azelia hanya diam tidak mengatakan sepatah kata pun jika tidak di berikan pertanyaan.

Pikiran mengarah pada Azelna yang di tinggalkan di rumah seorang diri dengan kondisi seperti itu. Ia takut jika adiknya melakukan hal yang nekat.

***

Prang ...

"Lo gila, Ze?" Ravi menepis kasar pisau buah yang di pegang Azelna.

Ia lantas mengamati wajahnya dengan seksama. "Lo, Azelna? Adik kembarnya Aze?" Tanyanya memastikan dugaannya tidak salah.

Tidak jawaban Azelna menatap kosong ke depan dengan mata yang sebam. Tidak lama kemudian ia kembali menangis dengan meringkuk di antar lututnya.

Ravi yang menyaksikan itu menariknya ke dalam dekapannya, mencoba memberikan ketenangan pada gadis dengan pakaian yang berantakan.

Ia kemari untuk meluruskan persahabatannya dengan Azelia. Tetapi, justru pemandangan seperti ini yang ia dapatkan.

***

Bintangnya, cantik.
Makasih sudah mampir, see you.

63 Hari & IsinyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang