°° 05 °°

32 6 3
                                        

"Tidak. Saya tidak akan menandatangani ini!" Adlan menepis pulpen yang diberikan istrinya.

Pulpen itu jatuh bergulir di lantai, tepat saat Azelia memasuki rumahnya. Ia menatap orang tuanya bergantian, lalu memungut pulpen itu.

Plak ...

Panas. Perih.

Azelia memegangi pipinya meringis dengan wajah tertoleh kebawah.

"Dari mana kamu hah?! Jam segini baru pulang? Anak macem apa kamu?" ujar Adlan penuh penekanan. Menatap tajam putrinya.

Dengan segera Azelia menetralkan wajahnya kembali. Ia menatap Papanya tanpa rasa takut sedikitpun.

"Panti," jawabnya datar memegangi sudut bibirnya yang sedikit berdarah akibat tamparan Papanya.

Adlan semakin terbawa emosinya. Ia mencekam bahu Azelia dengan sangat erat. "Papa cari uang buat sekolah kamu, bukan buat ngasih anak-anak panti itu!" Adlan mendorong tubuhnya begitu saja.

Ia memijat pelipisnya dengan gelisah dan pergi dari sana begitu saja ke kamarnya. Kini tersisa Azelia dan Nera-mamanya.

Nera memandang jengah anaknya sembari bersendekap dada. Ia melihat penampilan Azelia dari bawah hingga atas, memperhatikan sudut bibirnya yang berdarah.

"Ck, banyak kejadian hari ini," lirihnya Nera mengambil map di atas meja lalu pergi begitu saja, meninggalkan putrinya yang menahan perih pada sudut bibirnya.

Azelia tersenyum miris pada dirinya dan orang tuanya. Benar-benar seperti orang asing.

Ia meraih tasnya di sofa masuk kedalam kamarnya dengan membawa semangkuk air hangat untuk mengompres luka dibibirnya. Memang tidak parah, tetapi jika dibiarkan akan menjadi bengkak.

***

"Awwss," ringisnya menempelkan kain basah pada sudut bibirnya.

Azelia mengompres lukanya menghadap cermin. Ia kesal dengan tubuhnya yang lemah.

Puk ...

Azelia membuang kasar kain yang mengompresnya ke lantai. Membaringkan tubuhnya sembari memainkan ponselnya.

"Galaxy high school birthday party," gumamnya membaca pesan dari grup sekolahnya.

Merasa badannya lengket ia beranjak dari tidurnya membersihkan dirinya di kamar mandi. Untung saja di kamarnya ada kamar mandi, ia terlalu malas keluar kamar jika tidak perlu. Apalagi melewati kamar orang tuanya.

Ia memutar musik diponselnya membawanya ke kamar mandi. Merendam dirinya di bak mandi sembari menikmati alunan musik. Sejenak menghilangkan stresnya.

***

Petikan gitar mengaluni balkon kamarnya, dengan semilir angin malam. Pandangannya menatap jalanan ibu kota yang ramai.

"Sory, Ze. Gue ngelanggar pertemanan kita," lirihnya memainkan gitar di pangkuannya.

Bayangan saat pertama kali ia bertemu hingga berteman dengan baik oleh Azelia terputar di dalam kepalanya.

"Gada cinta diantara pertemanan, bahkan sebatas kata."

Nendra menunduk sembari menikmati alunan musik yang ia ciptakan dari petikan gitarnya. Tepat setelahnya azan isya berkumandang. Nendra berhenti memaikan gitarnya mendengar suara azan.

Pintu balkon yang terbuka membuat angin malam masuk ke dalam kamarnya. Gorden putih yang berterbangan ditempatnya. Kamar dengan lampu remang-remang.

Nendra beranjak mengambil wudhu, melaksanakan sholat isya sendiri di dalam kamarnya dengan cahaya yang tidak cukup terang, tetapi mampu membuatnya tenang.

63 Hari & IsinyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang