"Dengan ini hakim memutuskan kalian bercerai." Suara ketukan palu hakim terdengar sebanyak tiga kali.
Saat itu juga persidangan selesai. Nera dan Adlan resmi bercerai. Saksi yang hadir satu per satu meninggalkan ruang persidangan bersamaan dengan para hakim.
Azelia? Gadis itu tertunduk lesu tidak bergerak sedikit pun dari tempat duduknya. Perlahan air matanya menetes begitu saja, bahunya bergetar, ia terisak dalam kesendiriannya.
Ia mengeluarkan semua air matanya. Ia kira tidak akan sesakit ini, ternyata rasa sakitnya jauh di luar ekspektasinya. Azelia semakin terisak hingga terjatuh ke lantai. Bahu gadis itu bergetar semakin hebat, ia tidak bisa lagi menahannya.
Sesakit ini menyaksikan orang tuanya berpisah. Banyak momen ia lewati dengan Mama dan Papanya meskipun tidak pada umumnya. Mungkin ia akan merindukan amarah Nera dan Adlan, teriakan suara mereka yang saling bergema di telinganya.
Bohong jika Azelia membenci Nera dan Adlan. Ia hanya tidak suka dengan sikap keduanya yang bertindak semaunya mereka.
Azelia mengeraskan suara tangisnya, ia tidak bisa lagi berkata apa pun.
"Aze," gumam laki-laki itu mendengar teriakkan dari dalam ruang persidangan. Ia bergegas menuju ke sana, membuka kasar pintu itu.
Penglihatannya langsung tertuju pada gadis yang tertunduk di lantai dengan bahu beergemetar. Ia melangkahkan kakinya perlahan menghampirinya. Dada terasa sesak melihat gadis itu menangis.
Laki-laki dengan kemeja hitam itu berjongkok tepat di samping gadis itu. Dengan ragu tangannya mengusap pelan punggung itu.
Azelia tidak bergeming, atau mungkin tidak sadar ada orang di sebelahnya. Tidak peduli siapa pun itu, ia menjatuhkan dirinya ke dalam dada lelaki itu. Gadis itu butuh pelukan saat ini.
Nendra, dengan cepat memeluknya erat memberikan kenyamanan untuk sahabat kecilnya. Tanpa sadar air matanya ikut menetes, ia mengusapnya kasar. Mendekap dalam gadis itu. Azelia menumpahkan semua yang ia rasakan, tangisnya semakin menjadi dalam pelukan itu.
Ruang persidangan menjadi saksi hancurnya seorang Azelia. Tidak ada lagi tempatnya pulang. Rasa sakit ini membentuk trauma untuknya menjalin sebuah hubungan.
Bersamaan dengan itu Azelna juga ikut hancur mendengar perceraian orang tuanya. Ia menangis menumpahkannya dalam dekap Ravi. Apa ini hadiah yang ia dapatkan setelah dirinya lulus dari pesantren?
Sifat mereka mungkin berbeda, tetapi kalian lupa mereka kembar. Terlahir dari satu rahim yang sama, ikatan batin keduanya sangat erat sejauh apa pun jaraknya.
Meskipun Azelna tidak ikut hadir dalam persidangan ia bisa merasakan perasaan kembarannya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kita pulang, yah? Masih kuat jalankan? Atau mau gue gendong ke mobil?" Tutur Nendra menghapus sisa air matanya Azelia. Gadis itu terlihat lebih tenang dari sebelumnya, hanya saja ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Nendra membantu sahabatnya berdiri ia menggandeng Azelia jaga-jaga kalau tiba-tiba saja gadis itu pingsan karena terlalu lama menangis. Nendra mengantarnya pulang.
Saat sampai di bandara Nendra di kejutkan dengan ucapan Papanya bila orang tuanya Azelia bercerai itu sebabnya Azelia tidak bisa ikut menjemputnya di bandara. Tanpa pikir panjang Nendra langsung menuju pengadilan, saat sampai di pengadilan ia berpapasan dengan Nera dan Adlan. Namun, tidak melihat Azelia.
***
"Lo? Ngapain di sini?" Ujar Azelia dingin melihat Ravi di rumahnya semalam ini. Ia juga tidak melihat Azelna.
Ravi bangkit dari duduknya, ia tersentak kaget saat Nendra muncul dari belakang Azelia. Senyumnya terukir melihat sahabat yang ia rindukan, ia langsung memeluknya.
"Kemana aja Lo? Berbulan-bulan ngilang," serunya menepuk pelan pundak pria itu yang tersenyum simpul padanya.
"Azelna mana?" Ujar Azelia lagi menarik kasar baju Ravi.
"Di kamar. Waktu gue ke sini dia megang pisau buah, gue kira itu lo. Kayanya dia ketiduran abis nangis," jelasnya tanpa melihat mata Azelia.
Azelia membulatkan matanya terkejut mendengar penjelasan Ravi, ia langsung masuk ke dalam kamar memeriksa Azelna. Nendra melihatnya dengan rasa sakit yang ia rasakan.
"Duduk, gue mau ngomong." Titah Nendra pada Ravi.
"Apa?"
Nendra menarik napasnya dalam, "gue tau semuanya. Gue sama Aze pernah bilang waktu itu. Jangan terlalu deket sama Mira, gue tau lo lagi berantem kan sama Aze."
Ravi diam tidak menjawabnya.
"Nih, Lo liat kelakuan Mira." Nendra menunjukkan video dimana ia menuduh Azelia memukul Mira dengan alat perekam. Ravi melongo, ia merasa bersalah telah menuduh sahabatnya. Raut wajahnya tidak karuan.
"Lo kenapa sih? Setega itu nuduh Aze tanpa ada bukti. Kalo udah gak mau temenan sama Aze, jangan gini caranya." Sarkas Nendra kesal dengan kelakuan temannya ini.
"Gue kesini mau ngelurusin semuanya, tapi yang gue temui malah Zelna," ujar Ravi tidak di respon oleh Nendra.
***
Azelia memeriksa tubuh Azelna yang tertidur dengan sisa air matanya. Ia takut adiknya melakukan hal yang nekat.
"Sory, El. Gue gak bisa jagain Mama sama Papanya," lirihnya menatap wajah adiknya. Ia duduk di pinggiran kasur sembari mengelus pelan kepala Azelna yang tertutupi hijab.
"Bukan salah, lo." Saut Azelna, ia hanya pura-pura tertidur tadi. Azelna menatap lekat kakaknya yang membuang wajahnya menatap jendela kamar.
"Gue juga minta maaf gak bisa bantu lo selama ini," tutur Azelna kembali meneteskan air matanya.
Azelia beralih menatap adiknya dengan pedih.
"Maaf gue selalu maksa lo ngelakuin apa yang gue lakuin, maska Lo masuk pondok tanpa gue tau lo kewalahan dirumah." Sambung Azelna menatap sang kakak dengan air mata.
Azelia menarik adiknya ke dalam pelukannya, ia menyangkal air matanya di pelupuk matanya yang siap turun kapan saja. Dalam pelukan itu Azelna merasakan rasa sakit yang saat ini Azelia rasakan.
Ting ...
Notifikasi dari ponsel Azelna melepaskan pelukan keduanya. Azelna menghapus air matanya, lalu membuka ponselnya.
"Gue di suruh balik ke pondok," serunya membaca isi pesan itu.
"Kapan? Bukannya udah lulus?" Kaget Azelia.
"Belum foto ijazah. Mungkin minggu depan, lo mau anterin gue, kan?"
Azelia mengangguk pelan, "iya," ucapnya dengan suara yang mengecil sambil tersenyum simpul kepada adiknya.
Hanya Azelna yang ia miliki saat ini. Nera dan Adlan bahkan tidak pulang ke rumah lebih dulu. Mereka pergi menghilang entah kemana tanpa memperdulikan dirinya atau pun Azelna.
Mungkin karena keduanya tidak tahu jika Azelna pulang saat ini.
***
Ayok bintangnya, dong.
Oh ya, ini part terakhir di wattpad sisanya ada di versi cetaknya. See you ...
Makasih yang udah setia mampir dari awal.
#Maklumin typonya ✌️
KAMU SEDANG MEMBACA
63 Hari & Isinya
ChickLit"Kami satu darah dengan dua takdir." Gadis berpostur badan tinggi dengan rambut panjang hitam pekat, siswa SMA kelas akhir. Namanya, Azelia Putri Kencana. Ia mempunyai saudara kembar namanya, Azelna Putri Kencana. Namun ini dari sudut pandang Azeli...
