Hari ini Azelia kembali masuk sekolah. Gadis itu berangkat lebih pagi dari biasanya, karena orang tuanya sedang di rumah. Dia malas mendengar keributan Mama sama papanya, terlebih pagi hari.
"Aze, kemana aja baru keliatan?" Tegur salah satu siswa kelas sebelah.
"Hibernasi." Ketusnya meninggalkan siswa itu. Ia berjalan menelusuri koridor sekolah.
"Galak amat," gumam siswa itu meratapi kepergian Azelia sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia pun ikut beranjak dari sana.
Begitu sampai di depan kelasnya Azelia langsung begitu saja. Dia mengerutkan keningnya saat bangkunya di tempati orang lain.
Tanpa ragu Azelia menghampirinya. "Minggir, ini bangku gue," ucapnya dengan wajah datar.
Mira menoleh menatap Azelia berdiri di sampingnya. "Hei, Azelia." Desisnya tersenyum kecil.
"Hm. Sekarang minggir, cari bangku lain," pungkas Azelia bersendekap dada.
Mira bercedak sebal lalu kembali di bangkunya sendiri dengan wajah kesal. Kenapa Azelia tidak kaget melihatnya? Menyebalkan.
***
Azelia menatap jengah melihat Mira menghalangi jalannya. Ia menaikikan sebelah alisnya seolah bertanya. Ia lantas mengisyaratkan kedua teman jalan lebih dulu.
"Urusan kita belum selesai, ya, Li! Karena lo, gue di keluarin dari SMA Surabaya." Desis Mira menatap tajam Azelia yang bersandar ditembok sembari menunjuk wajahnya.
"Lo punya kanker otak, ya? Gak pernah mikir. Lo di keluarin karena emang salah lo sendiri, gue cuma membuka fakta yang ada." Tegas Azelia berbisik pada Mira yang menatapnya penuh kebencian.
"Buang-buang waktu gue. Sembuhin dulu kanker lo, baru ngomong," sarkas Azelia pergi dari sana.
"Lo, kenal dia, Ze?" Tanya Ravi melihat keduanya bergantian.
"Dia temen gue waktu di Surabaya, cuma sayangnya di bego jadi di keluarin dari sana." Jawab Azelia tersenyum remeh.
"Ati-ati, Ze." Ujar Nendra memperingati.
Gadis itu mengangguk sekali. "Kalian juga. Terutama lo Vi. Keliatannya dia cewek biasa, sebenarnya dia cewek stres." Seru Azelia menunjuk Ravi.
"Hah? Maksud kalian apaan sih? Gak mudeng gue,"
"Sama bego lo," ketus Azelia di sertai tawaan kecil dari Nendra. Ia tidak tahan melihat wajah konyol Ravi yang kebingungan.
"Gak usah dipikirin. Lo mau pesen apa? Sekalian gue pesenin," tanya Azelia menampol pelan bahu Ravi saat sampai di kantin.
"Samain aja semua," pungkas Nendra di angguki Azelia.
"Mau gue bantuin bawa?" Tawar Ravi mengajukan dirinya sebagai sukarela.
"Gak, makasih. Duduk aja Sono," jawab Azelia pergi membeli makanan.
Ravi menghampiri Nendra yang sudah duduk anteng di kursi kantin paling pojok, atau juga tempat biasanya mereka saat jam istirahat. Bukan mereka yang memilih, tapi para siswa lainnya yang bangga dengan pertemanan mereka.
Tiga tahun mereka berteman, dari awal masuk SMA hingga kelas 12, atau juga akhir kelas SMA. Pertemanan mereka di kagumi oleh siswa lainnya. Lantar selama 3 tahun mereka berteman sampai bersahabat tidak ada kata cinta di antaranya.
Tidak jarang ada siswa yang iri melihat. Terlebih Azelia yang sekarang sudah berubah dari awal masuk dengan penampilan yang culun.
Azelia ikut bergabung dengan kedua temannya sembari membawa nampan berisi makanan mereka.
"Lo beli makanan gak beli minum? Gimana konsepnya, Ze?" Seru Ravi tidak melihat Azelia membawa minuman.
"Sabar kenapa sih? Mata lo buta apa gimana? Tangan gue cuma dua, gantian bawanya," ketus Azelia kesal dengan pikiran temannya yang satu ini.
"Bantuin Sono." Nendra mendorong bahu Ravi.
Ravi meliriknya. "Orang dianya gak mau gue bantuin,"
***
Bel sekolah berbunyi beberapa menit lalu. Nendra dan Ravi juga sudah pulang kerumahnya masing-masing.
Berbeda dengan Azelia yang terlihat sibuk mencari buku di perpustakaan. Ia berniat mengikuti olimpiade yang di adakan satu bulan kedepan.
Setelah menemukan buku yang dicarinya, ia meminjam dan membawanya pulang. Ia juga meminta stampel kepada penjaga perpustakaan. Baru setelah itu ia keluar dari sana.
Brukk ...
Azelia terjatuh dilantai tepat setelah ia keluar dari perpustakaan. Ia bangkit sembari memungut bukunya.
"Makanya jalan liat-liat," pekik Mira senang berhasil menjegal Azelia hingga tersungkur.
"Lo buta, ya? Gak liat kalo jalan," lanjutnya membalik perkataan Azelia padanya.
"Mending gue buta, tapi punya otak. Sedangkan lo, gak punya otak, buta, tuli lagi," ucap Azelia dengan pedas menatap wajah Mira dengan sangat dekat.
"Gue gak buta, ya!" Elak Mira sedikit menyentak.
Azelia menjauhkan wajahnya dengan tersenyum kecut. Ia pergi dari sana. "Btw, pak Wawan mau keluar lo halangin, tuh!" Teriak Azelia yang semakin menjauh.
Mira menoleh ke belakang, ternyata benar. Pak Wawan ada tepat di belakangnya. Ia tersenyum kikuk lalu pergi dari sana.
Azelia menaiki motornya di parkiran, setelahnya ia memakai helm sebagai pelindung kepalanya dari benturan. Siapa tahu saja dia kecelakaan parah saat berkendara.
Azelia menyalakan mesin motornya, dan menancapkan gasnya keluar dari gerbang sekolah. Ia berkendara cukup kencang membuat beberapa pengendara lainnya membunyikan klakson.
Gadis itu tidak langsung pulang kerumahnya, ia mampir ke panti asuhan yang dibelakang sekolahnya. Azelia membawakan sedikit jajanan untuk anak-anak disana.
Ia bermain dengan anak-anak disana cukup lama. Melihat langit yang sudah berubah warna, ia melirik arlojinya.
"Besok kita main lagi, kakak pulang dulu udah sore soalnya." Pamitnya kepada bocah itu.
"Ati-ati, kak Ze."
"Dadah kakak,"
Azelia tersenyum manis melihat wajah ceria milik anak-anak itu. Di saat bersamaan, pengurus panti menghampirinya.
"Makasih, ya, nak. Berkat kamu, Rayhan bisa menerima kepergian orang tuanya, dia juga terlihat lebih baik dari sebelumnya." Tutur pengurus panti itu mengamati Rayhan yang asik bermain dengan teman-temannya.
Azelia lega mendengarnya. Rayhan adalah bocah berusia 4 tahun yang mengajarkan Azelia bersyukur dengan segala hal.
"Bu, Aze pamit, ya. Udah sore, mama sama papa pasti nyariin," pamitnya mencium punggung tangan pengurus panti itu.
Azelia tersenyum kecut diatas motornya mengingat alasannya tadi. Mama sama papa mencari dirinya? Mustahil sekali. Bahkan jika dirinya mati terbunuh orang tuanya itu tidak akan peduli.
***
Bintangnya jangan lupa, ya.
Gimana bab ini? Kalau gak asik, dibikin asik aja.
KAMU SEDANG MEMBACA
63 Hari & Isinya
Chick-Lit"Kami satu darah dengan dua takdir." Gadis berpostur badan tinggi dengan rambut panjang hitam pekat, siswa SMA kelas akhir. Namanya, Azelia Putri Kencana. Ia mempunyai saudara kembar namanya, Azelna Putri Kencana. Namun ini dari sudut pandang Azeli...
