Bucky langsug berlari secepat kilat hingga hampir bisa menyaingi kekuatan Quicksilver. Bucky melalui beberapa lorong dengan noda-noda bercak darah yang aromanya sangat pekat. Ia melirik ke arah jam tangannya yang sudah pecah dan tidak dapat berfungsi kembali akibat aksi bela-dirinya alhasil ia harus mengambil alat komunikasinya yang berupa sebuah chip yang ia sembunyikan di dalam telinga kanan dan kirinya. Sambil berlari, Bucky berusaha menghubungkan chip itu dengan chip yang dimiliki Sam.
Koneksinya selalu terputus karena chip Sam nampaknya tidak aktif entah menghilang atau Sam masih dalam kondisi tidak sadarkan diri namun Bucky tetap berusaha menghubungkannya sambil membuka setiap pintu yang ada di dalam lorong tersebut berharap Sam disembunyikan di salah satu ruangannyaa namun yang ia temukan malah sisa mayat-mayat yang tergeletak berserakan dengan jeruji besi di dekat mereka menandakan bahwa tempat— gedung ini bisa jadi penjara manusia yang sudah tidak aktif.
Tiba-tiba suara tawa datang sayup-sayup dari arah belakang Bucky. Suara itu semakin terdengar dengan sangat cepat!
Tepat Bucky melihat ke arah belakang, sosok Barbara sudah berada tepat 100 meter di belakangnya. Barbara tersenyum lebar dengan tawa nya yang menggelegar ia senang dapat menemukan "mangsanya" itu. Barbara mempercepat langkahnya untuk dapat menghentikan Bucky. Semakin cepat Barbara berlari ke arahnya, semakin cepat pula langkah yang harus Bucky ambil.
"Sial, wanita itu menyeramkan" Ucap Bucky pelan tertutup oleh suara tawa Barbara yang tak kunjung usai.
Semakin lama, Barbara semakin dekat ke arah Bucky. Barbara sudah tidak sabar untuk menghantam Bucky dengan kekuatannya yang di atas manusia normal. Berlari di lorong yang sangat panjang— atau tidak ada habisnya sambil dikejar manusia super bukanlah hal yang menyenangkan bagi siapapun termasuk Bucky. Ia merasa sangat lelah sampai sedikit memperlambat kecepatan larinya.
Apakah ia harus menyudahi perkelahian ini dan menyerah pada Barbara?
Kalimat itu terlintas dalam benak Bucky. Tinggal sedikit lagi Barbara dapat meraih sehelai rambut Bucky. Tiga jengkal lagi, Dua jengkal lagi...
Ketika hari pertamanya ia pindah menjadi tetangga baruku, Aku kerap diminta untuk memperhatikan gerak-geriknya oleh para pahlawan sialan itu. Waktu itu sekitar pukul 12 malam seperti biasa aku belum tidur— biasanya tidak pernah tidur karena mimpi buruk akan selalu datang dan itu cukup mengangguku. Aku mengambil kopi instan yang ada di lemari pendingin sambil menonton serial kesukaanku yaitu Keeping up with the Kardashians— Salah, maksudnya Money Heist.
Namun, aku sedikit mendengar cekikikan beberapa orang yang terdengar di luar kamarku. Suara mereka sangat menganggu kegiatanku maka aku harus memeriksanya keluar.
Saat aku keluar, aku melihat ada segerombolan wanita dan pria yang tertawa sambil mendengar jokes yang dilontarkan oleh tak lain dan tak bukan adalah Ravenna Strange. Dengan suara parau nya dan tingkah laku aneh layaknya seseorang yang sedang mabuk, Raven menceritakan kalau misalkan kehidupan itu punya banyak cabang atau Multiverse.
"Ah sepertinya aku akan menjadi artis dan menikah dengan Chris Evans atau menjadi presiden yang meniadakan tugas sekolah selamanya" Ucap penyihir itu sambil tertawa diiringi oleh tawa sekelompok orang itu.
Aku menatap mereka dengan tatapan sinis, namun mereka malah mengabaikannya karena mereka juga sama-sama mabuk.
"Wah ada seorang Pria Salju disini, haloo Banana" Ucapnya sambil mendekat ke arahku dengan tubuh yang lemas lantas ia meletakan kepalanya di pundakku kemudian tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Strange - Marvel OC
FanfictionSeorang wanita dengan kekuatan tak terduga, antara cahaya dan kegelapan. Dibesarkan di keluarga Strange dan merupakan adik dari Stephen Strange sang Sorcerers Supreme, membuat Raveena Strange menyadari kekuatan besar yang ada dalam dirinya. Suatu h...
