chapter twelve ; run off.

65 11 8
                                        































"Steve, menurutmu kita harus berpihak pada pemerintah atau mengambil langkah sendiri soal Raveena?"

"Jangan libatkan pemerintah, Nat" Ucap Steve sambil mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi menuju Kantor Avengers.
















































Semua televisi di rumah sakit sibuk memberitakan perihal Kota New York yang diserang oleh sebuah kabut hitam yang membuat resah seluruh rakyat sipil sekitar New York. Kabut Hitam itu seperti tidak tahu arah, menyerang siapa saja yang ada didekatnya hingga mengakibatkan kerusakan dimana-mana. Untung saja, tiba-tiba muncul Stephen dalam layar sedang menyerang kabut hitam itu bersama dengan Wong.

Aku melirik Mr. Barnes, ia ternyata sedang memperhatikanku juga namun pandangannya — secara canggung langsung beralih ke arah lain karena sempat eye contact dengannya. Keheningan melanda sekitar beberapa menit sampai akhirnya Mr. Barnes angkat bicara.

"Aku akan kesana" Ucap Mr. Barnes melihat kearahku lalu ke arah Sam.

"Aku ikut"

"Tidak, kau disini saja untuk istirahat" Ucap Mr. Barnes dengan tatapan matanya yang melembut ke arahku seperti meminta agar aku tidak usah ikut.

"Tapi aku bisa membantu" Ucapku kemudian melirik Sam dan memberi kode agar Sam setuju dengan pendapatku.

"Benar kata Bucky, kau disini saja. Kami yang akan kesana" Ucap Sam. Kemudian aku mengangguk tanda setuju. Akan banyak anggota Avengers yang turun tangan maka semuanya akan baik-baik saja.

Aku langsung mengangkat kedua tanganku dan melakukan gerakan berputar-putar. Tiba-tiba muncul percikan sihir dan membentuk sebuah lingkaran yang biasa kami sebut Portal Teleportasi. Sam dan Mr. Barnes langsung bergegas masuk ke dalam portal tersebut.

"Hati-hati" Sahutku pada mereka.

Mr. Barnes menoleh kebelakang, ia tersenyum singkat sebelum akhirnya portal itu tertutup rapat.













Sambil menunggu kabar baik dari mereka, aku masuk ke kamar kembali dan menutup pintunya rapat-rapat — serta mematikan segala kamera yang ada disana dengan cara mengeluarkan kabut hitam sebanyak mungkin dan menyisakan sebuah lingkaran besar dimana aku akan berbicara dengan Agnor yang sebelumnya aku kunci dalam kotak besar itu.

"Apa rencanamu sebenarnya?" Tanyaku pada Agnor yang sudah sadar.

"Kau pikir aku akan bicara? Kenapa tidak bunuh aku saja, Jalang" Ucap Agnor sambil tertawa.

Aku tidak suka dengan ekspresinya itu. Tapi aku tidak boleh gegabah, mungkin saja Agnor bisa menjadi kunci dari misterinya selama ini.

"Apa perlu aku cabuti bulu sayapmu agar mau bicara soal ini?" Jawabku dengan nada mengancam. Tidak tanggung-tanggung, aku langsung mengeluarkan senjata tajam entah dari mana datangnya.

"Uh, dasar wanita jalang. Kalau mau membunuhku, bunuh saja. Masih ada 11 Pangeran Nebo dan rakyatnya yang akan mengincarmu" Balas Agnor dengan tatapan aneh.

Aku mendelik kesal kearahnya. Akan sangat sulit membuat pria ini angkat bicara. Mungkin aku memang harus bicara dengan para anggota Avengers soal apa yang terjadi.




























Karena merasa bosan, aku berjalan-jalan santai di depan rumah sakit. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk membantu mereka di New York namun sepertinya kehadiranku bisa menjadi boomerang.

Miss Strange  - Marvel OCCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang