#HUJAN.SERIES.4
"Where have you been all this time?"
"Nowhere. Not your bussiness by the way."
"Air, please?"
"No! Berhenti panggil gue dengan nama Air. Nama itu cuma bisa digunakan untuk orang-orang yang berarti buat gue. Dan lo, Aidan, jelas buka...
Cinnamon roll is a sweet roll served commonly in and . Its main ingredients are flour, cinnamon, sugar, and butter, which provide a robust and sweet flavor.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Who has never tasted what is bitter, doesn't know what is sweet.
-Anonim-
-preview from SC3: tarte tatin (Aidan extended ver.)-
Air: "Temui aku di apartemen besok malam, kita selesaikan semuanya."
Air: "Aku akan kasih tahu semuanya, tanpa ada yang aku tutupi lagi. Setelah itu tolong menjauh dariku."
Aidan: "No! Kamu kasih tahu semuanya, tanpa ada yang kamu tutupi lagi. Setelah itu aku yang akan memutuskan, apakah akan pergi menjauh atau justru semakin mendekat."
Aidan: "I made mistake, I lost you, I've searched you, I found you and then lost you again, and after all this time we finally met. Kamu bisa panggil aku egois, kamu bisa panggil aku bodoh, I don't care. I just want to know my mistakes and apologize. As long as it takes, as hurt as it takes."
Aidan: "I just don't want to lose you again, kali ini tidak Air. Kali ini kamu gak bisa pergi dan meninggalkan sepatu lagi seperti Cinderella, gak bisa pergi seperti Sleeping Beauty versi kamu, bahkan gak bisa menjadi buih-buih seperti Putri Duyung. Kali ini kamu gak bisa menghilang dari aku lagi, kali ini tidak."
*****
Aidan POV
Aku duduk di sofa ruang tamu Air, apartemen dengan nuansa merah dan hitam seperti warna kesukaannya. Air bukan tipikal wanita penyuka warna pastel, pun warna ceria penuh dengan keriaan. Dia menyukai warna yang tegas dan berani, sama seperti sifat Air. Aku tersenyum menyadari kalau sampai saat ini ada bagian dari diri Air yang tidak berubah, paling tidak ada satu hal dari dirinya yang bisa aku kenang, paling tidak masih ada satu sisi dari dirinya yang bisa aku kenali.
Memandang ke seluruh penjuru apartemen, aku melihat ruangan yang rapi dan elegan. Desain modern dengan sentuhan feminin dari gradasi warna merah mendominasi, disertai dengan deretan karya seni yang nampaknya dia koleksi, menambah keunikan pada ruangan yang tidak terlalu besar. Gaya hunian Air mungkin terlihat dingin dan kaku, tapi ada satu sisi dari apartemen ini yang bisa membuat penghuninya kerasan.
Aku tertawa memikirkan bagaimana apartemen Air dan apartemenku yang berada dua puluh lantai di atasnya terasa sangat berbeda. Penthouse yang aku tempati tidak bisa dibilang rapi apalagi elegan. Suasana tradisional dan homey lebih terasa di hunianku, mirip dengan gaya rumah di pedesaan Perancis.
Namun, bukankah itu yang membuat kami cocok? Ketika dua buah gaya yang berlawanan bersatu dalam harmoni, maka keseimbangan akan terjadi. Iya kan? Kalaupun tidak, akan aku paksakan cocok nantinya.
Beralih ke sebuah coffee table di samping sofa, aku melihat beberapa pigura yang berisikan foto keluarga terpajang di sana. Ada foto Ayah dan Ibu, Air sendirian, juga Bang Awan dan keluarga—istri serta anak laki-laki mereka yang berusia hampir satu tahun. Di setiap foto itu Air tersenyum, jenis senyuman yang berbeda terlihat di setiap gambarnya. Ketika masih kecil, senyuman lebar tidak pernah lepas dari wajahnya, yang kemudian senyuman itu perlahan menipis dan menghilang di periode kepergiannya selama sembilan tahun. Namun pada foto terbaru—yang diisi oleh enam orang anggota keluarganya—senyuman itu akhirnya kembali, tidak selebar masa lalu tapi lebih cantik dan anggun.