#HUJAN.SERIES.4
"Where have you been all this time?"
"Nowhere. Not your bussiness by the way."
"Air, please?"
"No! Berhenti panggil gue dengan nama Air. Nama itu cuma bisa digunakan untuk orang-orang yang berarti buat gue. Dan lo, Aidan, jelas buka...
Cornish pasty sometimesknown as a "pastie" or "British pasty" is a filled case made by placing the uncooked beef& potatoes, onions, swede filling on a flat pastry circle, and folding itto wrap the filling, crimping the edge at the side or top to form a seal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Know when to let go and move on
-Anonim
Air POV
Berlari di sepanjang selasar RS, aku melangkahkan kaki cepat dan sedikit melompat. Tidak mengindahkan tatapan heran banyak orang, yang sepertinya datang terlalu dini untuk mengambil nomor antrian. Tidak peduli dengan panggilan samar beberapa pekerja yang sepertinya masih mengenalku di sini. Aku hanya ingin segera sampai ke tempat yang aku tuju. Sebuah ruangan rawat dengan penjagaan intensif.
Perlahan aku melihat ke arah jendela luar, semburat merah fajar sudah digantikan dengan terangnya cahaya matahari. Ketika aku mendapat kabar bahwa Aidan mengalami kecelakaan di gedung ME yang terbakar, hal pertama yang aku lakukan adalah diam.
Ya, diam. Diam dan berpikir.
Terlalu banyak yang berseliweran di kepalaku yang lagi-lagi mulai berisik. Ada apa dengan ME? Bagaimana bisa ME terbakar? Mengapa Aidan tidak memberitahuku? Apa ini yang menyebabkan Aidan harus berlari begitu cepat sampai tidak bisa mengabarkan tentang ME? Apa mungkin karena Hanin? Apa Aidan sangat khawatir kepada Hanin jadi dia tidak peduli dengan keberadaanku?
Aku tahu pertanyaan-pertanyaan itu terdengar absurd. Bukankah semua perlakuan dan sikap Aidan beberapa bulan ini sudah cukup menjadi bukti kalau dia lebih memilihku dibanding Hanin? Bukankah semua perkataan dan sentuhan Aidan sudah cukup mewakili kalau dia sangat menyayangiku dibanding Hanin? Tapi..., tapi aku tidak bisa mengenyahkan semua pikiran buruk itu.
My insecuries make me unhappy.
Rasanya semua yang Aidan lakukan hanya membuatku menjadi wanita yang tidak aku sukai. Bukan masalah Aidan, bukan juga masalah Hanin, sepertinya masalahnya ada di diriku. Sembilan tahun berlalu dan aku tetap menjadi Air yang tidak percaya diri.
Jika boleh jujur, aku mulai lelah.
Aku menggelengkan kepala untuk kembali fokus pada langkah kaki, kembali menyusuri selasar panjang setelah keluar dari elevator yang membawaku ke lantai dua. Pandangan mataku melihat ke segala arah dan berhenti pada satu sosok yang sedang duduk di depan sebuah ruangan dengan dua pintu besar yang tertutup rapat.
"Ibu!"
Wanita dewasa itu menatapku lembut, dari duduknya dia melihat ke arahku dengan senyuman sedih yang nampaknya tidak bisa dia sembunyikan. Perlahan dia mengangkat tangannya untuk memanggilku mendekat. "Air?"
Berjalan cepat, aku segera menghampiri Ibu dan memegang tangannya. "Aidan? Mana Aidan?!"
Ibu menarikku agar duduk di sebelahnya dan segera memeluk tubuhku yang mulai gemetar. "Aidan masih di ICU. Adek tenang dulu, kita tunggu Sasha di dalam sedang melihat kondisi Aidan."