Sembilan tahun lalu ....
"Kenapa sih lo selalu nolak gue, Jess? Cewek lain tuh pada ngejar-ngejar gue--"
"Jangan samain gue sama cewek-cewek lain yang pada dibutakan sama pesona lo ya, Gio! Gue bukan mereka dan nggak akan mau bucin-bucin ke lo kaya mereka!" Puas menghardik Gio, aku pun beranjak dari parkiran sekolah mengendarai motor matik andalanku.
Heran si Gio itu, kenapa juga sih maksa sekali pengin menjadikan aku sebagai pacarnya? Padahal cewek di sekolah kami banyak yang terang-terangan mengejar dia, jadi kenapa harus aku yang dijadikan target olehnya? Cewek yang jelas-jelas tidak menyukai dirinya yang preman sekolah, tukang bolos, doyan tawuran, dan sederet catatan buruk lainnya. Betul-betul tidak habis pikir dibuatnya.
Aku menggeleng pelan, sembari mengenyahkan bayangan Giorgino Adyatma dari pikiran. "Sebaiknya aku mulai menghindari dia dan kroni-kroninya," gumamku sambil terus menyetir motor menuju rumah.
***
Keesokan harinya, keinginanku kemarin untuk menghindari Gio dan kawanannya tampaknya tidak berjalan mulus. Bagaimana tidak, dari pagi salah satu anak buahnya sudah mencegatku di gerbang sekolah dan berlagak seolah dia bodyguard, mengikutiku sampai di kelas. Tidak berhenti sampai di situ, bahkan mereka seolah memiliki pergantian shift, dan terus melakukannya di jam-jam istirahat sekolah. Jelas saja ini sangat mengganggu dan bikin risih. Dan jangan dikira aku tidak melakukan upaya untuk mengusir mereka, tentu saja sudah kulakukan. Nihil! Mereka benar-benar tidak mengacuhkanku.
Brak!
"Gio! Lo, suruh temen-temen lo stop ngikutin gue ke mana-mana atau gue laporin ulah kalian ke BK, sekarang!"
Nyatanya, gebrakanku di meja Gio tadi sama sekali tidak berefek apa pun padanya. Dia menaikkan pandangan, membuat keempat mata kami saling bertemu. Bedanya, kalau aku menatapnya penuh amarah, dia hanya melihatku dengan santai.
"Mereka udah biasa kok, udah sering nulis nama mereka di BK, udah sering diskor--"
"Gio!" teriakku frustrasi, bisa-bisanya dia malah menjawab dengan sesantai itu. "Mau lo apa, sih?"
Gio beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapanku. Aku tidak gentar tetap menantangnya dengan penuh emosi, meski terpaksa sedikit mendongak dengan posisi kami yang sekarang.
Gio melakukan hal yang sama, tatapannya tidak sekalipun lepas dariku. "Lo tau bener apa yang gue mau. Sekarang tinggal lo pilih, anak buah gue yang ngikutin lo ke mana-mana atau gue ... diem dulu, gue nggak akan maksa lo buat nerima gue, tapi seenggaknya kita bisa berteman, 'kan?"
Aku hampir menyelanya tadi, kalau saja dia tidak menghentikanku. Berteman? Apa Gio bisa dijadikan teman? Pasti dia punya maksud lain. Tapi dipikir-pikir, daripada teman-teman tidak jelasnya itu terus mengikutiku ke mana-mana, bukankah Gio masih lebih baik? Setidaknya ada pemandangan buat mata.
Hush! Mikir apa aku ini! Gio boleh saja tampan, tapi percuma kalau kelakuannya minus. "Gue nggak temenan sama preman," tegasku tanpa berniat memperhalus kalimat yang barusan terlontar dari mulut ini. "Kalo lo emang mau jadi temen gue, boleh aja! Lo harus bisa masuk peringkat sepuluh besar di kelas lo dan gue nggak suka punya temen yang hobi tawuran. So, you know what you have to do."
Biar mampus! Mana bisa sih dia memenuhi syarat-syarat yang kuberikan. Menghadapi seseorang seperti Gio itu enggak perlu pakai otot, tapi otak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Office Hours
ChickLitHidup nyaman Jessica berubah seratus delapan puluh derajat semenjak dirinya resign dari tempat kerjanya. Mobil harus dijual dan dengan terpaksa dia harus menggunakan transportasi umum. Lantas apa jadinya, kalau di tempat kerja barunya Jessica bert...
