Torn Up

1K 97 8
                                        

"What!!!" pekik Desi nyaring, sampai-sampai aku harus sedikit menjauhkan ponsel dari telinga. "Sumpah demi apa, cowok yang di Club waktu itu, si Gio, mantan lo yang fenomenal itu?"

"Des! Bisa nggak sih, nggak usah pake teriak-teriak! Kebiasaan banget deh lo!" Aku balik berteriak, tapi sepertinya Desi tidak terpengaruh karena dia justru langsung melanjutkan ocehannya.

"Jess, sumpah ya, kalo yang ini mah bibit unggul. Jangan sampe lepas, titik!"

Aku refleks memutar bola mata, mendengar perkataannya barusan. Rasanya aku seperti melihat Desi benar-benar berada di depanku setelah mendengar ucapannya selanjutnya.

"Nggak usah gitu ya mata lo! Gue serius, dia ini grade A, kalo lo--"

"Lebih dari itu, gue justru lagi mikirin sesuatu, Des. Kita udah lama tahu kalo Clover selalu menjadi  kompetitor beratnya Omega, kenapa selama ini kita bisa nggak tahu dirutnya sih? Kenapa lo nggak pernah cari tahu--"

"Kok gue?" protes Desi seketika memotong rentetan perkataanku.

"Lo biasanya kan selalu jadi pusat segala informasi yang gue butuhkan dari luar, tapi giliran info sepenting ini kemampuan lo malah nggak guna!"

"Eh bacot, sialan ya lo, Ijah! Mestinya lo sebagai mantannya dong yang kudunya jadi orang paling update. Apalagi ini jadi CEO--"

"Dirut," ralatku.

"Ya, itulah! Tapi seperti yang gue bilang barusan, mestinya lo yang harus tahu kabar soal Gio Gio ini. Duh, Jah, gawat!" Teriakan sahabat enggak ada akhlak ini sekali lagi membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.

"Apaan sih, Des!"

"Dia illfeel nggak ya ama lo? Sumpah, Jess! Malam itu lo tuh enggak banget. Gue aja sebagai sesama cewek jijik lihatnya, apalagi cowok yang lo muntahin coba?"

"Serius malam itu gue muntahin dia, Des?" Padahal aku sudah tahu pasti jawaban dari pertanyaanku sendiri ini. Entah kenapa pula aku masih membutuhkan jawaban Desi sebagai konfirmasi.

"Buat apa juga gue bohong sih. Bisa-bisa kans lo balikan ama dia udah pupus, Jes."

Aku terdiam mendengar ucapan Desi barusan, kemudian ingatan membawaku ke peristiwa beberapa jam yang lalu saat aku bersama dengan Gio di Bugis market. Sepertinya tanpa sadar aku juga menyuarakan pikiranku.

"Lo bilang apa barusan?"

"Apa?"

"Jah! Jangan belaga bego, jelas-jelas gue denger lo bilang Gio nyatain perasaannya ke lo? Sumpah?"

"Des, ada orang di depan, sambung lagi entar ya!" Buru-buru kumatikan sambungan telepon kami. 

Dasar Jessica bego! Kenapa juga aku ngomongin itu. Gimana kalau aku cuma GR sendiri coba! Waktu sudah berlalu cukup lama setelah hubunganku dan Gio berakhir yang sekalipun ternyata itu terjadi karena kesalahpahaman dan ketololan kami belaka. Lebih dari itu, mungkin ini hanya kebaperanku sendiri yang sudah terlalu lama jomlo tanpa sosok lelaki yang bisa kuakui sebagai pacar.

Aku menggeleng kecil dan menepuk-nepuk pelan pipi, demi menyadarkan diri sendiri dari kehaluan yang semoga saja tidak berlarut-larut. "Wake up, Jessica! Get back to your sense!"

Mencoba melupakan semua halusinasi di dalam otak, aku mulai menyiapkan diri untuk untuk acara gala dinner malam ini. Setidaknya aku tetap harus berpenampilan oke di acara tersebut bukan, meskipun kali ini kehadiranku hanya sebagai pendamping bos Clover,  karena seharusnya akan ada banyak orang yang kukenal di sana. 

Ingatan tentang sesuatu tiba-tiba menghentikan gerakan tanganku yang saat ini sedang membuat ikal-ikal kecil di rambut. Status Gio, dia sudah menikah belum ya? Harusnya aku segera mencari tahu mengenai hal itu sebelum malah baper sendiri.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 29, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Office HoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang