"Maksud saya, Pak Gio kan--"
"Saya lagi, bapak lagi. Kamu nggak capek pura-pura terus?" selanya sembari menyandarkan dirinya ke kursi yang didudukinya. Sementara baru aku mau menjawab, Gio sudah melanjutkan, "Gini aja, at least pas cuma ada kita berdua, bisa kan kamu berhenti pura-pura kalau hubungan kita hanya atasan bawahan yang baru kenal kurang dari sebulan lalu?"
Awalnya aku berniat membantah, tapi dipikir-pikir ada baiknya juga tidak perlu jaim di depannya. Lagi pula, mungkin ini saatnya melanjutkan obrolan kami yang tertunda dua hari lalu.
"Kita belum selesai bahas soal Pasha, kan?" Ternyata Gio juga kepikiran hal yang sama.
Aku mengernyit, masih tidak habis pikir bagaimana ide kalau aku lebih memilih Pasha bisa mampir di otak lelaki ini.
"Daripada Pasha, kenapa kita nggak membahas Winda?"
Gio kembali memandangku dengan tatapan heran. Kaget? Kenapa aku bisa tahu soal selingkuhannya?
"Winda? Winda siapa?"
Aku mendengkus, merespon aktingnya yang murahan. Sebenarnya tidak pantas juga dibahas, lagi pula itu sudah berlalu cukup lama.
"No, seriously. Winda ...," Gio berhenti sejenak seperti memikirkan sesuatu, barulah dia melanjutkan, "maksud kamu Winda anak cheers?"
Sekali lagi aku mendengkus, kali ini sengaja kuperjelas. "Like I care!"
"Enggak, aku serius, kenapa kamu bawa-bawa Winda di obrolan kita? Atau kamu sengaja, karena kamu nggak mau kasih tahu alasan kenapa kamu lebih memilih Pasha?"
Gio bertanya setengah berbisik, maka aku pun menjawab dengan cara yang sama.
"Aku nggak pernah jalan sama Pasha! Aku nggak tahu kenapa kamu bisa mikir ke sana--"
"Huh! Jelas-jelas kamu lagi sama dia--"
"Kamu nggak usah cari kambing hitam buat membenarkan perbuatan kamu sendiri! Aku tahu kamu pernah ciuman sama Winda di saat kita masih ... duh sebenarnya buat apa sih kita membahas ini! Nggak penting--"
"Tunggu, aku ciuman sama Winda? Kamu--"
"Excuse me, your seatbelt, Miss." Seorang pramugari yang lewat mengingatkan kalau aku belum memakai sabuk pengaman.
Ucapan Gio pun tersela peringatan pramugari tersebut.
Sepeninggalan pramugari itu Gio berniat melanjutkan, tapi aku segera mendahuluinya dan berkata, "Semuanya udah lewat! Kita udah punya kehidupan masing-masing dan--"
"Aku nggak pernah cium Winda!" potong Gio cepat. "Aku nggak tahu kamu dengar dari mana, tapi--"
"Aku nggak dengar dari siapa-siapa, aku lihat sendiri. Udahlah Gio, aku mau tidur aja." Dengan itu aku membuang muka ke jendela di sampingku. Pesawat bahkan belum lepas landas, tapi aku sudah berpura-pura memejamkan mata.
Sampai pesawat yang kami tumpangi benar-benar mengudara tidak ada satu pun dari kami yang membuka pembicaraan. Aku sudah malas mendengar alasan yang mungkin akan dikarangnya. Jelas-jelas aku melihat langsung kejadian itu, bisa-bisanya dia masih berusaha mengelak.
Setengah jam berikutnya, kami masih saja tidak berbicara satu sama lain. Dia hanya mengoper makanan atau minuman yang dibawakan pramugari ke meja di depanku tanpa mengatakan apa pun. Sampai tiba-tiba dengan tenang dia berkata, "Aku sudah ingat sekarang."
Haha, seandainya ini bukan di dalam pesawat, mungkin aku sudah tertawa selebar-lebarnya. Jadi sekarang dia sudah mengakui perbuatan kotornya, tapi apa gunanya juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Office Hours
Romanzi rosa / ChickLitHidup nyaman Jessica berubah seratus delapan puluh derajat semenjak dirinya resign dari tempat kerjanya. Mobil harus dijual dan dengan terpaksa dia harus menggunakan transportasi umum. Lantas apa jadinya, kalau di tempat kerja barunya Jessica bert...
