Siapa yang udah kangen sama Jessica? Maafin ya, agak lama huhu. Makasih juga yang sudah tanya kabar, baik itu lewat sosmed atau DM di Wattpad. Kalian the best. I love you!
***
Kuhempaskan badan ke tempat tidur sesampai di kos-kosan.
Hari ini terasa sangat panjang dan menguras energi. Awalnya kukira hari pertama kerja di kantor baru hanya semacam perkenalan saja, bukan langsung kerja rodi sampai lembur begini. Ditambah dengan kenyataan, kalau mantan pacar pertamaku malah menjadi bos di sana. Demi Tuhan, mimpi apa aku semalam, lepas dari Pak Prambudi malah ketemu Gio.
Dering ponsel menjeda pikiranku makin ke mana-mana.
"Hmm?" Malas-malasan aku menjawab panggilan telepon Desi. Aku tahu betul apa yang akan dia tanyakan. Pasti rasa penasarannya sudah di ubun-ubun.
"Heh, Ijah! Seenaknya aja ya lo mutusin telpon gue, mentang-mentang udah di kantor baru, teman baru, bos baru ... tapi yang ini stok lama sih--"
"Sial!"
Suara tawa Desi terdengar renyah menyapa telingaku. Jelas sekali dia sengaja tidak menutup-nutupi kalau dirinya sedang bahagia.
"Habis menang lotre lo?"
Aku bangun dari posisi rebahan dan mulai berjalan ke arah meja rias, lalu sengaja mengaktifkan pengeras suara untuk tetap bisa ngobrol dengan Desi.
"Hah?"
"Kedengeran jelas Bu Desi, bahwasanya Anda sedang sangat ceria," sindirku, yang lagi-lagi justru membuat tawa Desi semakin nyaring.
Aku hanya menggeleng kecil, tidak mau ambil pusing dengan kelakuan bestie-ku. Paling-paling masih soal gebetannya yang baru-baru ini kembali dari luar negeri itu.
Daripada memikirkan teman enggak ada akhlak yang malah bahagia di atas penderitaan temannya, mendingan aku memulai ritual skin care-an. Biar bagaimanapun dan sesusah apa pun, ritual wajib untuk kaum hawa ini tidak boleh sampai dilewatkan. Jangan sampai muka seorang Jessica terlihat kusam, apalagi sampai keriput sebelum waktunya. Ditambah dengan keberadaan sang mantan, yang jelas sama sekali tidak terlihat makin jelek, aku sepertinya juga harus upgrade penampilan.
Tunggu, tunggu! Kenapa juga otak ini tiba-tiba ingat sama dia sih! Kacau, kacau, Jessica wake up!
"Jess ... Jessicaaa!" Teriakan Desi menarikku kembali ke kenyataan, agar aku tidak membayangkan yang aneh-aneh, terutama soal bosku itu.
"Apa sih, Des, nggak usah teriak-teriaklah!" Aku pura-pura merajuk untuk menutupi kebodohanku yang bukannya mendengarkan Desi, malah melamun sendiri.
"Jess, gue udah manggil lo dari tadi ya! Lo ngapain sih?"
"Sori, sori, barusan ke kamar mandi bentar ambil bandana. Kenapa, kenapa, udah kangen banget lo sama gue?" Alasan yang bagus di saat yang tepat. Untung saja aku memang sedang memegang bando make up, jadi kebohongan tadi meluncur begitu saja dari mulutku.
"Dasar! Gue tuh mo cerita kalo barusan di grup alumni SMA ada info soal reuni. Itu artinya gue bisa ketemu dia, Jess!"
"Ya ya ya." Kan betul, sudah kuduga topik minggu ini tidak akan jauh-jauh dari eksekutif muda pemilik beberapa restoran cepat saji, yang juga teman Desi semasa SMA itu.
Dipikir-pikir kenapa sama-sama harus cowok-cowok dari masa SMA kami ya? Ah, mungkin hanya kebetulan semata.
"Aslilah kesempatan bagus ini, Jess!" serunya masih penuh semangat. "Eh, Jess!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Office Hours
ChickLitHidup nyaman Jessica berubah seratus delapan puluh derajat semenjak dirinya resign dari tempat kerjanya. Mobil harus dijual dan dengan terpaksa dia harus menggunakan transportasi umum. Lantas apa jadinya, kalau di tempat kerja barunya Jessica bert...
