Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~~~
Berlin
Hari itu, keluarga kecil yang terdiri dari Jaehyun, Rosé, dan Jieun sedang menikmati sarapan pagi mereka. Meja makan yang sederhana, dengan piring-piring berisi sarapan yang beragam, tampak sunyi. Hanya ada suara sendok yang bersentuhan dengan piring dan suara tegukan kopi dari Jaehyun, yang tak henti-hentinya mengamati lembaran koran yang terbuka di depannya.
Sementara Rosé tampak merenung, matanya menatap kosong ke luar jendela, seakan berpikir tentang sesuatu yang jauh. Jieun, gadis kecil yang duduk di seberang meja, akhirnya memecah keheningan itu.
“Mama, hari ini kita mau kemana?” tanya Jieun, sambil menghabiskan potongan roti terakhirnya, lalu meneguk susu vanilla yang ada di depannya.
Rosé tersenyum, meski sedikit terlihat lelah. “Hmm, kemana ya? Kamu mau pergi kemana, sayang?”
Jieun menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir. “Ga ada sih, Ma. Cuma... aku bosan di sini. Rasanya, semuanya asing. Aku nggak suka di sini,” gumamnya pelan, meskipun itu sudah terucap jelas dari bibirnya.
Jaehyun yang sejak tadi sibuk dengan korannya menurunkan kacamata dari hidungnya dan menatap Rosé. Mereka saling berpandangan sejenak. “Tapi, kamu bilang kamu senang di sini, kan? Bukannya dulu kamu pengen liburan di sini?” kata Jaehyun pelan, mencoba mengingatkan Jieun akan keinginannya beberapa waktu yang lalu.
Jieun merengut. “Iya, tapi sekarang nggak lagi. Semuanya beda.”
Rosé menghela napas panjang, merasakan berat di dadanya. Mereka baru saja sampai ke Berlin untuk memulai liburan, namun entah mengapa Jieun tiba-tiba terlihat tidak nyaman. “Jadi, kamu mau pergi ke mana? Kita bisa coba cari tempat yang kamu suka.”
Jieun terdiam sejenak, memandangi meja makan, sebelum akhirnya dia membuka mulut lagi. “Aku pengen ke tempat yang lebih tenang, jauh dari sini. Mungkin ke desa? Ke tempat nenek?”
Jaehyun mengernyitkan dahi. “Ke desa nenek? Kenapa?”
“Mungkin bisa lebih seru. Aku nggak suka yang terlalu ramai,” jawab Jieun dengan nada datar, seakan sudah memutuskan.
Rosé terdiam sesaat, matanya menatap Jieun. Ia bisa memahami apa yang dirasakan putrinya, meskipun hatinya agak berat. Ia tahu bahwa Jieun bukan hanya bosan dengan suasana kota besar, tapi mungkin ada bagian dari dirinya yang merasa terasingkan. Seperti dirinya, yang merasa jauh dari rumah, jauh dari masa lalu.
Jaehyun mengangkat alisnya. “Ke desa nenek? Apa itu ide yang baik? Bukankah kita belum pernah ke sana?”
Jieun mendelik, semangatnya mulai tumbuh. “Iya! Kita bisa ke sana. Pasti seru deh! Lagian kan, kita nggak pernah kemana-mana. Aku juga penasaran sama desa mama. Kita bisa liat tempat itu dan sekaligus ziarah ke makam kakek. Mama kan pernah bilang kalau kita harus ke sana.”