Genre : Fiksi remaja, drama, romantis, angst.
***
Mika percaya bahwa sesuatu yang ada di dunia ini tidak kekal. Termasuk kebahagiaan dan kesedihan. Maka dari itu, Mika selalu yakin kesedihannya pasti berlalu, dan tergantikan oleh kebahagiaan.
Namun...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di hariweekend Mika harus tetap bekerja di rumah Arki. Pagi-pagi sekali Mika sudah memakai baju over all panjang, yang sangat pas untuk melakukan aktivitas hari ini. Ia keluar rumahnya dengan rambut dikucir kuda, sehingga ketika ia berjalan rambutnya bergoyang ke kiri dan kanan.
Saat Mika memasuki pekarangan rumah Arki, yang pertama kalinya ia lihat adalah cowok dengan berpakaian seperti tukang kebun. Kaos longgar yang warnanya sudah pudar, celana trening yang terangkat sebelah, serta rambut yang acak-acakan. Begitulah wujud Arki saat ini. Cowok itu sedang menyiram tanaman dengan malas-malasan di depan rumah.
Melihat kehadiran Mika, lantas Arki menghentikan aktivitasnya. "Ngapain lo kesini?"
"Kerja," jawab Mika spontan. "Lo yang kemarin nyuruh gue dateng pagi-pagi buat bersihin semua kandang peliharaan, 'kan?"
"Ah iya, gue lupa. Yaudah gih, lo bisa langsung kerja, rumahnya gak dikunci." Arki menyuruh Mika dengan gerakan dagunya.
Sebelum benar-benar pergi ke halaman belakang, Mika melirik Arki dari atas sampai bawah dengan kesan aneh, sehingga menimbulkan decakan kesal Arki. Ternyata seperti ini wujud Arki di hari weekend. Tapi syukurlah, wajah tampannya membantu Arki agar tidak gembel-gembel banget.
"Apa lo liat-liat?" ketus Arki.
Mika menggeleng dengan cepat. Lalu, ia segera pergi menuju halaman belakang. Tanpa melewati ruang tengah, Mika bisa berjalan lewat samping rumah besar itu.
Kebetulan sekali Arka sedang memandikan kucing peliharaan di pagi hari ini. Sebelum masuk ke dalam rumah peliharaan Arki, Mika menghampiri Arka untuk sekedar menyapanya.
"Pagi, Kak Arka."
Arka tersenyum tipis seperti biasanya saat melihat Mika. "Pagi."
"Waw, kucing kak Arka kalo mandi emang nurut gitu ya? Biasanya 'kan kucing suka ngereog gitu kalo dimandiin," ujar Mika. Ia berjongkok di samping Arka.
"Kucing kalo dibikin nyaman sama yang mandiinnya pasti nurut."
Mika manggut-manggut paham. Terus memperhatikan kucing putih Arka dengan antusias. Senyum dengan mata yang berbinar di wajahnya itu tak pernah hilang. Arka sangat ingat saat pertama kali mereka bertegur sapa di bawah pohon beringin.
Saat itu, Mika terlihat sangat pemalu, tapi sekarang malah jadi Arka yang sedikit sungkan pada Mika. Melihat wajah manis itu dari samping, Arka pun ikut tersenyum, lebih lebar dari sebelumnya.
"Eh, Mika?"
Tiba-tiba suara Leyla mengalihkan pandangan Mika. "Oh, pagi Tante."
Leyla yang baru saja keluar dari rumah lantas membalas sapaan Mika dan bertanya, "Kamu lagi ngapain, Mika?"
"Oh ini, Tante ...." Mika yang sudah berdiri menghadap Leyla lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus menjawab apa. Soal dirinya yang menjadi petsitter peliharaan Arki, Leyla belum mengetahuinya, karena akhir-akhir ini bunda dari dua putra itu jarang sekali ada di rumah.