part 06 : hasil tapi nggak hasil

145 26 2
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

Sepertinya nggak ada hari tanpa berurusan dengan Arki. Termasuk hari ini, aku harus menghadapi hukuman lagi. Terlambat datang ke sekolah itu nggak cocok dengan aku yang selalu mentaati aturan sekolah. Namun, sejak berurusan dengan Arki, hidupku terasa nggak tenang.

Aku memandang punggung lebar yang berlari beberapa meter di depanku. Lantas aku mendengus ketika ingat bagaimana menyebalkannya aksi si tengil itu saat dalam perjalanan berangkat sekolah tadi. Rantai sepedaku lepas di depan gerbang komplek perumahan, dan datanglah Arki dengan tampang tengilnya.

"Kenapa lo?" tanyanya waktu itu, motor hitamnya berhenti tepat di samping sepedaku.

Aku nggak menjawab, lebih tepatnya nggak ingin menjawab. Aku meliriknya sekilas ketika ia tengah melihat jam tangannya, lalu beralih padaku. "Butuh bantuan nggak?"

Tumben sekali si tengil itu menawarkan bantuan. Karena aku nggak ingin terkena tipu daya muslihatnya, maka aku tetap tak menghiraukan kicauannya itu. Arki tetaplah Arki, tapi ketika dia kembali berkata, aku malah memikirkan tawarannya itu.

"Udah mau telat nih, yakin nggak butuh bantuan?" Arki sudah menyalakan motornya kembali. "Yaudah gue duluan aja."

Aku yakin dia sengaja mencondongkan badannya ketika berbicara untuk menggoyahkanku yang sedang berusaha memperbaiki rantai sepeda tanpa ada hasil. Akhirnya aku menyerah dan meredam egoku untuk meminta bantuannya. "Yaudah bantuin," ucapku pelan.

"Hah? Apa? Gue nggak denger."

"Yaudah bantuin." Intonasi suaranya aku tambahkan sedikit.

Arki membuka helmnya. "Serius gue nggak denger lo ngomong apa. Apa sih?"

"Yaudah bantuin!" Barulah dia tersenyum puas ketika aku meninggikan suaraku.

Tanpa bertele-tele ia turun dari motor dan berjongkok di sampingku. Aku sedikit tersentak ketika tubuh jangkung itu mengambil posisi terlalu dekat denganku. Wangi badannya jadi nggak asing lagi karena aku sering mencium wangi itu akhir-akhir ini.

Aku sangat mengakui wajah Arki ganteng. Bahkan gantengnya bukan ganteng rata-ratanya orang Bandung. Ia lebih mirip seperti orang luar. Hidungnya yang mancung dengan alisnya yang tebal sempat mencuri perhatianku. Namun, aku langsung sadar ketika ingat berapa menyebalkan Arki. Nggak peduli dia seganteng apa, tapi di mataku dia tetap jelek. Jelek kelakuannya.

Aku memperhatikan gerakan tangannya. Nggak sekalipun usahanya itu berhasil, karena aku tahu jalan keluarnya itu harus dibawa ke bengkel. Sampai setengah jam aku menunggu. Peluh keringat di pelipisnya Arki mulai mengucur dan usahanya tetap nihil.

Aku sudah ketar-ketir karena sebentar lagi bel masuk berbunyi, sedangkan aku masih harus menyaksikan usaha sia-sia yang dilakukan bocah tengil di sampingku.

"Nah!" Arki tiba-tiba berseru.

Aku ikutan antusias ketika rantai itu bisa menyatu dengan kahuyannya. Tanpa sadar aku bertos ria dengan Arki karena terlanjur gembira. Sesaat kemudian aku sadar kedua tanganku menyatu dengan tangannya. Kami sama-sama diam untuk beberapa detik, saling melemparkan pandangan, dan berakhir dengan canggung.

Arki berdeham dan buru-buru melepaskan tangannya dari tanganku. Kami sama-sama gelagapan, hingga akhirnya Arki beranjak dan naik ke motornya.

"Gue duluan." Arki nggak melihatku lagi, dan motornya sudah melesat jauh dari pandanganku. Aku belum sempat berterimakasih, tapi aku mengurungkan niatku untuk berterimakasih karena setelah aku mengayuh sepedaku ... rantainya lepas lagi.

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang