part 35 : tangisnya

82 18 0
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

Entah surat apa yang Arki baca hingga membuatnya menangis sesegukan di ruangan yang senyap dan tenang itu. Aku nggak berani masuk ke dalam kamar rawatnya dan hanya melihatnya sebentar lewat kaca kecil pada pintu, karena aku tahu Arki butuh ruang untuk kembali melampiaskan kesedihannya lewat tangis. Aku akan sangat cemas kalau Arki hanya diam membisu tanpa tahu caranya mengekspresikan kesedihan. 

Untuk kedua kalinya aku menyaksikan tangisnya yang tersedu-sedu sampai napasnya mungkin terasa sesak. Tanpa sadar akupun ikut menangis di kursi besi beralaskan busa tipis ini. Membayangkan bagaimana Arki harus bertahan dalam situasi ini membuat aku ikut merasakan sesak dan remuk di dada.

Setelah satu jam aku membiarkannya sendirian di kamar rawat dan memastikan nggak ada lagi tangis terdengar, aku masuk dengan tenang. Sedangkan Arki sudah berbaring meringkuk di ranjangnya dengan tatapan kosong. Sudah lewat beberapa hari aku di rumah sakit sejak Bang Arka menemui Arki, dan setelahnya aku nggak melihat Bang Arka lagi. Hanya Pak Rendra, Ayah Arki yang sesekali menjenguk anaknya, itu pun cuma sebentar. 

Aku diminta untuk terus menjaga Arki agar hal-hal yang nggak diinginkan nggak terjadi. Dengan senang hati aku menjaganya selama ini, meskipun nggak pernah ada kata yang terucap dari mulutnya untukku mau sebanyak apapun aku bertanya.

"Kamu belum makan sarapannya?" tanyaku, tatkala melihat sarapan yang diantar oleh seorang pramusaji masih utuh nggak tersentuh sedikit pun. Meskipun aku tahu pertanyaanku hanya akan menjadi pertanyaan retoris, aku tetap bertanya lagi. "Kamu mau makan ini nggak? Atau mau makan yang lain? Kalau mau yang lain, aku pesenin."

Arki masih mengunci mulutnya.

"Kalau kamu masih diam aja, berarti kamu setuju makan sarapan yang disiapkan dari rumah sakit." Tanpa persetujuannya, aku menyiapkan meja makan dan menata sarapan di atasnya dengan rapih. "Arki, ayo sarapan dulu."

Arki bangun dari rebahnya. Dia duduk dengan tenang, tapi siapa yang sangka Arki akan membanting mejanya sampai makanan yang sudah aku tata rapih itu berantakan di lantai. Aku cukup tersentak dengan aksinya itu, hingga membeku di tempatku berdiri.

"Arki ... Kamu-."

"Gue muak sama lo. Gue muak dengar lo terus-terusan ngomong sama gue. Gue nggak butuh lo ada disini, melihat gue berantakan kayak gini!" Wajahnya yang tenang tergantikan dengan raut yang keras dengan sorot mata yang tajam, dan tertuju kearahku.

Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku menahan agar air mataku nggak lepas begitu saja. Kata-katanya membuat hatiku sakit, tapi sebelum itu aku sudah memutuskan dan berjanji pada diri sendiri bahwa aku nggak akan menyerah terhadap sikap Arki yang jauh dari biasanya. Arki berubah menjadi orang yang berbeda, yang nggak pernah aku kenal.

"Cukup sampai disini, Mika. Gue nggak mau lihat lo ada disini lagi. Gue nggak butuh siapapun untuk temani gue disini. Gue mau sendiri." Selanjutnya perkataan Arki makin melemah pada kalimat terakhir, ia membuang mukanya kearah lain.

"Arki ...." Aku bilang, aku nggak mau menyerah.

"Pergi!"

"Aku-."

"Gue bilang pergi! Gue nggak mau lihat lo disini lagi!"

Arki akhirnya berteriak ketika nggak mampu menahan diri untuk bersabar mendengarkanku. Karena aku nggak bisa lagi menahan air mata, aku lekas keluar dari kamar rawat itu tanpa mengatakan apapun lagi. 

Bersamaan dengan itu, ketika aku membuka pintu, Willa bersama teman-teman Arki yang lain hendak masuk dan cukup terkejut melihatku dan keadaan di dalam yang berantakan. Aku nggak menghiraukan itu, dan berlalu melewati mereka yang bergantian memanggilku. Aku rasa mereka nggak akan berani masuk setelah apa yang terlihat di dalam kamar rawat Arki. Apalagi saat ini suasana hati Arki sangat buruk.

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang