part 21 : say sorry

114 26 7
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

Arki : gue di depan.

Baru saja aku sampai di kamarku, dan bertepatan saat aku mengaitkan tasku di gantungan, layar ponselku menyala dan nama Arki muncul sebagai notifikasi yang aku tunggu-tunggu. Satu pesan itu membuatku bergegas keluar rumah.

Arki sudah berdiri sambil menenteng kantong kresek, dan tangannya yang lain mengacungkan eskrim yang sedang ia cicipi dengan santai. Aku hanya mengembuskan napas cukup kasar melihat tampangnya yang seolah nggak pernah menghilang dariku. Aku sangat bersyukur karena wajahnya kali ini nggak babak belur.

"Mau? Gue beli banyak nih." Arki memberiku satu eskrim dari kantong kreseknya.

"Kamu dari mana aja?" tanyaku.

"Kenapa? Kangen?" Arki malah cengar-cengir dengan wajah tengilnya. "Udah nggak usah cemberut gitu, jelek."

"Lagian kamu nggak ada kabar sama sekali."

"Iya, maaf. Gue sibuk. Nggak sempat ngabarin lo. Yang penting sekarang gue udah balik, 'kan?"

Aku hanya meliriknya dengan wajah sebal. Aku seorang perempuan. Wajar kalau aku marah ketika nggak diberi kabar cukup lama oleh Arki. "Emang nggak bisa ya sebentar aja kamu buka hp, terus kasih aku kabar meskipun sedikit? Aku tuh khawatir kamu kenapa-napa."

Arki sedikit menurunkan wajahnya sambil melirik eskrim yang tinggal setengahnya. Kemudian, ia menatapku dengan sorot mata yang sulit kubaca. "Sorry ya ... Gue nggak bermaksud cuekin lo, tapi hp gue ketinggalan di rumah. Gue ke Jakarta nggak bawa hp, gue juga nggak ingat nomor lo."

Apa kalian percaya? Aku sih nggak. Arki pasti sekarang sedang berbohong. Kalaupun nggak bisa mengabariku lewat WhatsApp, ia bisa mengabariku lewat media sosial yang lain. Meskipun ponselnya tertinggal, Arki bisa menggunakan alat komunikasi yang lain atau dia bisa membeli ponsel lagi, kan?

"Gue ... dimaafin nggak?" tanya Arki, ada keraguan dalam nada bicaranya. Mungkin dia nggak enak hati melihatku hanya diam tanpa bereaksi. "Gue usahain nggak mengulang hal yang sama, suer!"

Aku jadi nggak tega mendiamkan cowok yang mendadak seperti anak kecil yang merayu ibunya agar nggak marah lagi.

"Maafin ya? Ya? Ya?" Telunjuknya menusuk-nusuk bahuku. Aku nggak tahan untuk melepaskan tawa renyah begitu melihat ekspresi wajahnya. "Maafin Arki ya cantik yaaa?"

"Udah deh!" Aku kesal, tapi aku tersenyum juga.

"Eum... gitu dong. Kan cantik kalo senyum. Gue kangen, tahu?"

"Makanya! Kalo pergi tuh jangan lama-lama." Aku memukul dadanya ringan ketika dia merangkulku dan mengajakku untuk menikmati angin sore di taman.

Semenjak lamanya Arki pergi ke Jakarta yang entah apa kesibukannya disana, aku nggak pernah tahu dan nggak pernah diizinkan untuk tahu, Arki nggak pernah pergi-pergi lagi. Ia jadi lebih rajin masuk kelas selama beberapa bulan ini. Nggak kerasa juga hubunganku dengan Arki sudah lewat berbulan-bulan, dan Arki tetap bertahan pada prinsipnya, menyimpan semua lukanya tanpa mau berbagi.

Sebagaimana Arki nggak pernah bercerita tentang lukanya, dia pun nggak pernah bertanya sedikitpun tentang permasalahanku, dan aku pun bungkam. Beginilah kita menjalani hubungan ini, saling menemani dan menyembuhkan tanpa tahu luka masing-masing. Terkadang aku menikmati kebersamaan ini, tapi nggak jarang juga aku mengeluh sendiri dan bertanya-tanya, aku ini apa bagi Arki?

Sejujurnya, aku iri melihat hubungan Willa dengan pacarnya. Meskipun mereka LDR karena cowoknya sedang kuliah di luar kota, tapi komunikasi mereka baik, nggak ada yang ditutup-tutupi. Mereka saling bercerita gelap terangnya hidup masing-masing. Sedangkan, Aku dan Arki? Kami hanya melihat sisi terang masing-masing saja, tanpa berani menyelam ke dalam sisi gelapnya.

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang