𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Arki
"Sia mau bikin kripik sosis atau sosis bakar, sih? Tipis banget motongnya, monyet!"
Suara Apuy sudah meramaikan malam yang diisi dengan acara barbeque ini. Apuy dan Nevan sudah sibuk dengan bahan-bahan dan peralatan grill di meja panjang, di pelataran Villa. Sedangkan Bojes sibuk bolak-balik ke dapur untuk mengambil wadah yang dirasa salah mulu.
"Lo gue suruh bawa wadah yang agak gede malah bawa mangkuk plastik. Lo pikir cukup buat daging sebanyak ini?"
"Cewek lo yang kasih ini, pokek!"
Apuy frustasi dengan teman-temannya yang nggak bisa diandalkan dalam hal apapun. Alih-alih menjadikan perkumpulan ini sebagai media untuk mempererat pertemanan, malah retak dengan perdebatan.
Apuy harus menghela napas lebih berat lagi tatkala melihat Jehan membawa susuk beserta wajan. "Ini lagi si kampret," gumamnya. "Lo ngapain bawa wajan sama susuk? Lo mau masak-masakan apa bakar-bakaran?"
Jehan yang kepribadiannya tenang, hanya diam sambil melihat barang bawaannya tanpa merespon. Padahal Apuy sudah menegurnya dengan lantang seolah hendak memakannya hidup-hidup. Jehan kembali lagi ke dapur sebelum benar-benar dimakan oleh Apuy yang sudah mengeluarkan taring kemarahan.
"Monyet! Monyet! Capek banget gue sama kalian semua!" keluhnya.
Karena Apuy paling nggak percaya sama gue, makanya dia nyuruh gue duduk manis sambil menyaksikan tingkah ajaib mereka. Tahunya, teman-teman gue yang lain sama saja nggak bisa bantuin Apuy dengan baik.
Meskipun banyak huru-hara yang disebabkan oleh tingkah kawan-kawan gue dan gue sendiri, acara bakar-bakaran malam ini tetap terlaksana dengan baik. Kami duduk berjajar dan saling berhadapan dengan dua alat panggang yang sudah digunakan sehingga mengeluarkan aroma yang sedap, dengan berbagai keributan yang dibuat oleh Nevan, Jehan, Apuy, dan Bojes. Namun, beberapa saat kita harus bersabar untuk memberi makan media sosial para betina. Setelah Akira memotret alat-alat dan bahan dari setiap sudut, barulah kita bisa memulai.
"Lo dari tadi perasaan ngambil mulu punya gue deh, Han?"
"Sorry, Van. Daritadi gue udah tandain daging yang ini."
"Gue belum kebagian, nyet!"
Apuy menumpahkan daging yang telah dipotong tipis-tipis pada alat panggang tanpa aba-aba untuk menghentikan perdebatan Jehan dan Nevan. "Noh! Dagingnya masih banyak!"
"Ini bumbu terlalu asin deh, Puy," protes Bojes.
Apuy melotot garang. "Lo udah gue suruh nyobain tadi kagak dicobain, kagak usah protes!"
Sepertinya jika energi manusia seperti daya ponsel, mungkin energi Apuy sudah low battery karena terus-terusan digunakan untuk marah-marah. Kalau nggak ada Mika disini, mungkin gue lah yang akan mengambil peran paling banyak untuk menghabiskan energi Apuy. Tapi gue memilih untuk menyibukan diri, memanggang daging untuk Mika.
"Jangan didengerin ya? Temen-temen gue emang nggak ada yang waras," ujar gue sambil menyuapinya daging sapi yang sudah matang.
"Lucu tahu. Mereka kocak banget dari tadi," balasnya.
Malam ini gue sering melihat Mika ketawa bersama mereka. Ia ikut berbaur tanpa canggung, padahal awalnya gue mengkhawatirkan suasana hatinya yang akan berhadapan dengan banyak orang. Bahkan mudah sekali untuk menertawakan jokes bapak-bapak yang Bojes lontarkan.
"Sabun, sabun apa yang genit?"
"Sabun mandi."
"Salah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Novela JuvenilMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
