𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Mika
"Maaf ...."
Arki mengeratkan genggaman tangannya. Suara lirih itu berbisik di telingaku. Kepalanya bersandar nyaman di bahuku sambil memejamkan mata. Sejak setengah jam yang lalu, setelah Arki tenang dengan batinnya, kami duduk di sofa dengan santai, mengistirahatkan segala riuh isi kepala.
"Untuk apa?" ujarku.
"Untuk semuanya."
"Nggak apa-apa." Aku akan selalu memakluminya.
"Akhir-akhir ini semuanya terasa berat, Mika." Baru kali ini aku mendengar sebuah pengakuan atas kerumitan hidupnya, meskipun suaranya terdengar ragu dan penuh jeda. "Gue kebingungan. Gue ... nggak tahu harus bagaimana ...."
"Kamu nggak sendirian, Arki. Ada aku, aku bakalan selalu temani kamu," tuturku, mencoba meyakinkannya lewat kepalaku yang aku sandarkan di kepalanya.
Arki diam dan selanjutnya hening bertamu di antara kami, enggan pergi karena masing-masing dari kami disibukkan oleh isi kepala. Lalu, tiba-tiba Arki melontarkan pertanyaan yang keluar dari topik. "Kapan lo pulang ke Bandung?"
Ya, aku lupa bahwa rumahku ada di Bandung. Lalu, aku menawarkan diri untuk selalu menemaninya yang mungkin akan menetap di Jakarta. Bagaimana kalau ucapanku itu hanya dianggap gurauan saja?
"Aku nggak tahu ...." Kali ini, aku yang kebingungan.
"Lo nggak mungkin terus-terusan ada di sini. Lo juga harus mempersiapkan kuliah."
Aku nggak menjawab, dan itu mengundang tanya lagi bagi Arki. "Lo khawatir sama gue disini?"
Belum sempat menjawab, Arki kembali menyela sambil beranjak dari sandarannya, "Nggak perlu khawatirin gue. Gue sekarang udah baik-baik aja berkat lo. Lo juga punya urusan lo sendiri di Bandung. Jadi ... pulang ya?"
Arki memang sudah nggak sependiam sebelumnya. Ia sekarang lebih tenang dan santai memandangku, tapi aku tetap nggak menemukan ketengilannya lagi. Boleh kah aku percaya bahwa ia sekarang sudah baik-baik saja? Tapi kenapa saat menatap matanya aku masih melihat kemuraman?
Pada akhirnya, aku menurutinya. Besoknya Arki mengantarku pulang ke Bandung. Meskipun aku nggak yakin ia sudah benar-benar pulih, Arki tetap mengantarku dengan mobilnya. Ketika aku melarang dan menyuruhnya tetap istirahat, Arki malah memberi alasan bahwa ia juga ada urusan di Bandung. Jadi, aku nggak bisa menghalangi kehendaknya itu.
Dalam perjalanan pulang, Arki tiba-tiba menyalakan musik dengan sebuah lagu yang cukup lawas. Lirik lagunya cukup menyentuh hatiku yang agak sensitif akhir-akhir ini. Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly mengalun tenang, mengisi keheningan sore menuju malam tatkala mobil memasuki gerbang Tol Jakarta-Cikampek.
Ini aku, kau genggam hatiku
Simpan di dalam lubuk hatimu
Tak tersisa untuk diriku
Habis semua rasa di dada
Suasana ini tiba-tiba saja membuat dadaku sesak. Lagu itu terdengar seperti curahan hati Arki yang nggak bisa disampaikan secara langsung padaku. Kemana perginya keramaian yang dulu Arki ciptakan? Kenapa sekarang ia membawaku untuk merasakan dinginnya keheningan?
Jujur aku sangat merindukannya, tapi bagaimana aku harus mengatakannya di saat aku tahu bahwa Arki berubah begitu cepat hingga menciptakan kecanggungan?
Perpisahan kali ini untukku
Akan menjadi kisah yang tak berujung
Entah karena penyejuk udara atau suasana bisu, dinginnya semakin lama semakin menusuk hingga aku memeluk badanku sendiri yang berbalut kardigan tipis. Setelah beberapa lagu mengalun melewati telingaku seperti dongeng pengantar tidur, aku perlahan mengantuk dan hilang kesadaran. Namun, aku kembali bangun dengan perasaan aneh, karena aku sadar bahwa seharusnya aku menemani Arki supaya tetap fokus dan nggak mengantuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Dla nastolatkówMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
