𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Mika
Salah satu hal yang paling nggak aku sukai adalah libur panjang. Mungkin bagi kebanyakan orang libur semester ganjil atau semester genap adalah kesempatan untuk liburan bersama keluarga, entah itu liburan ke luar negeri atau libur kemana pun.
Namun, hal itu nggak berlaku untuk aku yang hanya berdiam diri di rumah sebesar ini sendirian, karena Farla, Farlo, Papa, dan Mama pergi liburan ke Belanda bersama keluarga besar yang tinggal di Jakarta.
Sebenarnya, Papa mengajakku tapi melihat bagaimana raut wajah Mama dan Farlo, aku lebih memilih untuk tinggal. Lagipula, aku juga harus tahu diri, memang aku ini siapa? Keluarga besar Papa nggak pernah menganggapku bagian dari mereka.
Satu minggu ini, aku habiskan dengan melakukan hal yang itu-itu saja. Bangun tidur, makan, mandi, rebahan, dan tidur lagi. Sudah satu minggu pula aku nggak pernah lagi menemui Arki. Meskipun banyak spam chat dan panggilan yang masuk ke ponselku dari Arki, aku nggak pernah mau membalas atau menerima panggilan tersebut. Rasanya aku masih kesal sampai sekarang tatkala melihat diamnya saat aku bilang nggak mau melanjutkan hubungan ini.
"Neng Mika, di depan ada yang nyariin," ujar Teh Yuni, orang yang dipekerjakan Mama. Ia akan datang satu minggu dua kali untuk mengurus dan membersihkan seisi rumah.
Kebetulan aku hendak pergi keluar karena bosan di rumah terus. "Siapa, Teh?"
"Cowok yang kemarin lusa itu loh, Neng."
Sudah aku duga pasti Arki, karena setiap hari Arki nggak pernah absen berdiri di depan pintu pagar dan menekan bel rumah.
"Itu mah pasti pacarnya ya?" tebak Teh Yuni, dan aku hanya tersenyum canggung. "Kasian atuh, Neng. Teteh lihat-lihat dia dari tadi diem di depan."
Iya sih, akhir-akhir ini aku jadi sedikit tega pada Arki. Tapi aku juga nggak tahu kenapa aku bisa sekesal ini. Arki bahkan pernah meninggalkanku tanpa kabar apapun, kenapa juga aku nggak bisa menghiraukan dia barang sebentar? Padahal ini nggak seberapa jika dibandingkan dengan sikapnya yang kadang seenaknya hilang tanpa kabar.
Ketika aku keluar dari pintu pagar, Arki masih disana dengan rokoknya. Bersamaan dengan aku menutup kembali pintu pagar, Arki melempar rokoknya ke bawah lalu diinjak sampai padam dan hancur.
Karena ia hanya melihatku tanpa mengatakan apa-apa, aku pun membiarkannya tanpa menyapa, berjalan melewatinya menuju ke halte bus depan komplek. Arki mengikutiku dari belakang, bahkan ia ikut naik ke bus ketika aku naik.
Namun, Arki sama sekali nggak mendekatiku, ia duduk agak jauh. Pada saat bus berhenti di halte selanjutnya aku turun dan Arki pun ikut turun. Sekali pun ia nggak mencoba untuk menyapaku, malah terus mengikutiku seperti penguntit sampai tiba di tempat tujuanku, di taman yang ada danaunya, dan di sana aku bisa menikmati hangatnya matahari di sore hari, tapi sejak pagi langit terlihat mendung, jadi aku ragu sore ini akan mendapatkan pemandangan sunset yang bagus.
Aku duduk di kursi kayu yang panjang, yang terletak di beberapa meter dari railing yang menjadi pembatas danaunya. Sedangkan Arki duduk di kursi kayu yang lain, yang dibatasi dengan dua kursi kayu di sebelahku. Cukup jauh jarak antara aku dan Arki, tapi cowok itu terus menjagaku dengan matanya yang terus memperhatikanku.
Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya, dan sibuk mengeluarkan buku gambar dengan peralatan gambar lainnya dari tas ranselku. Aku mulai menggambar dengan tenang, sehingga aku nggak mengindahkan suasana di sekitarku.
Namun, tiba-tiba seorang anak perempuan menghampiriku sambil membawa beberapa tangkai bunga mawar merah yang sudah dihias di dalam pelukannya. Lalu, salah satunya diberikan padaku. "Ini bunga dari Kakak ganteng itu." Ia menunjuk Arki yang sudah cengar-cengir dan melambaikan tangannya padaku. "Katanya ini bunga untuk Kakak cantik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Teen FictionMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
