𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Mika
SMA Garwana selalu mengadakan acara perpisahan setiap tahunnya, seperti prom night. Acara ini adalah momen yang dinanti-nanti setiap angkatan yang telah menerima surat kelulusan. Acara ini diadakan di sebuah hotel bintang lima yang pemiliknya adalah salah satu donatur sekolah.
Prom night malam ini berkonsep Mystique Elegance yang diselimuti suasana kemewahan dan sedikit misteri. Para tamu hadir dengan balutan busana formal terbaik mereka, yaitu gaun panjang dengan warna-warna elegan, serta para lelaki memakai tuksedo berdasi kupu-kupu, lengkap dengan topeng yang unik, yang mencerminkan kepribadian masing-masing.
Acara ini dirancang untuk menciptakan pengalaman yang memukau dan eksklusif, dengan suasana megah yang menggabungkan unsur klasik dan modern. Dekorasi venue dipenuhi lampu gantung kristal, kain beludru, dan elemen klasik seperti pilar dan cermin besar. Pencahayaan lembut dengan warna keemasan memberikan efek dramatis disertai kabut buatan di lantai dansa juga memberikan nuansa magis.
Biasanya di Garwana, acara ini dijadikan sebagai ajang berkencan. Jadi, akan sangat memperihatinkan kalau datang hanya seorang diri tanpa berpasangan, apalagi akan ada acara utama seperti berjalan di atas karpet merah dengan berpasang-pasangan.
Sedangkan aku hanya bisa berharap Arki mendadak hadir dan menjadi pasanganku untuk berdansa malam ini. Namun, aku nggak bisa berharap banyak saat ingat kalau pesanku saja nggak pernah dibalas oleh Arki sampai sekarang.
Mungkin malam ini aku menjadi orang yang kurang beruntung karena nggak ada teman atau pasangan yang akan mengiringiku di karpet merah dan lantai dansa. Syeril dan Akira sudah pasti dengan pasangan mereka masing-masing. Sedangkan Willa pasti akan menyeludupkan Reska diantara yang lainnya.
Bahkan Jehan saja yang sejak dulu nggak punya pacar, untuk malam ini ia mendadak dapat pasangan, entah darimana. Aku memisahkan diri dari mereka di saat acara masih belum dibuka secara resmi untuk acara utama.
Aku berjalan ke tempat yang lebih sepi untuk mencari udara segar. Kalau saja Willa nggak memaksaku untuk ikut di acara prom night ini, mungkin aku sudah tidur malam ini. Apa aku pulang saja?
Ketika aku hendak melepaskan topengku, seseorang tiba-tiba berdiri di depanku. Detik itu, aku hanya bisa melihat sepatunya karena kepalaku yang menunduk. Karena aku penasaran, aku lantas mengangkat wajahku untuk melihat pemilik sepatu berbahan kulit mengkilap dengan pakaian formal itu. Meskipun area matanya tertutupi oleh topeng hingga menyisakan sebagian wajahnya, aku tetap mengenal orang itu dari warna netra matanya.
"Arki...?"
Aku hanya bergumam tanpa suara. Sedangnya ia hanya tersenyum, lalu berkata, "Gue datang karena khawatir lo nggak ada pasangannya untuk berdansa."
Hanya karena itu?
Lalu, bagaimana dengan kemarin-kemarin aku yang terus mencarinya? Dan Arki hanya datang karena mengkhawatirkan hal itu.
Namun, mau sebanyak apapun aku marah, semuanya tertahan oleh uluran tangan Arki yang memintaku untuk menyambutnya. "Let us stride together down that red carpet."
Aku meraih tangan itu karena acara utama akan segera dimulai. Aku senang sekaligus marah, dan ada perasaan-perasaan yang lain, hingga rasanya campur aduk di dalam dadaku. Ingin rasanya aku menumpahkan semuanya pada cowok itu sekarang juga, tapi genggaman hangat tangan itu membuat aku terpaksa meredamnya kembali. Mungkin nanti, aku harus memarahinya untuk sebuah kesalahan yang berkali-kali aku maafkan.
Setelah serangkaian acara terlaksana dengan baik tanpa hambatan apapun, sekarang adalah waktunya berdansa dengan diiringi musik romantis. Jarak antara aku dan Arki begitu dekat tatkala tubuh kami berayun-ayun mengikuti musik, hingga aroma tubuhnya yang kurindukan itu terus menyapa indera penciumanku. Sejak tadi, nggak ada kata yang keluar dari mulutnya itu, hanya mata kami yang berkomunikasi untuk sebuah kerinduan yang lama terkurung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Teen FictionMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
