part 08 : cilor obatnya

162 29 3
                                        


𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃

Arki

Agak aneh kalau suasana rumah yang dihuni oleh tiga orang ini tiba-tiba sepi. Terlebih kami berkumpul di ruang makan. Gue juga heran kenapa Mama terus-terusan lihat gue yang lagi ngunyah ayam serundeng spesial kesukaan gue.

Sedangkan di samping gue, Bang Arka makan dengan santai. Beda sama gue yang cukup berantakan. Gue akui, Bang Arka terlalu rapih untuk disandingkan dengan gue yang berantakan dalam segala hal. Gue juga bingung harus memperbaikinya dari mana.

"Kenapa sih? Kok pada diem-dieman gini?" Gue melirik Mama dan Bang Arka bergantian.

"Makan dulu, sayang." Mama mendekatkan semua lauk pauk ke piring gue. "Abis ini Mama mau ngomong."

"Ngomong apa, Ma? Ngomong aja sekarang. Arki soalnya mau pergi abis ini."

"Mau kemana?" Mama sedikit mendesah kelas. "Keluyuran mulu tiap malem. Kamu nggak belajar buat ujian nanti? Udah kelas 12 loh sekarang. Masa mau gitu-gitu aja," protesnya.

"Ya gimana lagi? Kalau nggak gini ya gitu-gitu aja, Ma." Gue menjawab dengan asal sambil mengedikan bahu.

"Abisin dulu makanannya." Mama kayaknya gereget lihat gue makan tapi ngomong mulu. "Sebentar aja, Mama mau ngomong dulu sama kamu. Jangan dulu keluar."

"Baiklah." Gue manggut-manggut sebelum melanjutkan kegiatan makan malam ini.

Usai dengan makan malam yang lebih banyak heningnya itu, gue berakhir disini, di teras belakang rumah. Duduk bersampingan dengan Mama di kursi rotan. Kami hanya dibatasi dengan meja bundar yang cukup kecil.

"Arki ...." Panggilan Mama menginterupsi gue dari gawai yang sejak tadi dimainkan. "Simpan dulu hpnya, sayang."

Gue menuruti apa yang Mama suruh. Wanita cantik itu kini sudah sepenuhnya menghadap kearah gue. Beliau memang masih cantik di umurnya yang sekarang sudah 45 tahun.

"Mama mau ngomong apa?" tanya gue, agak kurang sabaran karena gue udah janji kalau hari ini mau ngisi live music di kedainya Koko Kevin.

"Mbah Kakung kemarin hubungi Mama," katanya, nada suaranya penuh kehati-hatian. Mungkin Mama khawatir mood gue langsung berubah tatkala Mbah Kakung disebut.

"Terus?" Gue jawab dengan nggak acuh.

"Beliau nanyain kabar kamu sekarang dan gimana sekolah kamu disini." Mama terdengar menghela napas lelah. "Mama bingung harus jawab apa di saat Mama sering terima laporan dari guru BK kalau kamu sering buat masalah."

Dari nada bicaranya, Mama seperti frustasi terhadap prilaku gue yang nggak baik di sekolah.

"Ya tinggal bilang apa adanya aja," jawab gue.

"Arki ... Mama mohon!" Mama mulai merendahkan suaranya. "Jangan seperti ini terus. Kapan kamu mau berubah? Ayolah, kamu ini sudah kelas 12, waktunya kamu memikirkan masa depan."

"Memikirkan bagaimana caranya masuk kedokteran di Universitas yang Mbah Kakung mau, gitu?" tanya gue, terdengar sarkas.

Mama diam, menatap gue. Rupanya dia lelah dengan kepala gue yang batu banget kalau dinasihati. "Arki udah pernah bilang, nggak mau kalau harus jadi dokter."

"Itu sudah ketentuan keluarga kita, sayang."

"Jadi, Arki nggak berhak untuk memilih mimpi Arki sendiri? Ini hidup Arki, Arki berhak menjadi apa yang Arki mau, bukan menjadi apa yang kalian mau."

Pada akhirnya, gue nggak bisa menahan diri untuk meninggikan suara gue. Mama sudah pasti terluka dengan apa yang gue katakan, terlihat dari raut wajahnya sekarang. Kecewa. Itu yang nampak di matanya.

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang