part 14 : khawatir

131 29 2
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

Hidup tanpa terlihat oleh banyak orang. Hidup tanpa menjadi kebanggaan siapapun. Hidup tanpa sebuah mimpi yang besar. Hidup tanpa tujuan yang benar-benar ingin dituju. Hidup tanpa pencapaian apapun. Hidupku seperti itu. Datar. Nggak menarik sama sekali. Selama ini aku menjalani hidup dengan sekadar hidup tanpa arti.

Aku nggak pernah dipuji atas pencapaianku. Siapa juga yang mau memujiku di saat aku nggak memiliki siapa pun yang peduli pada hidupku? Aku nggak berusaha untuk membanggakan siapapun, karena nggak pernah ada yang mengharapkan apapun dariku. Aku hanya hidup, dan di mata Papa hanya itu yang penting. Yang terpenting aku dapat hak hidup sebagai tanggung jawabnya, dan selebihnya beliau nggak peduli.

Aku menjalani hidup hampir 18 tahun dengan bangkit sendirian dari segala takut yang aku miliki. Aku nggak pernah merasakan genggaman hangat yang mau mengiringi untuk berjuang. Aku benar-benar sendiri. Bahkan untuk kembali merasakan genggaman tangan nenek dulu, ingatanku nggak cukup kuat untuk mengingatnya.

Aku terbiasa dengan itu, dan aku baik-baik saja karena aku membiasakan diri. Hingga pujian Arki menyelamatkanku dari kelamnya kesendirian. Ia seolah menarikku dari lubang yang dalam dan gelap, yang nggak pernah aku temukan dasarnya. Genggaman tangannya itu membuat aku merasakan hidup, yang benar-benar hidup, karena jantungku detaknya cukup terasa.

Aku merasa diakui sebagai diriku sendiri. Tapi aku juga sebenarnya takut, aku takut Arki mengetahui siapa aku dan menjauh. Siapa memang yang tidak jijik kepada anak haram sepertiku? Aku pernah dirundung habis-habisan saat SMP ketika salah satu temanku tahu bahwa aku adalah anak haram. Mengingat bagaimana menakutkannya aku ditertawakan, dihina, dan bahkan sampai dikurung di kamar mandi yang gelap, membuat aku merasa sesak napas.

"Kamu nggak apa-apa, Mika?"

Willa menyadari gelagat anehku sejak tadi. Aku terus memikirkan perilaku baik Arki kemarin sampai pikiranku merembet kemana-mana, sehingga Willa melihat wajahku sudah pucat karena mengingat peristiwa buruk di hidupku.

"Muka kamu pucet banget loh. Kamu lagi nggak sehat, ya?" Willa memegang tanganku yang dingin dan basah karena berkeringat. "Nggak deh. Kamu lagi nggak sehat. Mau ke UKS? Aku anterin ya?"

Aku makin pusing ketika Willa terus menanyakan keadaanku. Aku sulit menjawabnya karena napasku semakin berburu. Sejak pagi kondisi tubuhku memang sudah nggak mengenakan, dan di jam istirahat ini aku makin merasakan demam di tubuhku, dan ditambah rasa sesak di dadaku.

"Nggak apa-apa, Will. Aku tidur di kelas aja. Nanti juga bakalan mendingan," ucapku susah payah.

Aku menelusupkan kepalaku di antara dua lipatan tangan. Aku begitu cepat tertidur, hingga nggak merasakan apapun lagi. Aku benar-benar tidur ... atau mungkin aku pingsan. Karena ketika aku bangun lagi, aku sudah berbaring di ranjang UKS.

Aku nggak menemukan siapapun ketika aku membuka mata. Tirai yang tertutup di setiap sisinya membuat aku nggak bisa melihat keadaan di UKS. Aku juga nggak mendengar suara siapapun di sana.

Kemudian, aku menghela napas berat. Mau di rumah ataupun di UKS, aku hanya akan merasakan kesendirian ketika aku sakit. Ada rasa hangat yang mengalir di area pelipisku. Aku menangis. Aku menangisi hidupku yang menyedihkan. Di saat aku sedang demam begini, rasanya penderitaanku begitu menyakitkan. Nggak ada seorang yang peduli di hidupku membuat aku merasa benar-benar sendiri. Aku menutup mulutku agar suara isakan tangisku nggak terdengar keluar.

***

Arki

Melihat bagaimana raut wajah Mika yang pucat dan muram, gue jadi nggak berani untuk mengusilinya pagi ini atau sekadar basa-basi yang ujungnya pasti membuat dia kesal. Selama mata pelajaran berlangsung gue nggak sama sekali memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan, gue malah terus melirik Mika. Dia terus-terusan pegang kepalanya dengan kernyitan samar di wajah. Padahal terakhir kali gue lihat semalam, dia baik-baik saja, tapi kenapa dia sekarang kelihatan nggak sehat?

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang