𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Arki
Biasanya gue paling males kalau masuk kelas, bawaannya pengen mabal saja. Tapi sejak gue sering usilin Mika, gue jadi lebih semangat masuk kelas di setiap mata pelajaran. Meskipun gue masuk kelas cuma buat lihat setiap ekspresi wajah Mika, tapi tetap sukses membuat para guru heran.
"Penyakit kelas 12 itu tiba-tiba rajin, kayak Arki contohnya." Pak Budi, guru PKN menunjuk kearah gue. "Kamu sudah mengerjakan tugas minggu lalu belum?"
Gue pastinya masang cengiran tanpa beban. "Tugas yang mana ya, Pak?"
"Hadeh ... Kamu masih menanyakan tugas yang mana. Kamu kalau masuk kelas itu merhatikan guru tidak? Atau malah merperhatikan cewek di sebelahmu itu?" Kali ini Pak Budi menunjuk kearah Mika yang membulatkan matanya, bingung karena namanya tiba-tiba disebut. Pak Budi sejak tadi kayaknya merhatiin gue dari depan.
Mika kelihatannya cukup risih karena diperhatikan oleh satu kelas. Sedangkan gue berusaha mencari alasan. "Nggak merhatiin kok, Pak. Dari tadi saya cuma berusaha buat negur dia yang menggambar di saat Bapak lagi menjelaskan di depan. Nggak sopan ya, Pak?"
Kali ini Mika melotot tajam ke arah gue yang cepu. Gerakannya terburu-buru menyembunyikan buku gambar di laci meja ketika Pak Budi berjalan ke belakang. Rasanya gue pengen ketawa lihat wajah paniknya barusan. Siapa suruh juga dari tadi malah sibuk gambar, nggak sama sekali minat sama materi yang Pak Budi sampaikan.
"Yang Arki bilang itu benar?" tanya Pak Budi.
Mika diam menunduk, nggak menjawab, dan Pak Budi menganggap diamnya itu jawaban iya.
"Kalau mau melakukan hobi, usahakan jangan saat mata pelajaran berlangsung," nasihat Pak Budi. "Kali ini saya beri toleransi, untuk selanjutnya jangan diulangi ya?"
Mika mengangguk paham. Pak Budi memang baik. Beliau guru yang cukup asyik menurut gue. Belajar dengan beliau nggak menegangkan seperti guru lain yang killer. Beliau guru yang terbilang masih muda, dan berusaha menyesuaikan diri dengan kami, para siswanya.
"Dan kamu Arki, kerjakan tugasnya. Saya beri waktu sampai besok. Kumpulkan di meja saya ya!" titah Pak Budi sebelum keluar kelas, karena bel istirahat sudah berbunyi.
***
Mika
Aku menatap nyalang pada cowok yang tersenyum tengil di seberang mejaku. Hatiku amat kesal melihat wajah Arki - yang sayangnya masih kelihatan tampan meskipun rambutnya berantakan. Kalau kata Willa justru itu salah satu daya tarik yang Arki miliki selain wujud keseluruhan tubuhnya yang berkharisma.
Sejak tadi Arki terus saja berusaha untuk menjahiliku, dimulai dari kebiasaannya yang sering nyepuin apa yang aku lakukan kepada guru mata pelajaran, lempar-lempar bola kertas kecil sampai di bawah mejaku penuh dengan sampah, dan terus menggangguku dengan caranya sendiri. Beginilah sehari-hariku di kelas, aku melawan jika mau, tapi kalau sedang tidak memiliki energi aku pasti nggak mengindahkannya.
"Nih, buat lo."
Arki tiba-tiba menyimpan sesuatu di mejaku sebelum pergi. Jepit rambut dengan karakter bunga matahari. Aku mengernyit bingung terhadap benda kecil itu. Impulsif sekali tindakannya itu. Mana nggak ngasih penjelasan apapun pula. Apa maksudnya coba?
"Kiw! Kiw!" Willa yang sejak tadi sudah berbalik ke belakang malah menggodaku. "Dikasih jepit rambut sama Arki nih."
"Apaan sih, Will. Dia nggak jelas banget tahu!" cetusku.
"Daritadi Arki liatin kamu terus tahu, Mik. Masa kamu nggak peka sih?"
"Dia lagi mikirin gimana caranya buat jailin aku lagi. Aku tahu banget akal bulus dia, Will. Dia tuh-." Ucapanku tertahan oleh gigi yang bergemeletuk. "Ngeselin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Teen FictionMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
