𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Mika
Aku melihat Arki pagi ini. Aku tahu Arki juga sempat menyadari keberadaanku, tapi dia berlagak seolah asing, padahal malam itu kami begitu akrab. Karena dia adalah siswa yang dikenal badung, siswa-siswi yang lain nggak aneh ketika melihat wajahnya yang lebam-lebam. Tapi bagiku cukup mengerikan melihatnya dari jarak dekat seperti ini.
Sejak jam pelajaran dimulai, Arki sama sekali nggak mengalihkan perhatiannya dari jendela. Aku yakin bukan pemandangan diluar sana objek matanya, melainkan pikirannya sendiri. Arki sedang melamun dengan raut wajah muram, nggak seperti biasanya.
"Baik, sekarang kumpulkan tugas minggu kemarin!"
Perintah Bu Dwi membuatku harus mengalihkan pandangan dari cowok itu. Arki tiba-tiba beranjak, sehingga hampir membuat semua mata tertuju padanya.
"Saya nggak ngerjain tugas, Bu." Arki mengaku dengan santai.
Kemudian, ia melirik kepadaku dengan senyum tengilnya. Aku menatapnya dengan curiga. Mau ngapain dia?
"Dia juga nggak ngerjain tugas, Bu."
Aku kaget saat Arki menunjukku tanpa ragu. Aku segera memeriksa tasku, tapi aku sama sekali nggak menemukan kertas polio disana. Padahal aku sepenuhnya yakin kalau tadi pagi aku memasukan kertas polio berisi tugasku ke dalam tas. Aku berdesis sebal saat bertemu tatap dengan si tengil itu. Alisnya naik turun, seolah mengolok-olok diriku.
Arki sialan!
Aku nggak berhenti merutuki cowok tengil itu. Dialah yang membuat kami harus berakhir disini, di perpustakaan yang luas ini.
"Kalian lagi?" tanya staff perpustakaan.
Aku hanya tersenyum kikuk. Sedangkan Arki ... ya begitulah. Si tengil itu bahkan sudah hilang setelah kami diberi tugas merapihkan buku dalam lima book cart penuh.
Setelah habis satu book cart, aku menemukan dia tidur di tempat waktu itu, di bawah jendela dengan angin sepoi-sepoi. Kali ini Arki cukup pintar, dia main aman dengan melepas sepatu dan mendudukinya.
Aku berdecih samar melihat aksinya itu. "Pikirannya bener-bener buruk, deh. Lagian siapa juga yang mau lempar sepatunya," gumamku.
Aku diam sebentar, rehat dari kegiatanku. Wajah Arki sekarang membuatku ngilu. Lebam ungu di rahang kirinya pasti sakit, apalagi lebam di pangkal hidung mancungnya yang berikut dengan goresan kecil berdarah, tapi darahnya sudah kering. Di bibir tipisnya juga ada luka, sedikit sobek di ujungnya.
Meskipun sudah babak belur begitu, Arki masih tetap tampan. Dunia ini sangat tidak adil untuk orang-orang yang memiliki wajah pas-pasan. Tiba-tiba aku ingin sekali membuat wajahnya makin babak belur ketika ingat bagaimana usilnya dia padaku. Selesai ini, terpaksa aku harus menulis ulang tugasku karena Arki bilang kertas polio milikku sudah dibuang ke kolam ikan. Ya, dia balas dendam perihal sepatunya yang nyemplung tempo hari.
Aku sepertinya bersyukur tanpa sadar melihat dia tersenyum, meskipun hanya senyum tengil yang dia perlihatkan, setidaknya wajah muramnya itu nggak berlama-lama bersarang disana. Aku juga penasaran, apa yang terjadi pada Arki selama dua hari kemarin, sampai wajahnya bonyok begini?
Aku lekas pura-pura sibuk merapikan buku-buku di depanku ketika kepala Arki bergerak nggak nyaman. Saat aku meliriknya sekilas, dia sudah bangun dan melihatku lama, hingga aku gelagapan.
"Kenapa malah tidur?" cetusku. "Masih banyak tuh kerjaan. Yang dihukum kan bukan aku doang."
Arki masih diam memperhatikanku. Rupanya dia hanya menganggapku lelucon disini. Protesanku nggak benar-benar dia dengarkan. Beberapa saat kemudian, dia beranjak dari tempatnya. Aku sempat bengong melihat dia mendorong book cart. Dia dapat hidayah darimana ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Teen FictionMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
