𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Mika
Apakah kalian kira setelah jadian, Arki akan bersikap lebih baik dan romantis padaku? Perkiraan kalian salah besar setelah tahu apa yang baru saja Arki lakukan padaku beberapa saat lalu. Hidungku mimisan setelah terkena lemparan bola dari Arki tepat mengenai wajahku. Lalu, kalian tahu apa yang dia katakan setelahnya? Dia malah menyalahkanku karena aku ceroboh, dan kurang cekatan ketika bermain permainan bola tangan pada mata pelajaran olahraga hari ini.
"Perlu ke rumah sakit kayaknya, Bu. Ini patah nih tulang hidungnya."
Aku melayangkan delikan tajam pada Arki yang sejak tadi bawel dan terus mempertanyakan kondisi hidungku pada Bu Melan, petugas UKS, karena nggak berhenti mengeluarkan darah.
"Mau ke rumah sakit saja?" tanya Bu Melan.
"Nggak usah, Bu. Ini bentar lagi juga pasti darahnya berhenti," sergahku.
"Ya sudah, kalau ada keluhan yang lain bilang ya? Takutnya ada masalah sama tulang hidung kamu." Bu Melan tersenyum ramah setelah memeriksaku. "Kalau begitu saya pergi dulu."
Selepas kepergian Bu Melan, Arki langsung mendekatiku. Dari wajahnya sih kelihatan dia khawatir banget sejak tadi, cuman mulutnya saja yang kurang ajar kalau ngomong. Sejak pagi Arki nggak pernah sekali pun menyapaku. Baru sekarang dia mau dekat-dekat seperti ini, itupun karena kesalahannya.
Orang kalau jadian mah lebih diperhatikan, kan? Ini mah boro-boro. Waktu berangkat sekolah juga dia nggak sama sekali mengajakku berangkat bareng. Ini kemarin kita jadian itu bukan mimpi, kan? Atau kemarin itu cuma khayalan aku saja? Tapi aku yakin, kemarin itu nyata. Bahkan dia sendiri yang memutuskan untuk jadian.
"Malah bengong!"
Telunjuknya menoyorku dengan nggak sopan. Aku berdesis kesal.
"Masih sakit nggak?" tanyanya.
"Ya kamu pikir aja!" Aku jelas sewot, tentu karena sikapnya.
"Galak banget. Apa ini karena pengaruh dari hidung lo yang berdarah ya?" Nada bicaranya jelas meledekku. Lihat dia sekarang, tersenyum tengil dengan seringai jahil di wajahnya.
"Bilang maaf, nggak buat kamu hilang harga diri deh kayaknya," ketusku.
Arki langsung meraih wajahku, menangkupnya dengan kedua tangan. "Maaf ya, cantik? Tadi seriusan nggak sengaja."
Aku kicep dipanggil dengan sebutan seperti itu. Hampir saja aku melengkungkan bibir, tapi perkataan Arki selanjutnya membuat aku memberenggut tajam. "Lagian, lo sih kalau gue panggil tuh noleh. Lamban banget diajak kerja sama. Lain kali kalau ada permainan kayak gitu jangan satu tim sama gue lagi ya? Repot."
Aku langsung menepis tangannya dengan kasar. "Ngeselin banget!"
Arki tergelak melihatku ngambek. "Jelek lo kalau ngambek!"
"Biarin!"
"Nggak bisa. Gue nggak bisa punya pacar jelek!"
Aku makin geram, sedangkan Arki makin tergelak. Puas setelah mengusiliku habis-habisan dengan kata-katanya. Namun, aku nggak sampai tersinggung karena aku sudah terlalu biasa.
***
Menemukan hal yang kamu sukai termasuk bertahan hidup. Begitulah kira-kira kata Arki ketika aku diajak ke paviliumnya, ruangan pribadinya yang dijadikan tempat tinggal perliharaannya. Selain kandang-kandang hamster dari yang kecil maupun besar, disana juga terdapat akuarium yang berisi ikan koki dan jenis-jenis ikan kecil yang lain. Akuarium sebesar televisi 32 inch itu ada tiga, ikut serta mengisi ruangan monokrom yang berukuran 8x8 meter. Dua jenis hewan itu adalah hal yang dia sukai, dan baginya menyukai ikan-ikan kecil dan hamster adalah bagian dari bertahan hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Teen FictionMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
