part 28 : dia pergi lagi ...

126 22 2
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

Sejak mengenal Arki, aku diperkenalkan pada hal-hal yang nggak pernah aku temui. Salah satunya adalah sebuah kebersamaan. Dulu aku berpikir bahwa kebersamaan itu hanya akan kita temui saja di dalam lingkungan kerluarga, tapi setelah bertemu Arki, aku jadi tahu dan merasakan kebersamaan dengan orang-orang yang sebelumnya nggak aku kenal. 

Keakrabanku dengan teman-teman Arki ternyata nggak hanya sebatas teman di Villa tempo hari saja, tapi sampai berbulan-bulan aku lewati di tahun yang baru ini, kami masih berteman sangat akrab, bahkan aku yang nggak terlalu suka berkumpul, sekarang aku jadi sering diajak main oleh Akira dan Syeril. 

Nggak jarang juga aku diajak nongkrong oleh Arki di sebuah kedai milik abangnya Nevan, yaitu Kedai Koko Kevin yang ada di sekitar Braga. Sungguh, aku nggak menyangka bisa diterima dengan baik oleh lingkungan yang sering menjadi tempat main Arki.

Setelah menjalani semester genap sekaligus semester terakhir kami di kelas 12, di tahun baru ini, aku seringkali menghabiskan waktu untuk belajar bersama Arki. Perubahan yang Arki tunjukkan begitu signifikan, aku bahkan kadang nggak percaya dia jadi serajin itu. Namun, sampai saat ini aku masih nggak tahu bidang apa yang Arki minati kalau bukan kedokteran. 

Arki itu masih sama sampai sekarang, masih belum terbuka soal apapun kepadaku, padahal aku menunggu momen dimana ia bisa menceritakan semuanya.

"Kalau soal yang ini lo paham- ... Ngapain lo liatin gue sampai segitunya sih?"

Sore ini aku menemaninya duduk di perpustakaan sekolah. Aku nggak terlalu suka belajar lama-lama. Setelah lima menit belajar, aku langsung menutup buku dan terus memperhatikan Arki yang gantengnya itu tumpah-tumpah kalau sedang berada di mode fokus. Akibatnya, ia jadi protes ketika aku nggak berhenti memandangnya.

"Lo nggak belajar?" tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu, lekas membuka buku gambarku dan mulai mengarsir sesuatu. Aku tahu, apa yang harus aku gambar. Ya, aku harus menggambar wajah Arki. Sayang kalau hanya dipandangi tanpa aku abadikan di sebuah gambar.

"Masuk seni juga harus tes dulu. Lo harus belajar biar lo bisa lulus tes di Universitas yang lo mau," ujar Arki, yang tampak kesal ketika aku hanya bermalas-malasan sejak tadi.

"Bawel," celetukku, tetap sibuk sendiri. 

Sedangkan Arki kembali melanjutkan kegiatannya setelah menggerutukan kata terserah dengan kata-kata pengikutnya yang lain, yang pastinya kata-kata yang bermaksud mengejekku.

Di sela-sela kegiatannku, sesekali aku melirik wajahnya untuk memastikan bahwa apa yang aku gambar sesuai atau nggak. Namun, di saat aku sedang fokus-fokusnya Arki tiba-tiba berbisik sehingga aku hampir melempar pensilku karena kaget. Arki mendadak membisikkan kalimat, "Lo cantik."

Apa maksudnya coba dia tiba-tiba bilang begitu sambil senyam-senyum nggak jelas. Wajahnya itu begitu lelah, terlihat dari matanya yang mengantuk. Seharian ini, manusia satu itu sibuk mengerjakan soal-soal yang memungkinkan akan muncul di tes masuk PTN.

"10 menit lagi bangunin gue ya? Tidur dulu bentar." 

Matanya sudah terpejam dengan kepala yang diletakan di antara lipatan tangannya. Aku rasa Arki memang sepercaya diri itu sampai menyuguhkan sebuah pemandangan wajahnya yang ganteng itu kepadaku.

Alih-alih melanjutkan gambar hasil tanganku, aku lebih tertarik melihat mahakarya Tuhan. Aku mendekati wajahnya, hingga jarak wajah kami hanya satu jengkal saja. Dari jarak sedekat itu, aku bisa melihat bintik-bintik keringat tipis di pelipis dan hidungnya yang bangir. 

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang