part 23 : Ersya

114 22 6
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Arki

Akhir-akhir ini gue merasa baik-baik saja, menikmati hidup gue yang sekarang ditemani oleh Mika. Terlebih gue mendapatkan kabar yang lumayan menenangkan hati. Setelah gue menghabiskan waktu di ruang hamster tempo hari bersama Mika, gue ditelpon oleh seseorang.

"Arki ... Eca bicara ... dia manggil-manggil Mama, dua kali."

Suara parau Mama kala itu di seberang telepon, membuat gue segera bergegas ke Jakarta. Beberapa jam mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, gue sampai di sebuah pusat rehabilitasi mental atau bisa disebut sebagai rumah sakit jiwa, tapi ini cukup besar daripada kebanyakan rumah sakit jiwa lain, di dalamnya terdapat fasilitas yang lengkap, salah satunya adalah kamar asrama yang dalamnya seperti kamar hotel mewah.

Gue berlari masuk ke gedung itu setelah memarkirkan mobil. Satpam yang sedang berjaga sudah nggak asing dengan gue yang cukup sering berkunjung, jadi ia membiarkan gue masuk tanpa ditahan terlebih dahulu mengingat hari sudah lewat tengah malam.

Ketika gue sampai di depan pintu, dada gue berdebar, campur aduk rasanya ketika tangan gue sudah memegang daun pintu. Namun, gue tetap masuk dan mengabaikan segala rasa dalam hati gue.

"Suuttt! Eca baru aja tidur." Mama melihat kedatangan gue. Beliau terus memegang tangan seorang perempuan yang berusia satu tahun di bawah gue. Dia tertidur dengan tenang disana. Gue memang sudah menduga dia sudah tidur sebelumnya, makanya gue berani masuk.

Gue menghela napas melihat wajah yang begitu mirip dengan Mama. Gue merasa lega karena wajahnya nggak sekusut yang sebelum-sebelumnya gue lihat. Artinya dia lebih hidup daripada kemarin. Namanya Ersya. Dia adik gue, anak bungsu Mama yang terpaksa tinggal disini untuk melakukan perawatan mental gara-gara kejadian tiga tahun yang lalu. Gue salah satu penyebabnya.

"Katanya Eca akhir-akhir ini lebih tenang. Mama senang mendengar kondisinya yang cukup baik daripada sebelumnya. Setidaknya, doa Mama dikabulkan pelan-pelan." Nggak sekali pun mata Mama beralih dari wajah adik gue.

Meskipun lampu ruangan sudah temaram, gue masih lihat lewat pancaran cahaya lampu tidur bahwa mata Mama berkaca-kaca. Mama sudah terlalu lama melihat anaknya menderita seperti itu, wajar jika beliau begitu terharu melihat setiap perkembangan kecil dalam proses penyembuhan Ersya.

Gue mendekati Mama yang sedang duduk di bawah ranjang dengan alas karpet bulu dan ikut duduk di sampingnya. "Maaf, Ma .... Arki minta maaf."

Entah sudah berapa ribu kali gue minta maaf pada Mama dengan wajah tertunduk malu. Gue adalah penyebab lukanya, tapi nggak pernah sekalipun Mama marah. Rasanya akan lebih baik kalau beliau membenci gue dan mencaci maki gue, dari pada gue masih diperlakukan seperti manusia di saat gue sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

Malam itu, gue menginap disana. Gue nggak pulang beberapa hari hanya untuk menyaksikan dan menunggu-nunggu momen dimana Ersya mau bicara lagi setelah cukup lama dia membisu dengan sorot mata kosong. Namun, terkadang dia juga akan teriak-teriak, melempar-lempar sesuatu di dekatnya, dan yang paling parah adalah mencoba untuk bunuh diri. Sejak saat itu, gue nggak lagi mengenal Ersya yang ceria, dia begitu muram, takut pada laki-laki dan pelan-pelan melupakan banyak orang di memori kepalanya. Bahkan, ia nggak mengenal gue. Kombinasi gangguan mental yang Ersya alami membuatnya jadi seperti itu.

"Mama ...."

Pagi-pagi sekali, saat hendak pamit pulang ke Bandung setelah cukup lama gue tinggal disini, gue mendengar suara Ersya untuk pertama kalinya lagi. Gue menahan diri untuk nggak mendekati Ersya yang sedang duduk di sebuah kursi kayu di taman bersama Mama. Gue memperhatiakan Mereka dari kejauhan. Mata gue berkaca-kaca. "Abang kangen suara Eca."

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang