part 17 : be present in this moment

123 26 6
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

Arki benar-benar membuktikan perkataannya. Ia selalu peka terhadap sikapku yang kadangkala terlihat murung. Cowok tengil itu akan selalu mengajakku beli eskrim dan jajan cilor sambil berbincang di depan Circle K sampai pukul sembilan malam. Tanpa bertanya-tanya apa yang menjadi penyebabku murung, Arki lebih memilih menceritakan hal-hal random di hidupnya, seperti pengalamannya dulu yang pernah dikejar banci lampu merah sampai trauma berat, terus waktu kecil juga dia pernah dikejar monyet di kebun binatang karena sempat menjahili monyetnya. 

Dan yang membuat aku tertawa sampai terpingkal-pingkal adalah waktu SMP dulu Arki pernah dihukum karena mengambil celana pramuka yang menggantung di bilik toilet, ia kira celana itu milik temannya dengan niat usil mau menyembunyikannya, tapi nahasnya celana pramuka itu milik gurunya yang killer, yang kebetulan sedang buang air di toilet siswa karena mungkin nggak bisa menahan hajat untuk pergi ke toilet khusus guru. Arki ini memang tengilnya sudah sejak dini. Benar-benar ya .... Aku sampai menitikan air mata karena terlalu puas tertawa.

Setelah tawaku reda, aku baru sadar ternyata sejak tadi Arki memperhatikanku dengan tatapan yang nggak bisa aku tebak. "Kenapa?"

"Nggak." Arki menunduk, melirik kaleng minuman kosong yang sejak tadi ia mainkan. "Baru kali ini gue lihat lo ketawa segitunya."

Jujur aku sedikit terkejut ketika menyadari bahwa suara tawaku mungkin mengganggu orang-orang di sekitar, tapi tampaknya mereka yang berada di sekitarku nggak acuh dan sibuk dengan dunia mereka masing-masing, apalagi suara yang ramai dengan musik di sebuah cafe dan suara riuh manusia bersatu padu sehingga tawaku nggak menjadi hal yang berarti bagi sekitar.

"Lo tahu nggak? Hal kecil apa yang sering manusia lupakan?"

Arki tiba-tiba bertanya demikian tanpa menoleh padaku. Matanya masih tertuju pada botol kosong di tangannya. "Apa?" tanyaku.

"Menikmati momen yang sedang terjadi."

Aku mengernyit bingung, otakku masih belum mencerna perkataannya yang belum rampung.

"Manusia sering lupa bahwa yang paling penting itu menikmati momen saat ini. Mereka seringkali berada dalam satu momen dengan pikiran yang nggak ada di momen tersebut. Misalnya, mereka sedang berkumpul dengan keluarga, tapi pikirannya memikirkan besok, atau kesalahannya di masalalu." Jeda beberapa saat dan nggak membuatku menyela perkataannya, aku tetap diam mendengarkan.

I see! Aku paham apa yang Arki maksudkan dalam rangkaian kalimat itu. Memang benar, manusia itu terlalu naif untuk menikmati sebuah kehidupan. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan hari besok, tanpa hadir terlebih dulu di momen saat ini.

"Gue selalu menemukan manusia seperti itu termasuk diri gue sendiri, tapi gue nggak lihat hal itu di diri lo." Kali ini barulah Arki mengangkat wajahnya lagi dan menatapku. "Gue melihat lo hadir sepenuhnya di momen ini bersama gue. Lo ketawa ketika mendengarkan lelucon aneh gue, lo selalu melihat ke sekitar lo untuk mengamati dan meyakinkan diri bahwa lo benar-benar ada di tempat ini, tanpa membawa beban pikiran tentang besok. Hal itu sudah menandakan bahwa you're present in this moment. Itulah kenapa gue selalu nyaman di dekat lo." Begitu dalam Arki menatapku, hingga aku takut ... takut tenggelam dan nggak dapat menemukan dasarnya. " ...Karena bersama lo, gue pun ikut hadir di momen saat ini."

Aku pun baru menyadarinya, kenapa bebanku terasa ringan ketika bersama Arki. Semua kesedihanku selalu terlupakan dan aku selalu ingin menikmati dan hadir sepenuhnya ketika sedang bersama Arki, karena aku nggak tahu entah kapan hal ini berakhir. Karena bagiku, Arki tetap terasa jauh untuk aku gapai, meskipun Arki sendiri yang berusaha keras menarikku ke tempatnya.

Aku nggak mengira kalau ternyata perkataan Arki itu tertuju padaku. Setelah sering berbincang seperti ini, aku menemukan satu hal yang nggak orang lain ketahui tentang Arki, yaitu Arki pandai menata kalimat dengan baik dan penuh makna. Di balik sifat tengilnya, Arki juga memiliki hati yang lembut dan tulus. Aku merasakan hal itu terkoneksi dengan hatiku, sehingga hatiku selalu ingin ditarik lebih kencang untuk bisa bersatu dengan hatinya. Tapi apakah bisa?

***

Arki

Jarang sekali gue bertemu dengan manusia yang benar-benar hadir di setiap momennya. Mereka hidup untuk bertemu besok, mereka banyak berpikir bagaimana tentang masa depan yang nggak pasti tanpa menyadari bahwa saat ini pun penting untuk dihadiri sepenuh jiwa, karena dengan kita menikmati hidup tanpa terlalu khawatir tentang hari esok adalah bentuk rasa syukur.

Begitu kurang lebih apa yang Bang Arka katakan dulu. Dia adalah seorang yang hidupnya terlalu lurus, mengikuti alur yang memang sudah direncana oleh keluarga sejak bayi. Ia pandai menuturkan kalimat yang bermakna, dan gue mengikutinya. Gue selalu mengikuti perkataannya yang terkadang sulit dimengerti dengan kemampuan otak gue yang masih jauh di bawahnya.

Namun, satu hal itu sulit untuk gue lakukan sebagai seorang yang pernah terjerembab pada suatu peristiwa yang cukup membuat gue hancur. Gue sudah jarang hadir di momen saat ini, di pikiran gue masih terus wara wiri tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Gue nggak pernah bisa fokus menjalani hidup setelahnya. Itulah kenapa hidup gue sekarang nggak ada tujuan, nggak seperti Bang Arka yang memang berjalan perlahan tapi pasti ke masa depan yang gemilang. Gue nggak bisa, jati diri gue masih terkurung di suatu tempat yang gelap, yang nggak bisa gue temukan dimana pun.

Tapi setelah gue duduk bersama Mika, bercanda dan tertawa dengan perempuan manis itu, gue seperti menemukan diri gue yang hilang. Gue sejenak melupakan mimpi buruk itu, ya ... gue sebut mimpi buruk dengan harapan agar kejadian itu benar-benar mimpi, tapi nyatanya semesta enggan berpihak pada gue. Mika bisa hadir di dunianya sendiri, hadir di momen saat ini, dan ketika bersamanya gue pun ikut hadir dan menikmati setiap momen itu.

" ...Karena bersama lo, gue pun ikut hadir di momen saat ini." Suara gue rendah, tapi gue yakin saat itu Mika mendengarnya karena mata sendu itu terkunci di mata gue.

"Aku hanya menikmati apa yang aku rasakan," sahutnya, dengan senyum yang menghangatkan hati gue yang dingin. "Aku nggak tahu hari besok akan seperti apa, karena itulah aku menikmati hari ini, karena aku takut melewatkan sesuatu hal yang penting."

Gue sudah melewatkan banyak hal. Gue sepenuhnya sadar. Namun, gue hanya apatis saja dengan kehidupan. Karena bagi gue, gue nggak merasa sepenting itu di dunia ini semenjak dia tak lagi sama seperti yang dulu gue kenal. Dia begitu membenci gue, dan mungkin nggak akan pernah memaafkan lelaki bejat ini.

Malam itu, gue mengakhiri percakapan dengan Mika. Gue mengajaknya pulang tanpa ada tawa lagi, karena gue kembali ke versi Arki yang kelam. Perkataan terakhir Mika membuat suasana hati gue buruk.

Perkataannya nggak salah, bahkan nggak ada yang salah dengan semua yang dia ucapkan. Diri gue yang bermasalah, batin gue yang kurang menerima bahwa kita memang nggak boleh melewatkan sesuatu yang penting. Mendengarnya berkata demikian membuat gue sadar akan banyak hal yang terlewatkan, makanya suasana hati gue langsung cacat. Semakin banyak hal yang berkelana dalam pikiran membuat gue nggak mau berbicara dengan siapapun termasuk Mami yang menyambut kepulangan gue.

Baru saja gue masuk ke dalam kamar. Gue melihat ada panggilan masuk di layar handphone. Jeka is calling ....

"Halo?"

"Halo, Ki. Gue mau ngasih kabar."

"Kabar apa?"

"Reiga ... Dia pulang ke Indo beberapa hari yang lalu."

Jantung gue rasanya seperti berhenti berdetak mendengar nama itu. Seluruh aliran darah seolah mengarah ke ubun-ubun hingga wajah gue keras menahan amarah yang menggebu-gebu di dada. Karena emosi yang nggak terbendung, gue melemparkan benda pipih itu sampai retak di layarnya makin parah.

"ARRGHHH!"

Bajingan itu masih berani hidup rupanya!

𓂃 bersambung 𓂃

note : jangan lupa vote dan komen ya!

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang