part 22 : putus?

114 29 6
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

Arki : gue pulang duluan, ada urusan mendadak, nanti gue kabarin lagi.

Itu adalah pesan terakhir yang Arki kirimkan sebelum beberapa hari tanpa kabar. Ya, Arki menghilang lagi setelah sekian lama wara-wiri tanpa absen di sekitarku. Sampai tiba waktunya urutan peringkat seluruh siswa SMA Garwana dipajang di mading utama sekolah yang letaknya di lobi, dan sampai detik ini pun aku nggak melihat Arki dimana pun.

Aku rela berdesak-desakan untuk melihat peringkatku di mading ke tiga, khusus untuk kelas 12. Memajang peringkat seluruh siswa di mading memang salah satu kultur di SMA Garwana, tujuannya untuk membuat para siswa berambisi dan berusaha keras agar namanya berada paling atas. Makanya, dalam bidang akademi persaingan di SMA Garwana itu sangat ketat. Namun, baru kali ini aku tertarik untuk ikut berambisi, itu pun karena Arki akan memberiku hadiah.

Alih-alih mencari-cari namaku sendiri, perhatianku tercuri oleh nama yang tercetak besar pada kertas yang di tempel paling atas, yang dibuat khusus untuk mereka yang berada di peringkat umum. Aku menutup mulut nggak percaya, Arki berada di urutan kedua juara umum, dan yang ke satunya adalah Naya, yang memang langganan juara umum.

Meskipun aku kaget melihat peringkat Arki yang naik drastis dari sebelumnya, aku lebih kaget lagi melihat peringkatku sendiri. Apa aku bilang? Usaha nggak mengkhianati hasil. Aku berada di urutan 10 di peringkat kelas. Aku nggak berhenti tersenyum kesenangan. Rasanya puas melihat peningkatanku. Kenapa pula aku nggak belajar sungguh-sungguh dari dulu kalau rasanya akan semenyenangkan ini ketika mendapatkan peringkat bagus? Ya ... penyesalan memang selalu ada di bagian akhir.

"Kenapa senyum-senyum sendiri, Mbak?" tanya Willa, yang baru saja datang entah darimana.

"Kamu udah lihat peringkat di mading?" kilahku, mengabaikan pertanyaannya.

Willa duduk di bangkunya seolah baru beristirahat dari hal yang melelahkan. "Oh udah dipajang? Aku baru tahu."

Willa tampak biasa saja tatkala mendengar kabar itu. Temanku itu nggak mengkhawatirkan peringkatnya akan turun karena memang usahanya dalam belajar jauh lebih giat daripada aku. Dan benar saja, Willa masih berada di peringkat yang sama seperti semester-semester sebelumnya.

"Kamu peringkat berapa, Mik?" tanyanya.

"Coba tebak." Aku tersenyum penuh arti.

"Alah, palingan mentok di 20, kan?"

"Aku peringkat ke-10."

"SERIUS?!"

Reaksi Willa diluar dugaanku. Yang awalnya dia terkesan meremehkanku, kini dia menutup mulutnya dengan wajah yang terkejut. "Loncatnya jauh banget, Mika. Ya ampun! Kamu dapet hidayah dari mana?"

Aku tertawa renyah. "Aku belajar dengan benar."

"Wah!" Mulut Willa sampai terbuka dengan wajah yang begitu ekspresif menunjukkan kekagumannya terhadap pencapaianku. "Ini langka banget, Mik. Serius! Kamu kerennn!"

"Kalau aja otak kamu dipakainya dari dulu," celetuknya kemudian.

Aku memberenggut, nggak terima. "Emang dari dulu aku nggak pakai otak?"

Willa menunjukkan cengiran khasnya. "Bercanda!"

"Tapi ada yang lebih bikin terkejut daripada peringkatku," kilahku.

"Apa tuh?"

"Arki juara dua umum."

Sesuai dugaanku, Willa jauh lebih terkejut lagi. Bahkan kali ini ia hampir berteriak. "GILAK?!"

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang