part 04 : tengil

171 28 8
                                        

𓂃 selamat membaca 𓂃

Mika

"Kak Mika!"

Suara panggilan itu terdengar ceria ketika aku masuk ke pintu pagar bersamaan dengan sepedaku yang aku dorong sejak dari sekolah. Senyumku langsung mekar saat melihat wajah Farla di teras rumah.

"Hai, Farlaaa!" Aku menyapanya dengan antusias.

"Kak Mika baru pulang? Kok lama?" tanyanya, dengan wajah sedikit murung.

"Iya ... Aku jalan kaki. Rantai sepedanya nggak bisa aku perbaiki. Jadi, lama deh sampai rumah."

Farla harus mendongak untuk memperhatikanku berbicara karena ia duduk di kursi roda. Ya, di umurnya yang sudah 14 tahun, Farla harus kehilangan kemampuannya untuk berjalan atau lumpuh. Hati Farla cukup besar untuk menerima takdirnya, terlebih itu adalah salahku. Aku yang membuatnya nggak bisa lagi berjalan dan harus duduk di kursi roda setiap hari sejak tiga tahun yang lalu.

"Mama ada di dalam?" tanyaku, kini aku berjongkok di depannya, membersihkan butiran-butiran kue di pahanya.

"Ada."

"Papa udah pulang?"

"Hari ini katanya Papa harus lembur."

"Farlo?"

"Dia juga baru pulang."

Farla memiliki saudara kembar, namanya Farlo. Kepribadiannya sangat bertolak belakang dengan Farla. Farlo sedikit cuek, jarang berekspresi, dan wajahnya lebih mirip Papa. Sedangkan Farla lebih mirip Mama. Mereka ganteng dan cantik.

"Udah mulai gelap nih. Masuk, yuk!" ajakku.

Belum aku meraih kursi rodanya, Mama tiba-tiba muncul dan menyingkirkanku untuk menjauh. "Nggak usah, biar saya yang bawa Farla masuk!" ucapnya tajam.

"Ma ...," tegur Farla.

"Kamu mau makan apa, Farla? Soto ayam? Tumis tempe? Atau ayam goreng?" Tetiba nada bicaranya begitu hangat dan tak menghiraukan teguran Farla.

Aku ingat sekali ekspresi Mama barusan sangat masam kepadaku. Nada bicaranya pun ketus dan tajam. Memang biasanya seperti itu, jadi aku nggak kaget sama sekali. Wajar Mama berlaku demikian. Aku yang bukan siapa-siapa di rumah ini pernah melukai anaknya. Memangnya ibu mana yang nggak marah ketika anaknya terluka oleh orang lain?

"Mama, jangan gitu sama Kak Mika."

"Kita makan ya ...? Mama udah siapkan makan malam untuk kamu."

Samar-samar aku masih mendengar suara percakapan mereka. Mama masih pura-pura nggak mendengar apa yang Farla ucapkan tentang aku. Sama seperti ketika Mama nggak ingin peduli seberapa keras aku berusaha untuk dimaafkan. Dan sampai sekarang pun Mama rupanya belum memaafkanku atau mungkin nggak pernah ingin memaafkan.

Seperti malam-malam biasanya. Aku sangat jarang bergabung untuk makan malam atau sarapan pagi dengan keluarga. Aku hanya akan makan ketika mereka sudah selesai. Itu pun kalau masih ada sisa, kalau nggak, paling aku rebus mie instan saja.

Seperti sekarang, aku merebus mie instan dan memakannya di kamar, sambil nonton lewat layar 14 inch di hadapanku. Kebetulan, posisi meja belajarku dekat dengan jendela kamar. Aku membuka jendela untuk merasakan angin malam.

Angin yang cukup kencang mengibaskan puring tirai, sehingga mengganggu kegiatanku. Ketika aku memperbaikinya, nggak sengaja aku melihat dua pemuda yang sedang berbincang di sebuah balkon. Yang satu duduk di kursi kayu, yang satunya lagi bersandar pada traling. Samar-samar aku mendengar suara tawa yang nggak asing dan terdengar menyebalkan. Itu suara Arki, aku tahu karena wajahnya terlihat jelas oleh retinaku.

Makna "Kita dan Luka"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang