Hidup Samira luluh-lantak , tak dapat di selamatkan, dan berakhir dengan badai perceraian. Kemarahan orang tua yang dia terima, dan tidak ada kawan yang bisa mempertahankan sisi kewarasan. Nyaris membenci semua orang dan mengobarkan kemarahan dengan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melihat Lili yang bergelanyut manja pada Mataharri, sungguh Samira tidak iri sama sekali .
Dulu sekali, setiap melihat kebersamaan seorang Ibu dan anak, hatinya terselip marah dan iri.
Tuhan tidak memberi Samira keistimewaan serupa, sehingga Samira sungguh-sungguh merasa rendah diri.
Terlebih Harris mencampakkannya dengan alasan seorang anak.
Tapi entah apa yang di lakukan oleh emak-emak berjiwa cerah itu, sehingga melihat Lili dan Mataharri, hati Samira merasa ikut bahagia.
Cara Mataharri mengenalkan Samira pada Lili, juga membuat Samira merasa di hargai, di inginkan dan istimewa . Haru sekali anak Bapak Ridwan Yazid itu.
Tidak semua orang minus commonsense kayak Harris, remember Samira ?
Samira mendengkus daam hati, masih saja mengaitkan hidupnya dengan laki-laki aneh yg menghancurkannya itu.
"Lili mau berangkat les dulu tante Miya "
Uluran tangan Lili memutus lamunan Samira.
Mataharri paham apa yang sedang membuat kosong tatapan Samira, sebab itu menyuruh Lili untuk pamitan pada Samira.
Menghembus nafas pelan-pelan, Mataharri merasakan sesak di dadanya.
Malang sekali nasib sahabatnya ini.
***
"Lili masih kecil banget untuk ukuran umuran kita yang udah 40. Kami hamil Lili waktu umur berapa ?"
Nada tanya Samira biasa saja.
Bahkan sambil mengemut nanas madu yang tadi di lumuri dengan bumbu rujak .
Mataharri menatap Samira lama.
"Aku enggak pernah hamil Lili"
Jawaban Mataharri membuat Samira tersedak nanas madu, hidungnya sampai terasa perih sekali .
Mataharri dengan panik menepuk-nepuk punggung Samira dan mengulurkan air putih yang langsung di teguk dalam tegukn besar oleh Samira .
"Ri.. ya Allah, nyaris mati gegara nenas madu "
Samira sudah letih mau marah dengan Mataharri,
Jadi biarkan saja , Samira jengkel sekali.
"Maksud kami gimana sih Ri ? Kalo ngomong yang jelas " keluh Samira , masih membersit hidungnya yang perih.
"Ya enggak ada maksud apa-apa. Aku emang enggak pernah hamil Lili"
Samira menatapnya bingung.
"Ataupun Daisy" Mataharri menyebutkan lagi mama anaknya yang lain.
Samira mengerjap bingung.
"Semua anak adopsi, Miya. Dari mereka bayi. Kami enggak bisa punya baby, itu kenyataan - bukan ghibah"
Samira membola.
"Serius ?" Bisik Samira , pelan sekali.
Mataharri mengangguk. Menghela nafas pelan, menepuk punggung tangan Samira.
"Semua enggak melulu tentang darah. Kasih sayang buatku lebih kuat daripada ikatan darah. Ada hibungan darah itu bonus"
"Kamu enggak di tinggal nikah Evan ?" Tanya Samira , lugu.
Mataharri sampai ngakak diantara suasana sendu.
Mataharri memeluk Samira sekilas.
"Aku sayang banget sama Evan. Dia bisa nerima semua kekurangan dan kelebihanku. Lagipun kami menikah bukan dg niat beranak pinak saja. Kami niatkan beribadah . Anak itu bonus"
"Aku dan Harris juga seperti itu ! Tapi lihat apa yang Harris perbuat , dia mencampakkan aku sesudah tau aku cacat !" Bantah Samira cepat.
Mataharri menatapnya.
"Kamu enggak cacat"
"Aku cacat ! " Samira tersengal.
Bayangan paling kelam kembali berputar di kepalanya, saat-saat Harris mulai membagi semuanya . Menghantam tanpa ampun.
Mataharri memeluknya.
"Semua udah baik-baik saja.." Mataharri yang terisak keras.
"Buat haris mungkin Miya cacat, tapi buatku, Miya tetap seberharga dulu. Biar saja Harris dengan semua sikapnya, Miya enggak perlu lagi ingat-ingat, ya ?"
Samira terisak.
"Aku enggak mau kaki di tinggalin Evan kayak Harris ninggalin aku "
Mataharri tertawa di antara tangisnya.
"Enggak akan . Aku emncintai Evan dan juga menerima semua kekurangan kelebihannya, seperti Evan menerimaku selama ini"
"..."
"Aku enggak akan ninggalin Evan, laki-laki baik yang sudi membersamai aku yang miskin dan enggak pintar. Membimbingku jadi perempuan yang membaiki diriku pelan-pelan"
"...."
"Evan yang enggak bisa punya anak, Miya. Tapi berharga tidaknya seseorang bukan di tentukan oleh bisa tidaknya dia memberi keturunan. Itu namanya kita ada pamrih"