Empat Belas | Way Back Home

1K 59 1
                                        


Selamat membaca 🌸

Dalam menjalani setiap step hidup, Samira banyak melupakan cara bersyukur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dalam menjalani setiap step hidup, Samira banyak melupakan cara bersyukur. Itu di akuinya sekarang. Mengejar target ketika menikah muda, ingin menunjukkan kemampuan dan eksistensi pada orang lain, hingga Samira lupa cara bahagia dengan semua kemudahan hidup, yang harusnya tidak susah untuk Samira melakukannya.

Ketika Sore itu , Radana menunjukkan pada Samira hamparan pantai , dengan pasir hitam yang lembut, jilatan ombak dan angin sepoi menampar lembut tubuhnya, Samira baru teringat bau laut yang sangat di sukainya sejak kecil. Matahari yang hangat menyiram punggungnya, dan dengan hati yang seringan kapas, tertawa bahagia melihat tumpukan pasir yang di kumpulkannya, hancur tersapu ombak, berkali-kali.

"Aku enggak perlu bilang lagi kan ? Kamu harus bahagia, Samira "

Sore itu mereka duduk di hamparan pasir, dengan ombak berdebur dan hamparan biru tosca laut sepanjang mata memandang.

Samira menatap Radana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Samira menatap Radana.

Laki-laki sederhana dengan kedewasaan dan kebijaksanaan. Masuk pelan dalam hidupnya . Mengajarkannya kesederhaaan berpikir dan berperasaan.

"Aku nggak ngerti gimana beratnya kisahmu dengan Harris. Tapi aku nggak mau kamu sibuk dengan masa lalu dan ingat yang terburuk. Aku nggak ajak kamu untuk jadi wali. Tapi aku cuma mau kamu berfikir positif dan membahagiakan diri sendiri, Samira "

"Kamu tidak kurang apa-apa. Kamu cantik. Kamu baik"

"Ayo , jangan berpikir negatif"

"Ayo, nggak boleh mikir kayak gitu"

"Coba cerita apa yang membuatmu buntu . Kita selesaikan satu-satu. Jangan semua di generalisir kemudian bikin kamu badmood , siapa yang rugi ? Ayo bahagia, Samira "

"Apa kau akan bahagia jika melihat Harris menderita ? Lau kalau Tuhan takdirkan di matamu Harris bahagia, apa kau akan terus tidak bahagia ?"

Airmata Samira terjatuh.

Sekuat apapun dia menyangkal tidak lagi peduli dengan Harris, tapi jauh di sudut hatinya, Samira menyimpan luka dan amarah yang tidak usai.

Banyak hal yang harus dia lewati dan semua terasa sangat berat hingga mencengkram dadanya.

Kedewasaannya tidak tumbuh seiring dengan kemarahannya pada takdir. Hatinya penuh dendam dan sakit hati . Melihat Harris bahagia dengan 2 anaknya , seolah bisa melewati hidup tanpa merasa bersalah pada Samira, menumbuhkan dendam yang merayapi hati Samira.

Kenapa harus Samira ? Hatinya bertanya . Seolah lupa, bahwa takdir Tuhan , sudah tertulis di Lauhul Mahfudz untuk aemua cerita kehidupan manusia.

Menggoreskan kecil tulisan di pantai, Samira memandang sepupu nya yang juga menatapnya sambil tersenyum.

Hidup memang tidak akan mudah sebab setiap yang hidup pasti akan menghadapi ujian. Tapi setidaknya Samira mengerti, jika dia harus meletakkan kepasrahan dan kerelaan pada TakdirNya, serumit apapun , Tuhan punya cara menyelesaikannya.

Samira tau bagaimana meletakkan harapan pada manusia, dan Samira hancur tidak bersisa.

Kini, Samira mencoba berdiri dan meletakkan harapan pada Tuhannya, bersama orang-orang yang menyayanginya tanpa berharap balasan apapun darinya.

Samira .....pulang .

TBC

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

TBC

Rumah Samira Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang