16 - Homesick

455 34 1
                                        

Setelah seminggu lebih aku mengawasi para trainee di Jepang, akhirnya aku bisa kembali ke Indonesia. Selama di Jepang, aku lebih banyak merenung soal hubunganku dengan Lyn. Tapi, aku juga menjadi lebih dekat dengan Chika. Kalau aku ceritakan ini ke Dey dan Sam, sudah pasti habis aku dimaki-makin olehnya. Untung lah Chika pulang terlebih dahulu ke Indonesia.

Aku menatap Sungai Sumida. Kenangan masa lalu kembali datang. Kala itu, ketika Fiony meninggalkanku karena urusan di Indonesia. Aku menghabiskan waktu berjam-jam menatap arus sungai yang tenang. Pikiranku saat itu sedang kalut. Rasa khawatir dan takut menghantuiku. Untunglah tidak terjadi apa-apa dengan Fiony.

Sekarang, aku kembali menatap sungai itu. Di benakku kali ini ada Lyn dan Fiony. Masih sulit rasanya melepaskan Fiony dari pikiranku. Tapi Lyn juga ada di sana. Aku dilema. Jika kita berbicara secara realistis, aku seharusnya memilih Lyn. Tapi pikiranku tidak serealistis itu. Aku masih berharap ada Fiony di sisiku. Bahkan Viana mengatakan agar aku menikmati hidup baru dengan Lyn yang bukan sebagai pengganti posisi Fiony.

"Sendirian aja Kak?"

Panjang umur Viana.

"Iya... Kamu ngapain di sini?"

"Jalan-jalan sama temen. Kebetulan ada kakak di sini. Kakak kapan balik ke Indonesia?"

"Besok."

"Ooo... Yaudah, kakak lanjutin aja bengongnya, aku pergi dulu hehehe. Dahh!"

Viana melambaikan tangannya kepadaku.

Aku tersenyum membalasnya. Gerak geriknya mirip dengan Fiony setiapkali berpisah denganku. Memang genetik ya.

Sepertinya aku harus kembali ke apartemen dan mulai packing. Hari juga sudah mulai gelap.

Aku berjalan menyusuri Kota Tokyo. Beberapa kilometer jauhnya menuju ke apartemenku. Aku tidak ingin menggunakan kendaraan umum. Bukan karena tidak ada duit. Tapi aku ingin menikmati kota ini sekali lagi. Berjalan menyusuri sudut-sudut kota sendirian. Tidak lagi bersama orang yang selalu menemaniku. Dulu, favorit kami saat libur adalah berjalan keliling kota. Seperti yang aku lakukan sekarang.

Aku sampai setelah berjalan sekitar satu jam. Semua barang yang harus dibawa kembali ke Indonesia aku masukkan ke dalam koper. Tidak tau kapan lagi aku akan kembali ke Jepang. Setelah ini, aku mungkin akan tinggal di Indonesia saja.

Ada rasa rindu di lubuk hatiku. Rindu dengan rumah. Tapi tidak tau rumah yang mana. Aku memiliki banyak sekali rumah. Entah rindu dengan rumah ayahku, apartemenku di Indonesia, apartemenku yang di Jepang, rumah Fiony, atau rumah Lyn. Aku tidak tau yang mana.

***

Aku terbangun di pagi hari. Tanpa kusadari, aku tertidur di kasurku. Aku melihat ke arah meja kecil di samping tempat tidur. Gelas dan botol sake. Sudah kuduga, aku meneguk itu tanpa sadar. Untunglah aku tidak sampai mabuk. Hanya ketiduran saja semalam. Mungkin.

Malam ini aku kembali ke Indonesia. Sepertinya aku harus berpamitan dengan Fiony. Tapi apa aku kuat untuk melihat makamnya? Seperti dulu saat awal-awal ibuku meninggal, aku tidak kuat kesana. Bodo amat lah, aku akan berpamitan dengannya.

Dengan langkah yang sedikit khawatir aku berjalan. Aku khawatir dengan diriku sendiri jika nanti tidak kuat menahan rasa sedih. Tapi, ayo lah. Aku sudah biasa berbicara dengan ibuku atau memikirkan Fiony di tengah malam. Seharusnya aku bisa.

Aku akhirnya sampai di makam gadis yang aku cintai pertama kali seumur hidup.

"Hai, Fiony? Harusnya kamu gak di sini. Kita bisa ketemuan di restoran biasa. Atau mungkin di taman. Di tempat baru juga bisa! Tapi kita harus ketemu di sini."

Fall In Love AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang