*Third POV*
Matahari telah terbit. Semalaman Vano tidak bisa tidur. Kantung matanya terpampang jelas. Ia merasakan sebuah ganjalan di hatinya. Ia ingin menangis, tapi tidak ada tempat untuknya. Mungkin Chika bisa menjadi sandarannya. Tapi hati Vano berkata lain. Menunggu kabar kematian sahabatnya seolah memberinya harapan bahwa Sam masih hidup. Vano tau dan sadar betul, Sam tidak mungkin selamat. Tapi hati kecilnya berharap Sam mendapat keajaiban yang di luar akal sehat.
Chika, tepat di sebelah Vano, ia tak henti-hentinya memikirkan mimpi yang datang. Meskipun ia tidak tau siapa dia, tapi Chika betul-betul merasa tertampar. Ia memikirkan ulang caranya untuk mendapatkan Vano. Apa selama ini caranya salah? Padahal Vano tinggal sedikit lagi menjadi milik Chika. Ingat tadi Dey bilang apa? Mereka berdua cocok. Perkataan itu membuat Chika bersemangat. Tapi mengingat mimpinya tadi, Chika mungkin tidak seharusnya memiliki ruang untuk Vano.
Di tempat yang jauh, Lyn sedang berusaha dengan kehancuran hatinya sendiri. Sudah seminggu ia tidak keluar kamar sejak kembali dari Bandung. Tubuhnya yang sudah kurus kini semakin kurus. Wajahnya pucat. Ada banyak tisu berserakan. Dan beberapa obat-obatan. Ya, obat tidur. Ia kesulitan untuk tidur. Tapi setiap kali terlelap, ia bisa melupakan masalah kebodohannya. Entah berapa lama ia bisa bertahan sampai tubuhnya benar-benar hancur.
Kembali dengan Vano. Ia merasakan tarikan yang luar biasa untuk meninggalkan bandara. Tapi ia ingin terus berada di tempat ini. Info yang ia tunggu belum juga muncul. Sejauh apapun ia berharap, jawabannya sudah jelas. Yang ia mau hanyalah kepastian saja.
Hal yang berbeda justru dipikirkan oleh Chika. Ia hanya ingin bersama dengan Vano, tidak peduli kemanapun pria itu pergi. Meskipun ia sudah tidak enak hati untuk tetap bersamanya. Gadis yang muncul di mimpinya seolah membatasi hubungan mereka. Chika tidak ingin mempedulikannya. Sekali lagi, ia hanya ingin bersama Vano. Apapun keadaannya. Bahkan jika harus membuatnya bercerai dari Lyn detik ini juga.
*Vano POV*
Aku berharap tentang hal yang mustahil. Aku hanya ingin segera mendapat kepastian tewasnya sahabatku. Lalu aku ingin pergi. Entah kemana. Aku tidak tahan di sini. Suasananya tidak bisa membuatku tenang sama sekali. Aku butuh ketenangan. Tapi dimana? Tempat sepi sekalipun tidak bisa membuatku tenang. Kepalaku begitu berisik. Entah apa isinya.
Aku penasaran, dimana aku menyimpan album foto saat sekolah dulu. Aku ingin mengenang momen bersama sahabatku.
Sial. Tahun ini benar-benar tahun terburuk. Dari awal hingga penghujung tahun, aku kehilangan semua orang yang aku cintai. Keluarga, pacar, sahabat. Sial. Sekarang aku paham arti dari hidup itu tidak adil. Benar kata Patrick, aku harus membiasakan diriku.
Di sebelahku masih ada Chika. Sejak terbangun dari tidurnya ia menjadi sangat diam. Padahal dari kemarin ia paling bawel untuk membuatku tenang. Meskipun aku terkadang merasa sedikit terganggu sih. Padahal seharusnya tidak begitu. Anehnya aku rindu dengan kehangatan Lyn saat aku sedih. Apa aku harus kembali dengannya? Tapi aku sudah terlalu kecewa. Untuk kesekian kalinya aku kecewa dengannya.
"Eh cepet cepet! Ada yang baru dateng!"
Aku mendengar suara seorang pria yang lewat di sampingku sambil berlari ke arah pintu masuk. Siapa yang baru datang? Lebih baik aku pergi kesana untuk memenuhi rasa penasaranku.
"Selamat pagi bapak ibu sekalian. Saya mewakili tim SAR yang bertugas, ingin menyampaikan bahwa beberapa korban tewas telah ditemukan."
Seketika semua keluarga korban gaduh. Semuanya penasaran, korban siapa yang ditemukan.
"Tenang dulu bapak ibu semuanya, biarkan saya membacakan nama-nama korban yang sudah ditemukan."
Suasana kembali tenang. Rasa tegang menyelimuti kami semua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love Again
RomansMenikah tanpa rasa itu menyakitkan. Setiap kali aku mencintai, semuanya menghilang begitu saja.
